Rabu, 28 Agustus 2019

TAFSIR TARBAWI TENTANG KARAKTERISTIK PENDIDIK



TAFSIR AL QUR’AN TENTANG KARAKTERISTIK PENDIDIK

Di ajukan untuk memenuhi tugas perkuliahan mata kuliah Tafsir Tarbawi semester IV
tahun ajaran 2018/2019
Dosen Pembimbing : Mimin Mintarsih, M.Ag.


STAI DR KHEZ MUTTAQIEN.png
 









Disusun oleh kelompok 1 :
1. Asep Sukirman                                : 0101.1701.087
2. Cucu Kholifah Siti Sa’adah            : 0101.1701.088
3. Hasanudin                                       : 0101.1701.094

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
STAI DR KHEZ MUTTAQIEN
PURWAKARTA
2019




BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Pendidikan merupakan suatu sarana dasar yang sangat penting dan berpengaruh dalam upaya meningkatkan kualitas manusia. Dan tentunya sebuah pendidikan tidak lepas dari adanya peran pendidik sebagai pemilik dan penyampai ilmu atau pesan.
Islam sendiri sangat menjunjung tinggi seorang pendidik, di mana Allah yang telah menjadikan Nabi Muhammad sebagai teladan serta sebagai pendidik bagi sahabat-sahabat beliau pada zamannya, bahkan sampai sekarang karakteristik beliau dalam mendidik menjadi teldan bagi seluruh umat Islam di dunia.
Dewasa ini, para pendidik sedikit harus lebih menyadari perannya, yang bukan hanya sekedar mentransfer ilmu/informasi, sesudah itu dia lepas tangan tidak mau tahu apa yang terjadi terhadap ilmu yang di berikan kepada anak didiknya.
Maka lebih dalam lagi, bahwa seorang pendidik terkhusus bagi kaum muslim haruslah menempatkan Allah SWT sebagai Rabb-Nya yang memiliki ilmu, menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan hidupnya, serta Rasulullah SAW sebagai teladan baginya. Sehingga ilmu yang di ajarkan tidaklah menjadi seperti angin lalu atau sia-sia.

RUMUSAN MASALAH
1.      Apa yang di maksud dengan karakteristik?
2.      Apa saja karakteristik pendidik menurut Al Qur’an?
3.      Apa adab seorang pendidik?
TUJUAN PENULISAN
1.      Untuk mengetahui pengertian dari karakteristik
2.      Mengetahui macam-macam karakteristik pendidik menurut Al Qur’an
3.      Mengetahui adab-adab bagi seorang pendidik



BAB II
PEMBAHASAN

1.      PENGERTIAN KARAKTERISTIK

Apa itu karakteristik? Seperti apa contoh sederhana dari karakteristik? Sebagian pertanyaan yang mungkin tidak semua orang bisa menjawabnya dengan tepat.
Dalam KBBI, arti dari karakteristik adalah mempunyai sifat khas sesuai dengan perwatakan tertentu. Dengan kata lain, karakteristik merupakan fitur pembeda antara yang satu dengan yang lain (Kualitas/Sifat), yang dibedakannya dari bentuk, struktur, pola dll, atau sesuatu yang mencolok. Dan sebagai sesuatu yang bisa menarik perhatian orang lain.

2.      AL QUR’AN SEBAGAI SUMBER ILMU
Seorang pendidik harus menjadikan Al Qur’an sebagai pegangan mengajarnya, dan menempatkannya sebagai sumber dasar ilmu. Bahkan tidak berlebihan juga jika Al Qur’an di katakan sebagai kurikulum pendidikan (Islam). Maksudnya adalah dengan membawa nilai-nilai Al Qur’an di mana pun, maka akan senantiasa terjaga dari hal yang tidak di inginkan ketika mendidik atau mengajar.
Rasulullah SAW di katakan bahwa beliau selalu mendidik sahabat-sahabatnya berdasarkan Al Qur’an, maka jelas bahwa Al Qur’an harus di jadikan pegangan bagi seorang pendidik. Begitu juga para Nabi dan Rasul Allah di utus selain untuk membawa risalah tauhid, juga untuk mendidik manusia agar mengenal adab atau sopan santun serta penyempurnaan akhlak agar menjadi lebih baik. Agar memperoleh pemahaman dan bisa beramal shaleh. Rasulullah sendiri sudah memberikan manusia jalan agar selamat dunia akhirat, agar berpegang kepada Al Qur’an dan Sunnah Nabi.
Beliau bersabda :
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
 “Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat setelah (kalian bepergian teguh pada) keduanya, Kitabullah dan Sunnahku.” [1] (HR. At-Thabrani)
Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an :
هَٰذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
 “(Al-Qur’an) ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” ( QS. Al Jatsiya: 20 )
Dan juga penerapan pendidikan Islam zaman Rasulullah selalu berlandaskan Al Qur’an dan diimplementasikan dalam perilaku Rasulullah langsung.

3.      KARAKTERISTIK PENDIDIK MENURUT AL QUR’AN
Al Qur’an adalah sumber ilmu yang sangat lengkap serta menyeluruh, termasuk juga membahas karakteristik bagi seorang pendidik/pengajar.
Lantas bagaimana Al Qur’an menetapkan karakteristik bagi pendidik? Maka kami rangkum sebagai berikut secara garis besarnya, yang semoga Allah ridha dan mengampuni jika kami salah.
Poin penting karakteristik menurut Al Qur’an adalah :
1.      Iman dan Takwa
Sangat jelas bahwa semua umat Islam dalam melakukan sesuatu harus menjadikan iman sebagai benteng bagi dirinya. Tanpa Iman, maka amal baiknya akan sia-sia. Dan juga dengan keimanan, bisa membedakan mana hak yang akan bermanfaat sampai akhirat nanti dan mana yang batil yang sungguh tidak ada manfaatnya.
Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 42 :
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

 “Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.” (QS. Al Baqarah : 42)
Dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir mengutip pendapat dari Ibnu ‘Abbas, yaitu: “janganlah mencampuradukkan kebenaran dengan lebohongan”.
Sementara dari Qatadah mengatakan, “ jangan mencampurkan ajaran Yahudi dan Nasrani dengan ajaran Islam”. Di sini di tekankan agar keimanan yang ada pada kita harus mengiringi dengan apa yang akan kita ajarkan, yakni berdasarkan iman kepada Allah yang Hak agar senantiasa membimbing kita dalam mengajar.
Dalam Tafsir Al Muyassar senada dengan pendapat dari Ibnu ‘Abbas, dikatakan bahwa yang dimaksud “Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan” adalah jangan mencampuradukkan kebenaran yang Aku jelaskan kepada kalian dengan kebatilan yang kalaian buat-buat.
Lain hal dalam Tafsir al Jailani, yang dimaksud “dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran” yaitu yang sudah jelas dan pasti, dan “dengan kebatilan” yaitu yang masih diragukan; akan tetapi mempesona yang tidak memiliki kemampuan untuk membedakan.[2]
Pada dasarnya, semua pengetahuan serta proses pendidikan adalah Tauhid, yang menjadi awal dan akhir semua pengetahuan manusia.
Allah berfirman :
إِنَّمَا إِلَٰهُكُمُ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا

 “Sungguh, Tuhanmu hanyalah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Pengetahuannya meliputi segala sesuatu.” (QS. Thaha : 98)
Ilmu yang kita punya semata-mata hanyalah milik Allah, pemberian dari Allah. Dan jika kita menganggap bahwa ilmu kita adalah hasil dari usaha sendiri tanpa disertai adanya campur tangan Allah, maka kisah dari Qarun sudah menjadi sebuah pelajaran. Berilmu namun tidak beriman.
Maka dari itu, tanamkanlah Iman dan juga Taqwa kepada Allah. Allah berfirman :
قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
Artinya: “Mereka menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh Engkaulah yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (QS. Al Baqarah : 32)
Dan sebuah sunnatullah bagi manusia bahwa siapa yang beriman pasti akan beruntung, itulah akar agama Islam. Namun tentu, iman juga harus disertai dengan amal sholeh, makannya ayat-ayat Al Qur’an sering sekali mendekatkan kata Iman dan amal sholeh.
Firman Allah SWT :
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۙ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ

Artinya: “Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan kebajikan serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad, dan itulah kebenaran dari mereka; Allah menghapus kesalahan-kesalahan mereka, dan memperbaiki keadaan mereka.”
 (QS. Muhammad : 2)
Agar keimanan dapat terasa manisnya, Rasulullah sudah menjelaskan dalam haditsnya; “ada tiga hal yang apabila ketiganya dimiliki seseorang maka ia akan merasakan manisnya keimanan: hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada apapun selain keduanya, mencintai seseorang hanya karena Allah dan benci apabila harus kembali kepada kekufuran, sebagaimana ia tidak mau dimasukkan ke dalam nyala api.”
Dalam hadits yang terdapat di Hadits Arba’in di sebutkan, Nabi SAW bersabda :
Dari Abu Zar, Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman, dan Mu’az bin Jabal radhiallahuanhuma dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan yang dapat menghapusnya dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik .“ (HR Turmudzi)[3]
Tentang Taqwa sendiri, Allah SWT berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman. Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. ‘Ali ‘Imran : 102)
Tafsir Al Muyassar menafsirkan, takutlah dengan sebenar-benar takut yaitu dengan mentaati-Nya dan tidak mendurhakai-Nya. Senada dengan perkataan sahabat Nabi Abdullah bin Mas’ud tentang ayat ini yaitu “mentaati dan tidak mendurhakai Allah, mengingat-Nya dan tidak sesaatpun lupa, serta mensyukuri nikmat-Nya dan tidak satupun yang diingkari.”
Imam Ibntu Katsir mengutip pendapat dari Ibnu ‘Abbas yaitu; “jihad di jalan Allah dengan tidak merasa takut terhadap celaan.”
Tentang keutamaan taqwa Allah berfirman dalam Al Qur’an:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujuraat : 13)
Syekh Utsaimin mengatakan bahwa Allah Ta’ala tidak pernah memandang manusia dari segi nasab, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya (wajahnya). Namun Allah memandang dari amal-amalnya. Maka yang paling mulia adalah yang paling bertakwa.[4]

2.      Akhlak Yang Baik
Hendaknya seorang muslim termasuk seorang pendidik harus menghiasi dirinya dengan akhlak-akhlak.
Nabi SAW bersabda:
 “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak mulia.” (HR. Ahmad)
Bisa kita lihat bahwa Rasulullah menyampaikan ayat-ayat, mendidik, serta berinteraksi dengan orang-orang selalu dengan akhlak beliau. Karena jika beliau kasar, maka orang-orang akan balik kasar atau bahkan menjauhi beliau.
Maka Allah SWT berfirman :
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

 “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS. ‘Ali ‘Imran : 159)
M. Quraish Shihab dalam tafsirnya Al Mishbah menafsirkan ayat di atas dengan menceritakan kisah pada saat hendak perang Uhud, yang dimana cukup banyak bukti menunjukkan kelemahlembutan Nabi SAW. Beliau bermusyawarah dengan mereka para sahabat sebelum beliau memutuskan berperang.
Dan maksud dari “Maka disebabkan rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka”, menjadi salah satu bukti bahwa Allah SWT sendiri yang mendidik dan membentuk kepribadian Nabj Muhammad SAW, sebagaimana beliau bersadba :
“aku di didik oleh Tuhan-Ku, maka sungguh baik hasil pendidikan-Nya”.
Sedangkan berkata kasar itu berarti luarnya yang menunjukkan tidak adanya kejelekan pada sisi luar maupun sisi dalam Nabi Muhammad SAW. Bahkan pihak musuh kafir musyrik pun mengagumi akhlak beliau Rasulullah SAW, karena yang mereka tidak menerimanya adalah ayat-ayat dari Allah SWT.
Lebih lanjut Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang menjadikan lemah lembut itu adalah rahmat dari Allah yang di berikan kepadamu dan kepada mereka.
Al Hasan Al Bashri berkata, yang demikian itu merupakan akhlak Nabi Muhammad SAW yang dengannya Allah mengutusnya. Dan ayat itu serupa dengan firman Allah :
“Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman”. (QS. At Taubah : 128)
Namun kita sedikit menjelaskan makna dari akhlak itu sendiri, singkatnya akhlak di artikan sebagai budi pekerti atau kelakuan.
Akar katanya adalah “kholqun”, pencipta atau bentuk, erat hubungannya dengan al-Khaliq, Tuhan Yang Maha Mencipta dan makhluk, objek yang di ciptakan al khaliq.
Pada buku Etika Profesi Guru, Pak Manpan Drajat dan Pak Ridwan Effendi mengutip pendapat Imam Al Ghazali yang mengartikan akhlak sebagai berikut: “sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan atau tanpa dihitung risikonya”.
Jadi bisa diartikan akhlak adalah bentuk perilaku dan penampilan manusia sebagai makhluk yang di selaraskan dan di sesuaikan dengan keinginan Allah SWT sebagai al Khaliq. Atau dengan kata lain, apa yang diinginkan Allah sebagai al Khaliq kepada makhluknya untuk menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya.

Akhlak juga secara garis besar bisa di urutkan macam-macamnya, yakni:
JUJUR
Salah satu akhlak baik bahkan mulia yang harus dimiliki seorang pendidik adalah jujur. Serta orang yang jujur akan mendapatkan kesudahan yang baik. Baik dalam perkataan maupun perbuatan. Contohnya jika tidak tahu akan sesuatu, maka katakanlah tidak tahu jangan memaksakan untuk berpura-pura tahu.
Firman Allah SWT :
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

 “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” ( QS. Al Israa : 36 )
Memurut Qatadah dalam Tafsir Ibnu Katsir berkata, “jangan kamu mengatakan: ‘aku melihat’, padahal kamu tidak melihat, ‘aku mendengar’, padahal kamu tidak mendengar. Atau ‘aku mengetahui’, padahal kamu tidak tahu, karena sesungguhnya Allah akan meminta pertanggung jawaban kepadamu terhadap semua hal tersebut”.
Dan juga dari Muhammad bin al-Hanafiyyah berkata, “yakni kesaksian palsu”.
Dan bahkan orang yang tidak jujur atau berbohong termasuk ke dalam sifat orang munafik, sabda Rasulullah SAW :
“Tanda orang munafik itu tiga apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji berdusta, dan jika dipercayai mengkhianati”
(HR Al Bukhari)
Selanjutnya Nabi SAW akan menjamin hadiah rumah di surga bagi orang yang jujur. Beliau bersabda:
“Saya dapat menjamin satu rumah di kebun surga untuk orang yang źmeninggalkan perdebatan meskipun ia benar, dan menjamin satu rumah di pertengahan surga bagi orang yang tidak berdusta meskipun bergurau. Dan menjamin satu rumah di bagian tertinggi dari surga, bagi orang yang baik budi pekertinya.” ( HR. Abu Dawud )
Lebih lanjut bahwa orang yang jujur akan mendapat kesudahan yang baik, dan pendusta amalnya tidaklah berguna.[5]

BERBUDI PEKERTI LUHUR
Alllah SWT berfirman:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

 “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur”. (QS. Al Qalam : 4 )
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, beliau menukil pendapat dari Al-Aufi yang meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas : “sesungguhnya engkau benar-benar di dalam agama yang agung, yaitu Islam”. ‘Athiyyah mengatakan : “engkau benar-benar berada di dalam etika yang agung”.
Dan seorang pendidik si haruskan mempunyai kepekaan terhadap muridnya/anak didiknya. Sebagaimana yang di contohkan oleh Habib Umar bin Hafidz yang memanggil muridnya dari Indonesia yaitu Habib Munzir al  Musawa dengan sebutan “Sayyid Munzir”, lalu seketika membuat kelu lidah Habib Munzir. Selain itu bentuk budi pekerti atau etika guru terhadap murid, juga sebagai bentuk motivasi untuk si murid.
Sebagaimana dalam hadits di sebutkan agar senantiasa berbuat baik;
Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus radhiallahuanhu dari Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan perbuatan baik (ihsan) atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh maka berlakulah baik dalam hal tersebut. Jika kalian menyembelih berlakulah baik dalam hal itu, hendaklahkalian mengasah pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya.” (HR Muslim)
Pentingnya berbuat baik pada murid, karena guru adalah teladan bagi muridnya, ada setidaknya 3 usaha guru dalam upaya menanamkan kebaikan pada murid, yaitu:
1.      Memberikan contoh/teladan
2.      Menegakkan disiplin
3.      Memberikan motivasi atau dorongan
Rasulullah telah mencontohkan budi pekerti beliau, diceritakan oleh Anas bin Malik ketika dia menjadi pembantu Nabi SAW selama 10 tahun, tidak pernah dia di tegus oleh Nabi dengan perkataan “mengapa kau kerjakan begini” atau “mengapa tidak kau kerjakan?”[6]
Maka ada pula yang mengatakan akal pikiran yang sehat serta berisi ilmu pengetahuan dapat menjadikan orang berbudi pekerti yang luhur.

SABAR
Sabar adalah akhlak mulia. Namun kesabaran seringkali sulit untuk di biasakan atau di kendalikan, dan bagi seorang pendidik sangatlah penting memiliki sikap sabar ini. Karena murid yang di ajarkan pastinya berbeda-beda sifat dan tingkah lakunya, maka sabar harus di terapkan dalam kondisi tertentu. Karena jika tidak bisa di terapkan, akan berujung pada sikap marah yang pada akhirnya menjadi sebuah penyesalan.
Nabi sangat memperhatikan kepada orang-orang yang bisa sabar dan tahan amarah, beliau bersabda:
“Kebersihan (kesucian) itu sebagian dari iman, dan ucapan: Alhamdulillah, memenugi timbangan dan Subhanallah serta Alhamdulillah memenuhi apa yang ada diantara langit dan bumi, sembahyang sebagai pelita (cahaya), sedekah sebagai bukti iman, kesabaran itu penerangan, Qur’an sebagai bukti yang membenarkan kamu atau yang menentang kamu, semua manusia pada waktu pagi menjual dirinya, ada yang membebaskan dan yang membinasakan dirinya” (HR Muslim)
Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah(Muttafaq’alaih)
Dalam hadits lain Nabi SAW bersabda, “kesabaran itu adalah dhiya’ (pelita)”, yakni cahaya disertai panas. Maksudnya adalah pelita kesabaran atau cahaya yang disertai panas karena dalam menjalankannya perlu letih hati dan kadang letih fisik juga.
Dan Allah SWT senantiasa bersama orang-orang yang sabar, dan hadiah surga bagi orang yang sabar. Firman Allah :
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
 “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,” (QS. Al Baqarah : 155)
Ibnu Katsir menafsirkan “kabar gembira” dengan pahala. Sedangkan Hikmat Basyir dalam Al Muyassar menafsirkan dengan; berupa akibat baik di dunia dan di akhirat.
Dalam ayat lain Allah akan memberikan balasan yang baik bagi orang yang sabar, firman-Nya :
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
 “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az Zumar : 10)
Dalam tafsir Al Musayyar maksud ayat di atas adalah orang yang sabar akan diberi pahala di akhirat saja tanpa ada batasan.

TAWADHU (Rendah Hati) dan ZUHUD
Sebagaimana Rasulullah yang sangat rendah hati, beliau pun yang masih mendengarkan pendapat sahabatnya ketika akan Perang Badar. Ketika ada seorang sahabat yang menawarkan saran memilihkan tempat untuk menginap sebelum perang, tempatnya strategis dan bisa menguasai wilayah perang, atau menang sebelum perang. Nabi yang awalnya mengatakan ‘A’ namun karena saran dari sahabatnya baik dan bagus, maka beliau setuju memakai saran dari sahabatnya itu.
Dalam riwayat lain menjelaskan, “Beliau (Rasulullah) suka menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, menghadiri undangan walaupun dari seorang hamba sahaya, memperbaiki sendiri alas kakinya dan menambal sendiri bajunya yang sobek.” Diriwayatkan dari Ibnu Amir r.a.
Bisa di lihat kerendahan hati beliau yang tidak egois walaupun berstatus sebagai Rasul. Maka, meskipun kita sebagai guru yang lebih tahu dari murid, bukan berarti tidak mendengarkan kata-kata murid atau bahkan acuh tak acuh terhadap saran dari murid, malah menganggap enteng. Sudah seharusnya seorang pendidik mencontoh sikap rendah hati Rasulullah SAW.
Bahkan Ibnu ‘Abbas berkata: “Nabi SAW adalah orang yang paling murah hati”. Dalam sebuah hadits beliau bersabda, “aku suka makan seperti hamba sahaya makan, dan aku duduk seperti duduknya hamba sahaya.” Sungguh beliau teladan sempurna bagi kita.
Lawan Tawadhu adalah tinggi hati, sombong, ujub atau takabur. Yakni perasaan lebih dan membesarkan diri terhadap orang lain. Padahal hakikatnya manusia seluruhnya diciptakan Allah sama, firman Allah Ta’ala:
ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ .  خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَق
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” (QS. Al ‘Alaq : 1-2)
Di dalam Hadits Arba’in di sebutkan keutaman dari Zuhud:
Dari Abu Abbas Sahl bin Sa’ad Assa’idi radhiallahu’anhu dia berkata: “Seseorang mendatangi Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam, maka beliau berakata: Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku sebuah amalan yang jika aku kerjakan, Allah dan manusia akan mencintaiku, maka beliau bersabda, “Zuhudlah terhadap dunia maka engkau akan dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia maka engkau akan dicintai manusia.(Hadits hasan riwayat Ibnu Majah dan lainnya dengan sanad hasan).

3.      Adil
Adil merupakan salah satu karakteristik yang mulia lagi baik, yakni ketika seorang pendidik bersikap adil kepada muridnya dan tidak membedakan perlakuan kepada murid yang pintar dengan murid yang biasa-biasa saja.
Karena setiap orang adalah pemimpin, bahkan pemimpin untuk dirinya sendiri. Begitu pun seorang pendidik adalah pemimpin bagi murid/anak didiknya. Dan salah satu syarat pemimpin adalah adil.
Allah pun menyuruh kita untuk berbuat adil, dan mencintai orang yang adil. Firman-Nya daam Al Qur’an:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

 “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berbuat adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An Nahl : 90)
Dalam ayat lain Allah berfirman:
“Dan apabila ada dua golongan orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah (golongan) yang berbuat zalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Hujuraat : 9)

4.      Pekerja Keras
Islam senantiasa mengajarkan kepada umatnya untuk berusaha. Tidak sedikit ayat Al Qur’an yang menyuruh manusia untuk bekerja, dan memanfaatkan segala hal yang ada di dunia yang di berikan Allah untuk manusia, sebagai bekal hidup dan mencari penghidupan bagi manusia.
Allah SWT berfirman:
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 “Apabila Shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS. Al Jumu’ah : 10)
Maksudnya mencari rezeki Allah dengan usaha kalian. Adapun yang menafsirkan keuntungan atau keberhasilan bukan diukur dari kaya, ada yang lebih besar yaitu kesehatan jasmani dan rohani.

5.      Berilmu
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُو . نَكَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

 “Hai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?. (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash Shaff : 2-3)
Imam Ibnu Katsir di dalam tafsirnya mengatakan bahwa “Hai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” adalah pengingkaran Allah terhadap orang yang menetapkan suatu janji atau mengatakan suatu ucapan tetapi ia tidak memenuhinya. Oleh karena itu, ayat ini dijadikan landasan oleh ulama salaf yang berpendapat mengharuskan pemenuhan janji itu secara mutlak.
Dan disebutkan juga dalam hadits shahih yang menyebutkan bahwa termasuk orang munafik murni jika tidak menepati janji.
Oleh karena itu Allah menegaskan pengingkaran terhadap mereka melalui ayat selanjutnya, “(Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan”.
Al Maraghi dalam tafsirnya menyatakan bahwa ayat ini menjelaskan kedurhakaan mereka itu adalah ganda. Sebab meninggalkan perbuatan yang baik dan berjanji untuk mengerjakannya.

Terdapat kolerasi dari ayat diatas dengan seorang pendidik, yang kami uraikan dalam 3 poin penting, yaitu:
A.    Menepati Janji
Seperti yang dijelaskan di pembahasan sebelumnya tentang sifat orang-orang munafik. Tambahannya adalah bahkan orang Arab itu sangatlah baik sekali dalam hal menepati janji daripada khianat atau tidak menepati janji. Tidak heran pada masa Rasulullah berdakwah, ada perjanjian-perjanjian yang beliau ajukan kepada pihak musuh, seperti Perjanjian Hudaibiah, atau perjanjian dengan kaum Yahudi Madinah, dan lain-lain.
B.     Beramal
Ayat di atas juga secara tidak langsung menyuruh kita untuk beramal. Di dalam mengajar, selain mendidik juga harus dengan beramal, yakni tentunya mengamalkan ilmu. Seorang pendidik jangan hanya pandai bicara saja, sementara kita tidak mengamalkan apa yang dikatakan. Sedikitpun amal kita, pasti Allah akan membalas kebaikan itu, begitupun sebaliknya.
Allah berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَه . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

 “Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan (melihat) balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan (melihat) balasannya.”
(QS. Al Zalzalah : 7-8)
Adapun sabda Rasulullah; “takutlah kalian terhadap neraka, sekalipun hanya dengan separuh kurma.”[7]
Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Tidaklah aku menulis sebuah hadits kecuali aku telah mengamalkannya walaupun cuma satu satu kali supaya tidak menjadi hujjah pada diriku kelak.”
Sungguh sebuah amalan yang sangat baik untuk di contoh.
Pada hakikatnya ilmu adalah rezeki, maka harus diamalkan bahkan dizakatkan. Sebagaimana sahabat Ali bin Abi Thalib berkata “harta akan berkurang jika dibelanjakan, tetapi ilmu akan bertambah jika di amalkan.”[8]
C.     Menuntut Ilmu
Seorang pendidik sudah pasti di tuntut untuk mempunyai Ilmu Pengetahuan yang luas. Namun jika ketika di tanya tentang sesuatu hal, sementara dia tidak tahu jawabannya, maka harus jujur dan mengatakan tidak tahu. Jangan memaksa untuk menjawab.
Maka secara tidak langsung juga seorang pendidik di tuntut berilmu pengetahuan luas, mencari ilmu agar mengetahui jawabannya. Bisa dengan membaca, atau bertanya kepada yang lebih tahu yakni kepada guru-guru, dan lain-lain.
Rasulullah sendiri telah mewajibkan kita untuk menuntut ilmu. Beliau bersabda:
“Menuntut ilmu wajib bagi setiap kaum muslim.” (HR Ibnu Majah)
Hadits lain bahwa Allah memberikan kemudahan bagi siapa yang menuntut ilmu. Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim)
Dengan ilmu juga lah, kita bisa membedakan mana yang hak dan mana yang batil. Allah SWT berfirman:
“...Katakanlah, "Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.”
(QS. Az Zumar : 9)


4.      ADAB PENDIDIK ATAU PENGAJAR
Dalam proses mengajar, seorang pendidik pastilah tertuju kepada tujuan mengajarnya yaitu menjadikan anak didiknya bermanfaat dengan ilmu yang di berikan. Dan agar sesuai dengan tujuan itu, di balik prosesnya harus menanamkan adab bagi pendidik yang dengan itu dapat menjadi dorongan motivasi juga bagi seorang pendidik. Namun ketika hendak mengajar, membaca basmalah dulu, karena itu sunnah ketika mengawali pekerjaan atau aktifitas.[9]
Imam Nawawi dalam kitab At Tibiyan menjelaskan adab-adab bagi pendidik/pengajar yang dibaginya menjadi 14 poin penting. Namun di sini hanya akan di tarik garis besarnya saja sesuai judul makalah, yaitu diantarnya:
1.      Ikhlas (Tidak mengharap hasil duniawi)
Ikhlas dalam arti hanyalah mengharap ridha Allah SWT saja. Allah berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

 “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al Bayyinah : 5)
Adanya ikhlas ini di awali dengan niat yang baik sesuai dengan hadits populer, dari Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.” (Muttafaq’alaih)

Dan hadits inilah yang menjadi prinsip dasar agama Islam dalam menjalankan amal sholeh. Dalam hal ini, yang utama itu berniat sedekah ilmu untuk semua kaum mukminin dan mukminat. Karena pahalanya sampai kepada mereka. [10] Wallahu a’lam
Menurut Imam Abu Qasim al Qusyairi ikhlas adalah “melakukan amalan yang fokus, atau tujuan hanya semata-mata demi ketaatan kepada Allah SWT.”[11] Maka hasilnya keikhlasan seseorang akan memancarkan sinar kedamaian dalam dirinya dan banyak dalam mengingat Allah.[12]
Dan ketika beramal atau memberi pengajaran pendidikan, jangan berharap ada balasan dari orang lain yang di anggap lebih banyak. Padahal balasan terbaik hanyalah dari Allah Tuhan Semesta Alam, dan sungguh tidak ada yang lebih baik dari itu.
Maka Allah berfirman dalam Al Qur’an:
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّر. قُمْ فَأَنْذِر. وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ. وَثِيَابَكَ فَطَهِّر. وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ. وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ. وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْْ

 “Hai orang yang berkemul (berselimut). Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dam agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah (segala) perbuatan yang keji, dan janganlah engkau (Muhammad) memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan karena Tuhanmu, bersabarlah.” (QS. Al Mudatsir : 1-7)
Maksud “janganlah engkau memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak” yaitu memberi tanpa mengharapkan apa-apa dari si penerima. Dan Dan karena Tuhanmu, bersabarlah adalah yang semangat berjuang di jalan Allah diwajibkan bersabar dan usaha yang terus menerus.
Dalam Al Muyassar maksudnya, “jangan memberi dengan memperoleh yang lebih banyak dari padanya”. Ini senada dengan yang di riwayatkan Ibnu ‘Abbas yang di kutip dalam Tafsir Ibnu Katsir.

Dalam ayat lain Allah berfirman:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

 “Barang siapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barang siapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.” (QS. Asy Syura 42 : 20)
Bahkan Allah menyatakan bahwa dunia hanyalah permainan. Allah berfirman:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

 “Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al An’am : 32)
Yakni permainan dam hiburan untuk mempersiapkan niat kita dalam menghadapi hidup yang lebih sungguh-sungguh.
2.      Niat Karena Allah (Lillaahita’ala)
Tentang niat sudah di bahas pada poin pertama, di sini Imam Nawawi menambahkan perkataan para ulama tentang pentingnya niat lillaahita’ala. Bahwa para ulama berkata: “jangan sampai menolak mengajari seseorang dengan alasan orang tersebut tidak memiliki niat baik.”
Ada juga ulama yang berkata: “awalnya kami menuntut ilmu dengan niat karena selain Allah, namun ilmu enggan kecuali jika di niatkan karena-Nya.”
Artinya adalah: pada akhirnya niat tersebut akan berubah karena Allah.
Hanya orang yang berakal dan tidak dalam kondisi terpaksa yang bisa melakukan perbuatan disertai dengan niat yang baik. Begitu menurut pendapat ulama.[13]
Nabi SAW bersabda, “sesungguhnya Allah Ta’ala tidak melihat bentuk tubuhmu dan tidak pula melihat ketampananmu, tetapi Allah melihat hatimu.”

3.      Memperlakukan murid dengan baik
Hendaknya pendidik itu bersikap lemah lembut dan rendah hati pada murid. Bahkan harus menganggap murid itu sebagai anak. Nabi SAW bersabda;
“bersikap lembutlah kepada muridmu dan kepada gurumu.” (HR Al Khathib)[14]
            Wallahu a’lam



[1] Daryanto. 2011.  Motivasi Menuju Ikhlas dan Sabar. PT. SARANA TUTORIAL NURANI SEJAHTERA – Bandung. Hal: 42
[2] Tafsir Al Jailani Jilid I. Hal: 67
[3] dia berkata, “haditsnya hasan, pada sebagian cetakan dikatakan hasan shahih.”
[4] Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin. Syarah Riyadhus Shalihin (Jilid I). hal: 535
[5] Ibid., hal 297
[6] Imam Tirmidzi. Pribadi dan Budi Pekerti Rasulullah SAW. Terj: M. tarsyi Hawi. CV. Penerbit Dipenogoro. Hal 273
[7] Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaili. . Fiqih Islam Wa Adillatuhu 3. Terj: Abdul Hayyie al Kattani, dkk. Gema Insani: Depok.
 Hal 360
[8] Pesan Imam Ahmad bin Hanbal. Hal 107
[9] Tafsir Ibnu Katsir Jilid I. Sub bab Kutamaan Basmalah
[10] Az Zuhaili, Wahbah. 2007. Fiqih Islam Wa Adillatuhu 3. Terj: Abdul Hayyie al Kattani, dkk. Gema Insani: Depok
[11] Pesan Imam Ahmad bin Hanbal. Hal 189
[12] Daryanto. 2011.  Motivasi Menuju Ikhlas dan Sabar. PT. SARANA TUTORIAL NURANI SEJAHTERA – Bandung. Hal 13
[13] Al Utsaimin, Syaikh Muhammad bin Shalih. 2017.  Syarah Riyadhus Shalihin (jilid 1). Terj: Ibnu Ruhi, dkk. Darus Sunnah Press : Jakarta Timur, hal; 5
[14] Hadits Dha’if. Boleh menggunakan hadits dha’if. Abdul Somad dalam bukunya 37 Masalah Populer pada bab ke 4 mengutip pendapat Imam Asy Syuyuti bahwa boleh mengamalkan hadits dha’if selama tidak mencakup lima persoalan. Di antaranya dalam masalah akidah dan hukum halam haram. Wallahu a’lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar