TAFSIR
AL QUR’AN TENTANG KARAKTERISTIK PENDIDIK
Di ajukan untuk memenuhi tugas perkuliahan mata kuliah Tafsir Tarbawi semester IV
tahun ajaran 2018/2019
Di ajukan untuk memenuhi tugas perkuliahan mata kuliah Tafsir Tarbawi semester IV
tahun ajaran 2018/2019
Dosen
Pembimbing : Mimin Mintarsih, M.Ag.
![]() |
Disusun
oleh kelompok 1 :
1. Asep Sukirman :
0101.1701.087
2. Cucu
Kholifah Siti Sa’adah : 0101.1701.088
3. Hasanudin :
0101.1701.094
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
STAI DR KHEZ MUTTAQIEN
PURWAKARTA
2019
STAI DR KHEZ MUTTAQIEN
PURWAKARTA
2019
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
LATAR
BELAKANG
Pendidikan merupakan suatu sarana dasar
yang sangat penting dan berpengaruh dalam upaya meningkatkan kualitas manusia.
Dan tentunya sebuah pendidikan tidak lepas dari adanya peran pendidik sebagai pemilik
dan penyampai ilmu atau pesan.
Islam sendiri sangat menjunjung tinggi
seorang pendidik, di mana Allah yang telah menjadikan Nabi Muhammad sebagai
teladan serta sebagai pendidik bagi sahabat-sahabat beliau pada zamannya,
bahkan sampai sekarang karakteristik
beliau dalam mendidik menjadi
teldan bagi seluruh umat Islam di dunia.
Dewasa ini, para pendidik sedikit harus
lebih menyadari perannya, yang bukan hanya sekedar mentransfer ilmu/informasi,
sesudah itu dia lepas tangan tidak mau tahu apa yang terjadi terhadap ilmu yang
di berikan kepada anak didiknya.
Maka lebih dalam lagi, bahwa seorang
pendidik terkhusus bagi kaum muslim
haruslah menempatkan Allah SWT sebagai Rabb-Nya yang memiliki ilmu, menjadikan Al-Qur’an
sebagai pegangan hidupnya, serta Rasulullah SAW sebagai teladan baginya.
Sehingga ilmu yang di ajarkan tidaklah menjadi seperti angin lalu atau sia-sia.
RUMUSAN MASALAH
1. Apa
yang di maksud dengan karakteristik?
2. Apa
saja karakteristik pendidik menurut Al Qur’an?
3. Apa
adab seorang pendidik?
TUJUAN PENULISAN
1. Untuk
mengetahui pengertian dari karakteristik
2. Mengetahui
macam-macam karakteristik pendidik menurut Al Qur’an
3.
Mengetahui adab-adab
bagi seorang pendidik
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
1.
PENGERTIAN
KARAKTERISTIK
Apa itu karakteristik?
Seperti apa contoh sederhana dari karakteristik? Sebagian pertanyaan yang
mungkin tidak semua orang bisa menjawabnya dengan tepat.
Dalam KBBI, arti dari karakteristik
adalah mempunyai sifat khas sesuai dengan perwatakan tertentu. Dengan
kata lain, karakteristik merupakan fitur pembeda antara yang satu dengan yang
lain (Kualitas/Sifat), yang dibedakannya dari bentuk, struktur, pola dll, atau sesuatu yang mencolok.
Dan sebagai sesuatu yang bisa
menarik perhatian orang lain.
2. AL QUR’AN SEBAGAI SUMBER
ILMU
Seorang pendidik harus
menjadikan Al Qur’an sebagai pegangan mengajarnya, dan menempatkannya sebagai
sumber dasar ilmu. Bahkan tidak
berlebihan juga jika Al Qur’an di katakan sebagai kurikulum pendidikan (Islam).
Maksudnya
adalah dengan membawa nilai-nilai Al Qur’an di mana pun, maka akan senantiasa
terjaga dari hal yang tidak di inginkan ketika mendidik atau mengajar.
Rasulullah SAW di
katakan bahwa beliau selalu mendidik sahabat-sahabatnya berdasarkan Al Qur’an,
maka jelas bahwa Al Qur’an harus di jadikan pegangan bagi seorang pendidik. Begitu
juga para Nabi dan Rasul Allah di utus selain untuk membawa risalah tauhid, juga
untuk mendidik manusia agar mengenal adab atau sopan santun serta penyempurnaan
akhlak agar menjadi lebih baik. Agar memperoleh pemahaman dan bisa beramal
shaleh. Rasulullah sendiri sudah memberikan manusia jalan agar selamat dunia
akhirat, agar berpegang kepada Al Qur’an dan Sunnah Nabi.
Beliau bersabda :
تَرَكْتُ فِيْكُمْ
أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ
رَسُوْلِهِ
“Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua hal, kalian tidak akan
tersesat setelah (kalian bepergian teguh pada) keduanya, Kitabullah dan
Sunnahku.” [1] (HR. At-Thabrani)
Allah SWT berfirman
dalam Al Qur’an :
هَٰذَا بَصَائِرُ
لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“(Al-Qur’an)
ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” ( QS.
Al
Jatsiya:
20 )
Dan juga
penerapan pendidikan Islam zaman Rasulullah selalu berlandaskan Al Qur’an dan
diimplementasikan dalam perilaku Rasulullah langsung.
3.
KARAKTERISTIK
PENDIDIK MENURUT AL QUR’AN
Al Qur’an adalah sumber
ilmu yang sangat lengkap serta menyeluruh, termasuk juga membahas karakteristik
bagi seorang pendidik/pengajar.
Lantas bagaimana Al
Qur’an menetapkan karakteristik bagi pendidik? Maka kami rangkum sebagai
berikut secara garis besarnya, yang semoga Allah ridha dan mengampuni jika kami
salah.
Poin penting karakteristik menurut Al
Qur’an adalah :
1.
Iman
dan Takwa
Sangat
jelas bahwa semua umat Islam dalam melakukan sesuatu harus menjadikan iman
sebagai benteng bagi dirinya. Tanpa Iman, maka amal baiknya akan sia-sia. Dan
juga dengan keimanan, bisa membedakan mana hak yang akan bermanfaat sampai
akhirat nanti dan mana yang batil yang sungguh tidak ada manfaatnya.
Allah SWT berfirman dalam
surat Al Baqarah ayat 42 :
وَلَا تَلْبِسُوا
الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan
janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu
sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.” (QS. Al Baqarah : 42)
Dalam tafsirnya, Imam
Ibnu Katsir mengutip pendapat dari Ibnu ‘Abbas, yaitu: “janganlah mencampuradukkan
kebenaran dengan lebohongan”.
Sementara dari Qatadah
mengatakan, “ jangan mencampurkan ajaran Yahudi dan Nasrani dengan ajaran
Islam”. Di sini di tekankan agar keimanan yang ada pada kita harus mengiringi
dengan apa yang akan kita ajarkan, yakni berdasarkan iman kepada Allah yang Hak
agar senantiasa membimbing kita dalam mengajar.
Dalam Tafsir Al
Muyassar senada dengan pendapat dari Ibnu ‘Abbas, dikatakan bahwa yang dimaksud
“Dan janganlah kamu campur adukkan
kebenaran dengan kebatilan” adalah jangan mencampuradukkan kebenaran yang
Aku jelaskan kepada kalian dengan kebatilan yang kalaian buat-buat.
Lain hal dalam Tafsir
al Jailani, yang dimaksud “dan janganlah
kamu campur adukkan kebenaran” yaitu yang sudah jelas dan pasti, dan “dengan kebatilan” yaitu yang masih
diragukan; akan tetapi mempesona yang tidak memiliki kemampuan untuk
membedakan.[2]
Pada dasarnya, semua
pengetahuan serta proses pendidikan adalah Tauhid,
yang menjadi awal dan akhir semua pengetahuan manusia.
Allah berfirman :
إِنَّمَا إِلَٰهُكُمُ
اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا
“Sungguh,
Tuhanmu hanyalah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Pengetahuannya meliputi
segala sesuatu.” (QS. Thaha : 98)
Ilmu yang kita punya
semata-mata hanyalah milik Allah, pemberian dari Allah. Dan jika kita
menganggap bahwa ilmu kita adalah hasil dari usaha sendiri tanpa disertai adanya
campur tangan Allah, maka kisah dari Qarun sudah menjadi sebuah pelajaran.
Berilmu namun tidak beriman.
Maka dari itu, tanamkanlah
Iman dan juga Taqwa
kepada Allah. Allah berfirman :
قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا
عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
Artinya: “Mereka menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak
ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh
Engkaulah yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (QS. Al Baqarah : 32)
Dan sebuah sunnatullah bagi manusia bahwa siapa
yang beriman pasti akan beruntung, itulah akar agama Islam. Namun tentu, iman
juga harus disertai dengan amal sholeh, makannya ayat-ayat Al Qur’an sering
sekali mendekatkan kata Iman dan amal sholeh.
Firman Allah SWT :
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآمَنُوا
بِمَا نُزِّلَ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۙ كَفَّرَ
عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ
Artinya: “Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah)
dan mengerjakan kebajikan serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada
Muhammad, dan itulah kebenaran dari mereka; Allah menghapus kesalahan-kesalahan
mereka, dan memperbaiki keadaan mereka.”
(QS. Muhammad : 2)
(QS. Muhammad : 2)
Agar keimanan dapat
terasa manisnya, Rasulullah sudah menjelaskan dalam haditsnya; “ada tiga hal yang apabila ketiganya
dimiliki seseorang maka ia akan merasakan manisnya keimanan: hendaklah Allah
dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada apapun selain keduanya, mencintai
seseorang hanya karena Allah dan benci apabila harus kembali kepada kekufuran,
sebagaimana ia tidak mau dimasukkan ke dalam nyala api.”
Dalam hadits yang
terdapat di Hadits Arba’in di sebutkan,
Nabi SAW bersabda :
Dari Abu Zar, Jundub
bin Junadah dan Abu Abdurrahman, dan Mu’az bin Jabal radhiallahuanhuma dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, iringilah keburukan
dengan kebaikan yang dapat menghapusnya dan pergauilah manusia dengan akhlak
yang baik .“ (HR Turmudzi)[3]
Tentang Taqwa sendiri, Allah SWT
berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman. Bertakwalah
kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati
kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS.
‘Ali ‘Imran : 102)
Tafsir Al
Muyassar menafsirkan, takutlah dengan sebenar-benar takut yaitu dengan
mentaati-Nya dan tidak mendurhakai-Nya. Senada dengan perkataan sahabat Nabi
Abdullah bin Mas’ud tentang ayat ini yaitu “mentaati dan tidak mendurhakai
Allah, mengingat-Nya dan tidak sesaatpun lupa, serta mensyukuri nikmat-Nya dan
tidak satupun yang diingkari.”
Imam Ibntu
Katsir mengutip pendapat dari Ibnu ‘Abbas yaitu; “jihad di jalan Allah dengan
tidak merasa takut terhadap celaan.”
Tentang
keutamaan taqwa Allah berfirman dalam Al Qur’an:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ
وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ
أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan
kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia
diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujuraat : 13)
Syekh
Utsaimin mengatakan bahwa Allah Ta’ala
tidak pernah memandang manusia dari segi nasab, kedudukan, hartanya, dan
kecantikannya (wajahnya). Namun Allah memandang dari amal-amalnya. Maka yang
paling mulia adalah yang paling bertakwa.[4]
2. Akhlak Yang Baik
Hendaknya
seorang muslim termasuk seorang pendidik harus menghiasi dirinya dengan
akhlak-akhlak.
Nabi SAW bersabda:
“Sesungguhnya
aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak mulia.” (HR.
Ahmad)
Bisa kita lihat bahwa
Rasulullah menyampaikan ayat-ayat, mendidik, serta berinteraksi dengan
orang-orang selalu
dengan akhlak
beliau. Karena jika beliau kasar, maka orang-orang akan
balik kasar atau bahkan menjauhi beliau.
Maka Allah SWT berfirman :
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ
كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ
وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ
عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“Maka
berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan
diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk
mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila
engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh,
Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS. ‘Ali ‘Imran : 159)
M. Quraish Shihab dalam
tafsirnya Al Mishbah menafsirkan ayat di atas dengan menceritakan kisah pada
saat hendak perang Uhud, yang dimana cukup banyak bukti menunjukkan
kelemahlembutan Nabi SAW. Beliau bermusyawarah dengan mereka para sahabat
sebelum beliau memutuskan berperang.
Dan maksud dari “Maka disebabkan rahmat Allah engkau
(Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka”, menjadi salah satu bukti
bahwa Allah SWT sendiri yang mendidik dan membentuk kepribadian Nabj Muhammad
SAW, sebagaimana beliau bersadba :
“aku
di didik oleh Tuhan-Ku, maka sungguh baik hasil pendidikan-Nya”.
Sedangkan berkata kasar
itu berarti luarnya yang menunjukkan tidak adanya kejelekan pada sisi luar maupun
sisi dalam Nabi Muhammad SAW. Bahkan pihak musuh kafir musyrik pun mengagumi akhlak
beliau Rasulullah SAW, karena yang mereka tidak menerimanya adalah ayat-ayat dari
Allah SWT.
Lebih lanjut Imam Ibnu
Katsir menjelaskan bahwa yang menjadikan lemah lembut itu adalah rahmat dari
Allah yang di berikan kepadamu dan kepada mereka.
Al Hasan Al Bashri
berkata, yang demikian itu merupakan akhlak Nabi Muhammad SAW yang dengannya Allah
mengutusnya. Dan ayat itu serupa dengan firman Allah :
“Sungguh,
telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan
yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu,
penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman”.
(QS. At Taubah : 128)
Namun kita sedikit
menjelaskan makna dari akhlak itu sendiri, singkatnya akhlak di artikan sebagai
budi pekerti atau kelakuan.
Akar katanya adalah “kholqun”, pencipta atau bentuk, erat
hubungannya dengan al-Khaliq, Tuhan
Yang Maha Mencipta dan makhluk, objek yang di ciptakan al khaliq.
Pada buku Etika Profesi
Guru, Pak Manpan Drajat dan Pak Ridwan Effendi mengutip pendapat Imam Al
Ghazali yang mengartikan akhlak sebagai berikut: “sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan
dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan atau tanpa
dihitung risikonya”.
Jadi bisa diartikan
akhlak adalah bentuk perilaku dan penampilan manusia sebagai makhluk yang di
selaraskan dan di sesuaikan dengan keinginan Allah SWT sebagai al Khaliq. Atau dengan kata lain, apa
yang diinginkan Allah sebagai al Khaliq
kepada makhluknya untuk menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya.
Akhlak juga secara garis besar bisa di
urutkan macam-macamnya, yakni:
JUJUR
Salah satu akhlak baik
bahkan mulia yang harus dimiliki seorang pendidik adalah jujur. Serta orang yang jujur akan mendapatkan kesudahan
yang baik. Baik dalam perkataan maupun perbuatan. Contohnya jika tidak
tahu akan sesuatu, maka katakanlah tidak tahu jangan memaksakan untuk
berpura-pura tahu.
Firman Allah SWT :
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ
السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan
janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran,
penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
( QS. Al Israa : 36 )
Memurut Qatadah dalam
Tafsir Ibnu Katsir berkata, “jangan kamu mengatakan: ‘aku melihat’, padahal
kamu tidak melihat, ‘aku mendengar’, padahal kamu tidak mendengar. Atau ‘aku
mengetahui’, padahal kamu tidak tahu, karena sesungguhnya Allah akan meminta
pertanggung jawaban kepadamu terhadap semua hal tersebut”.
Dan juga dari Muhammad bin
al-Hanafiyyah berkata, “yakni kesaksian palsu”.
Dan bahkan orang yang
tidak jujur atau berbohong termasuk ke dalam sifat orang munafik, sabda
Rasulullah SAW :
“Tanda
orang munafik itu tiga apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji
berdusta, dan jika dipercayai mengkhianati”
(HR Al Bukhari)
(HR Al Bukhari)
Selanjutnya
Nabi SAW akan menjamin hadiah rumah di surga bagi orang yang jujur. Beliau
bersabda:
“Saya dapat menjamin satu rumah di kebun surga untuk orang
yang źmeninggalkan perdebatan meskipun ia benar, dan menjamin satu rumah di pertengahan surga bagi orang yang tidak
berdusta meskipun bergurau. Dan menjamin satu rumah di bagian tertinggi
dari surga, bagi orang yang baik budi pekertinya.” ( HR. Abu Dawud )
Lebih
lanjut bahwa orang yang jujur akan mendapat kesudahan yang baik, dan pendusta
amalnya tidaklah berguna.[5]
BERBUDI PEKERTI LUHUR
Alllah SWT berfirman:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan
sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur”. (QS. Al Qalam : 4 )
Dalam
Tafsir Ibnu Katsir, beliau menukil pendapat dari Al-Aufi yang meriwayatkan dari
Ibnu ‘Abbas : “sesungguhnya engkau benar-benar di dalam agama yang agung, yaitu
Islam”. ‘Athiyyah mengatakan : “engkau benar-benar berada di dalam etika yang
agung”.
Dan seorang
pendidik si haruskan mempunyai kepekaan terhadap muridnya/anak didiknya.
Sebagaimana yang di contohkan oleh Habib Umar bin Hafidz yang memanggil
muridnya dari Indonesia yaitu Habib Munzir al
Musawa dengan sebutan “Sayyid
Munzir”, lalu seketika membuat kelu lidah Habib Munzir. Selain itu bentuk
budi pekerti atau etika guru terhadap murid, juga sebagai bentuk motivasi untuk
si murid.
Sebagaimana dalam hadits di
sebutkan agar senantiasa berbuat baik;
Dari Abu
Ya’la Syaddad bin Aus radhiallahuanhu
dari Rasulullah shallallahu`alaihi wa
sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah
telah menetapkan perbuatan baik (ihsan) atas segala sesuatu. Jika kalian
membunuh maka berlakulah baik dalam hal tersebut. Jika kalian menyembelih
berlakulah baik dalam hal itu, hendaklahkalian mengasah pisaunya dan
menyenangkan hewan sembelihannya.” (HR
Muslim)
Pentingnya
berbuat baik pada murid, karena guru adalah teladan bagi muridnya, ada
setidaknya 3 usaha guru dalam upaya menanamkan kebaikan pada murid, yaitu:
1.
Memberikan
contoh/teladan
2.
Menegakkan
disiplin
3.
Memberikan
motivasi atau dorongan
Rasulullah
telah mencontohkan budi pekerti beliau, diceritakan oleh Anas bin Malik ketika
dia menjadi pembantu Nabi SAW selama 10 tahun, tidak pernah dia di tegus oleh
Nabi dengan perkataan “mengapa kau
kerjakan begini” atau “mengapa tidak
kau kerjakan?”[6]
Maka
ada pula yang mengatakan akal pikiran yang sehat serta berisi ilmu pengetahuan
dapat menjadikan orang berbudi pekerti yang luhur.
SABAR
Sabar
adalah akhlak mulia. Namun kesabaran seringkali sulit untuk di biasakan atau di
kendalikan, dan bagi seorang pendidik sangatlah penting memiliki sikap sabar
ini. Karena murid yang di ajarkan pastinya berbeda-beda sifat dan tingkah
lakunya, maka sabar harus di terapkan dalam kondisi tertentu. Karena jika tidak
bisa di terapkan, akan berujung pada sikap marah yang pada akhirnya menjadi
sebuah penyesalan.
Nabi sangat
memperhatikan kepada orang-orang yang bisa sabar dan tahan amarah, beliau
bersabda:
“Kebersihan (kesucian) itu sebagian dari iman, dan ucapan:
Alhamdulillah, memenugi timbangan dan Subhanallah serta Alhamdulillah memenuhi
apa yang ada diantara langit dan bumi, sembahyang sebagai pelita (cahaya),
sedekah sebagai bukti iman, kesabaran
itu penerangan, Qur’an sebagai bukti yang membenarkan kamu atau yang
menentang kamu, semua manusia pada waktu pagi menjual dirinya, ada yang
membebaskan dan yang membinasakan dirinya” (HR Muslim)
“Bukanlah
orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam)
pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah
yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah” (Muttafaq’alaih)
Dalam
hadits lain Nabi SAW bersabda, “kesabaran
itu adalah dhiya’ (pelita)”, yakni cahaya disertai panas. Maksudnya adalah
pelita kesabaran atau cahaya yang disertai panas karena dalam menjalankannya
perlu letih hati dan kadang letih fisik juga.
Dan Allah
SWT senantiasa bersama orang-orang yang sabar, dan hadiah surga bagi orang yang
sabar. Firman Allah :
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,” (QS. Al Baqarah :
155)
Ibnu Katsir
menafsirkan “kabar gembira” dengan
pahala. Sedangkan Hikmat Basyir dalam Al
Muyassar menafsirkan dengan; berupa akibat baik di dunia dan di akhirat.
Dalam ayat
lain Allah akan memberikan balasan yang baik bagi orang yang sabar, firman-Nya
:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ
حِسَابٍ
“Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan
pahalanya tanpa batas.” (QS. Az Zumar : 10)
Dalam
tafsir Al Musayyar maksud ayat di atas adalah orang yang sabar akan diberi
pahala di akhirat saja tanpa ada batasan.
TAWADHU (Rendah
Hati) dan ZUHUD
Sebagaimana Rasulullah yang sangat rendah hati, beliau pun
yang masih mendengarkan pendapat sahabatnya ketika akan Perang Badar. Ketika
ada seorang sahabat yang menawarkan saran memilihkan tempat untuk menginap
sebelum perang, tempatnya strategis dan bisa menguasai wilayah perang, atau
menang sebelum perang. Nabi yang awalnya mengatakan ‘A’ namun karena saran dari
sahabatnya baik dan bagus, maka beliau setuju memakai saran dari sahabatnya
itu.
Dalam riwayat lain menjelaskan, “Beliau (Rasulullah)
suka menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, menghadiri undangan walaupun
dari seorang hamba sahaya, memperbaiki sendiri alas kakinya dan menambal
sendiri bajunya yang sobek.” Diriwayatkan dari Ibnu Amir r.a.
Bisa di lihat kerendahan hati beliau yang tidak egois walaupun
berstatus sebagai Rasul. Maka, meskipun kita sebagai guru yang lebih tahu dari
murid, bukan berarti tidak mendengarkan kata-kata murid atau bahkan acuh tak
acuh terhadap saran dari murid, malah menganggap enteng. Sudah seharusnya
seorang pendidik mencontoh sikap rendah hati Rasulullah SAW.
Bahkan Ibnu ‘Abbas berkata: “Nabi SAW adalah orang yang
paling murah hati”. Dalam sebuah hadits beliau bersabda, “aku suka makan seperti hamba sahaya makan,
dan aku duduk seperti duduknya hamba sahaya.” Sungguh beliau teladan
sempurna bagi kita.
Lawan Tawadhu adalah tinggi hati, sombong, ujub atau
takabur. Yakni perasaan lebih dan membesarkan diri terhadap orang lain. Padahal
hakikatnya manusia seluruhnya diciptakan Allah sama, firman Allah Ta’ala:
ٱقْرَأْ بِٱسْمِ
رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ . خَلَقَ
ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَق
Artinya: “Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia
dari segumpal darah.” (QS. Al ‘Alaq
: 1-2)
Di dalam Hadits Arba’in
di sebutkan keutaman dari Zuhud:
Dari Abu Abbas Sahl bin Sa’ad Assa’idi radhiallahu’anhu dia berkata: “Seseorang mendatangi Rasulullah
shallallahu`alaihi wa sallam, maka beliau berakata: Wahai Rasulullah, tunjukkan
kepadaku sebuah amalan yang jika aku kerjakan, Allah dan manusia akan
mencintaiku, maka beliau bersabda, “Zuhudlah
terhadap dunia maka engkau akan dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang
ada pada manusia maka engkau akan dicintai manusia.” (Hadits hasan riwayat Ibnu Majah dan lainnya dengan sanad hasan).
3. Adil
Adil merupakan salah satu karakteristik yang mulia lagi baik,
yakni ketika seorang pendidik bersikap adil kepada muridnya dan tidak
membedakan perlakuan kepada murid yang pintar dengan murid yang biasa-biasa
saja.
Karena setiap orang adalah pemimpin, bahkan pemimpin untuk
dirinya sendiri. Begitu pun seorang pendidik adalah pemimpin bagi murid/anak
didiknya. Dan salah satu syarat pemimpin adalah adil.
Allah pun menyuruh kita untuk berbuat adil, dan mencintai
orang yang adil. Firman-Nya daam Al Qur’an:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu)
berbuat adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia
melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu
dapat mengambil pelajaran.” (QS. An Nahl : 90)
Dalam
ayat lain Allah berfirman:
“Dan apabila ada dua golongan orang
mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari
keduanya berbuat zalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah
(golongan) yang berbuat zalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah
Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka
damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sungguh, Allah
mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Hujuraat :
9)
4.
Pekerja Keras
Islam senantiasa mengajarkan kepada umatnya untuk berusaha.
Tidak sedikit ayat Al Qur’an yang menyuruh manusia untuk bekerja, dan
memanfaatkan segala hal yang ada di dunia yang di berikan Allah untuk manusia,
sebagai bekal hidup dan mencari penghidupan bagi manusia.
Allah
SWT berfirman:
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي
الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا
لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Apabila Shalat telah dilaksanakan, maka
bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah
banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS. Al Jumu’ah : 10)
Maksudnya mencari rezeki Allah dengan usaha kalian.
Adapun yang menafsirkan keuntungan atau keberhasilan bukan diukur dari kaya,
ada yang lebih besar yaitu kesehatan jasmani dan rohani.
5.
Berilmu
Allah SWT
berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا
تَفْعَلُو . نَكَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman! Mengapa
kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?. (Itu) sangatlah dibenci di
sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS.
Ash Shaff : 2-3)
Imam Ibnu Katsir di dalam tafsirnya mengatakan bahwa “Hai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu
mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” adalah pengingkaran Allah
terhadap orang yang menetapkan suatu janji atau mengatakan suatu ucapan tetapi
ia tidak memenuhinya. Oleh karena itu, ayat ini dijadikan landasan oleh ulama
salaf yang berpendapat mengharuskan pemenuhan janji itu secara mutlak.
Dan disebutkan juga dalam hadits shahih yang menyebutkan
bahwa termasuk orang munafik murni jika tidak menepati janji.
Oleh karena itu Allah menegaskan pengingkaran terhadap mereka
melalui ayat selanjutnya, “(Itu)
sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu
kerjakan”.
Al Maraghi dalam tafsirnya menyatakan bahwa ayat ini
menjelaskan kedurhakaan mereka itu adalah ganda. Sebab meninggalkan perbuatan
yang baik dan berjanji untuk mengerjakannya.
Terdapat kolerasi dari ayat diatas dengan seorang pendidik, yang
kami uraikan dalam 3 poin penting, yaitu:
A.
Menepati Janji
Seperti yang dijelaskan di pembahasan sebelumnya tentang
sifat orang-orang munafik. Tambahannya adalah bahkan orang Arab itu sangatlah
baik sekali dalam hal menepati janji daripada khianat atau tidak menepati
janji. Tidak heran pada masa Rasulullah berdakwah, ada perjanjian-perjanjian
yang beliau ajukan kepada pihak musuh, seperti Perjanjian Hudaibiah, atau perjanjian
dengan kaum Yahudi Madinah, dan lain-lain.
B.
Beramal
Ayat di atas juga secara tidak langsung menyuruh kita untuk
beramal. Di dalam mengajar, selain mendidik juga harus dengan beramal, yakni
tentunya mengamalkan ilmu. Seorang pendidik jangan hanya pandai bicara saja,
sementara kita tidak mengamalkan apa yang dikatakan. Sedikitpun amal kita,
pasti Allah akan membalas kebaikan itu, begitupun sebaliknya.
Allah
berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَه .
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan
seberat zarrah, niscaya dia akan (melihat) balasannya. Dan barang siapa
mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan (melihat) balasannya.”
(QS. Al Zalzalah : 7-8)
(QS. Al Zalzalah : 7-8)
Adapun sabda
Rasulullah; “takutlah kalian terhadap
neraka, sekalipun hanya dengan separuh kurma.”[7]
Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Tidaklah aku menulis sebuah hadits kecuali aku telah mengamalkannya
walaupun cuma satu satu kali supaya tidak menjadi hujjah pada diriku kelak.”
Sungguh sebuah
amalan yang sangat baik untuk di contoh.
Pada hakikatnya ilmu adalah rezeki, maka harus
diamalkan bahkan dizakatkan. Sebagaimana sahabat Ali bin Abi Thalib berkata
“harta akan berkurang jika dibelanjakan, tetapi ilmu akan bertambah jika di
amalkan.”[8]
C.
Menuntut Ilmu
Seorang pendidik sudah pasti di tuntut untuk mempunyai Ilmu
Pengetahuan yang luas. Namun jika ketika di tanya tentang sesuatu hal,
sementara dia tidak tahu jawabannya, maka harus jujur dan mengatakan tidak tahu.
Jangan memaksa untuk menjawab.
Maka secara tidak langsung juga seorang pendidik di tuntut
berilmu pengetahuan luas, mencari ilmu agar mengetahui jawabannya. Bisa dengan
membaca, atau bertanya kepada yang lebih tahu yakni kepada guru-guru, dan
lain-lain.
Rasulullah sendiri telah mewajibkan kita untuk menuntut ilmu.
Beliau bersabda:
“Menuntut ilmu wajib bagi setiap kaum
muslim.” (HR Ibnu Majah)
Hadits lain bahwa Allah memberikan kemudahan bagi siapa yang
menuntut ilmu. Rasulullah bersabda: “Barang
siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya
jalan menuju surga.” (HR Muslim)
Dengan ilmu juga lah, kita bisa membedakan mana yang hak dan
mana yang batil. Allah SWT berfirman:
“...Katakanlah, "Apakah sama
orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"
Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.”
(QS. Az Zumar : 9)
(QS. Az Zumar : 9)
4.
ADAB PENDIDIK ATAU PENGAJAR
Dalam proses mengajar, seorang pendidik pastilah tertuju
kepada tujuan mengajarnya yaitu menjadikan anak didiknya bermanfaat dengan ilmu
yang di berikan. Dan agar sesuai dengan tujuan itu, di balik prosesnya harus
menanamkan adab bagi pendidik yang dengan itu dapat menjadi dorongan motivasi
juga bagi seorang pendidik. Namun ketika hendak mengajar, membaca basmalah dulu, karena itu sunnah ketika
mengawali pekerjaan atau aktifitas.[9]
Imam Nawawi dalam kitab At Tibiyan menjelaskan adab-adab bagi
pendidik/pengajar yang dibaginya menjadi 14 poin penting. Namun di sini hanya
akan di tarik garis besarnya saja sesuai judul makalah, yaitu diantarnya:
1.
Ikhlas (Tidak mengharap hasil duniawi)
Ikhlas dalam arti hanyalah mengharap ridha Allah SWT saja.
Allah berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا
لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ
وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka hanya diperintah
menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan)
agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian
itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al Bayyinah :
5)
Adanya ikhlas ini di awali dengan niat yang baik sesuai
dengan hadits populer, dari Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ
مَا نَوَى
“Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya
mendapatkan sesuai niatnya.” (Muttafaq’alaih)
Dan hadits inilah yang menjadi prinsip dasar agama
Islam dalam menjalankan
amal sholeh. Dalam hal ini, yang utama itu berniat sedekah ilmu untuk semua kaum
mukminin dan mukminat. Karena pahalanya sampai kepada mereka. [10]
Wallahu a’lam
Menurut Imam Abu Qasim al Qusyairi ikhlas adalah
“melakukan amalan yang fokus, atau tujuan hanya semata-mata demi ketaatan
kepada Allah SWT.”[11]
Maka hasilnya keikhlasan seseorang akan memancarkan sinar kedamaian dalam
dirinya dan banyak dalam mengingat Allah.[12]
Dan ketika beramal atau memberi pengajaran pendidikan, jangan
berharap ada balasan dari orang lain yang di anggap lebih banyak. Padahal
balasan terbaik hanyalah dari Allah Tuhan Semesta Alam, dan sungguh tidak ada
yang lebih baik dari itu.
Maka
Allah berfirman dalam Al Qur’an:
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّر. قُمْ فَأَنْذِر. وَرَبَّكَ
فَكَبِّرْ. وَثِيَابَكَ فَطَهِّر. وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ. وَلَا تَمْنُنْ
تَسْتَكْثِرُ. وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْْ
“Hai orang yang berkemul (berselimut). Bangunlah, lalu berilah
peringatan! Dam agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan
tinggalkanlah (segala) perbuatan yang keji, dan janganlah engkau (Muhammad) memberi
(dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan karena Tuhanmu, bersabarlah.”
(QS. Al Mudatsir : 1-7)
Maksud “janganlah
engkau memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak”
yaitu memberi tanpa mengharapkan apa-apa dari si penerima. Dan “Dan karena Tuhanmu,
bersabarlah” adalah yang
semangat berjuang di jalan Allah diwajibkan bersabar dan usaha yang terus
menerus.
Dalam Al Muyassar maksudnya, “jangan memberi dengan
memperoleh yang lebih banyak dari padanya”. Ini senada dengan yang di
riwayatkan Ibnu ‘Abbas yang di kutip dalam Tafsir Ibnu Katsir.
Dalam
ayat lain Allah berfirman:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي
حَرْثِهِ ۖ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ
فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ
“Barang siapa menghendaki keuntungan di
akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barang siapa
menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya
(keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.” (QS.
Asy Syura 42 : 20)
Bahkan Allah menyatakan bahwa dunia hanyalah permainan. Allah
berfirman:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ
وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Dan kehidupan dunia ini, hanyalah
permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik
bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (QS.
Al An’am : 32)
Yakni permainan
dam hiburan untuk mempersiapkan niat kita dalam menghadapi hidup yang lebih
sungguh-sungguh.
2.
Niat Karena Allah (Lillaahita’ala)
Tentang niat sudah di bahas pada poin pertama, di sini Imam
Nawawi menambahkan perkataan para ulama tentang pentingnya niat lillaahita’ala. Bahwa para ulama
berkata: “jangan sampai menolak mengajari
seseorang dengan alasan orang tersebut tidak memiliki niat baik.”
Ada juga ulama yang berkata: “awalnya kami menuntut ilmu dengan niat karena selain Allah, namun ilmu
enggan kecuali jika di niatkan karena-Nya.”
Artinya
adalah: pada akhirnya niat tersebut akan berubah karena Allah.
Hanya orang yang berakal dan tidak dalam kondisi
terpaksa yang bisa melakukan perbuatan disertai dengan niat yang baik. Begitu
menurut pendapat ulama.[13]
Nabi SAW bersabda, “sesungguhnya
Allah Ta’ala tidak melihat bentuk tubuhmu dan tidak pula melihat ketampananmu,
tetapi Allah melihat hatimu.”
3.
Memperlakukan murid dengan baik
Hendaknya pendidik itu bersikap lemah lembut dan rendah hati
pada murid. Bahkan
harus menganggap murid itu sebagai anak. Nabi SAW bersabda;
Wallahu
a’lam
[1] Daryanto.
2011. Motivasi Menuju Ikhlas dan
Sabar. PT. SARANA TUTORIAL NURANI SEJAHTERA – Bandung. Hal: 42
[6] Imam
Tirmidzi. Pribadi dan Budi Pekerti Rasulullah SAW. Terj: M. tarsyi Hawi.
CV. Penerbit Dipenogoro. Hal 273
[7] Prof. Dr.
Wahbah Az Zuhaili. . Fiqih Islam Wa
Adillatuhu 3. Terj: Abdul Hayyie al Kattani, dkk. Gema Insani: Depok.
Hal 360
Hal 360
[10] Az
Zuhaili, Wahbah. 2007. Fiqih Islam Wa
Adillatuhu 3. Terj: Abdul Hayyie al Kattani, dkk. Gema Insani: Depok
[12] Daryanto.
2011. Motivasi Menuju Ikhlas dan
Sabar. PT. SARANA TUTORIAL NURANI SEJAHTERA – Bandung. Hal 13
[13] Al
Utsaimin, Syaikh Muhammad bin Shalih. 2017.
Syarah Riyadhus Shalihin (jilid 1).
Terj: Ibnu Ruhi, dkk. Darus Sunnah Press : Jakarta Timur, hal; 5
[14] Hadits
Dha’if. Boleh menggunakan hadits dha’if. Abdul Somad dalam bukunya 37 Masalah
Populer pada bab ke 4 mengutip pendapat Imam Asy Syuyuti bahwa boleh
mengamalkan hadits dha’if selama tidak mencakup lima persoalan. Di antaranya
dalam masalah akidah dan hukum halam haram. Wallahu a’lam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar