Rabu, 28 Agustus 2019

HADITS TARBAWI MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL



PENDAHULUAN

Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk individu ia memiliki karakter yang unik, yang berbeda satu dengan yang lain, ditambah dengan pikiran dan kehendaknya yang bebas. Dan sebagai makhluk sosial ia membutuhkan manusia lain, membutuhkan sebuah kelompok –dalam bentuknya yang minimal– yang mengakui keberadaannya, dan dalam bentuknya yang maksimal –kelompok– di mana dia dapat bergantung kepadanya.
خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ  Khalaqa al-Insana min ‘Alaq” yang artinya ”Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. Begitu bunyi ayat kedua dari firman-Nya dalam wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad.
Manusia diciptakan Allah dari al-Alaq. Dari segi pengertian kebahasaan, kata ‘alaq antara lain berarti sesuatu yang tergantung. Memang, salah satu periode dalam kejadian manusia saat berada dalam rahim ibu adalah ketergantungan hasil pertemuan sperma dan ovum yang membelah dan bergerak menuju dinding rahim lalu bergantung atau berdempet dengannya. Kata ‘Alaq dapat juga berarti ketergantungan manusia kepada pihak lain. Ia tidak dapat hidup sendiri. Begitu menurut M. Quraish Shihab dalam tulisannya.
Pada masa dewasa ini kehidupan manusia dalam kehidupan sosial harus semakin ditingkatkan. Khususnya kita sebagai Umat Islam. Dan pada pembahasan ini, kami selaku pemakalah akan menjelaskan keutamaan berkehidupa sosial. Menurut Al Qur’an dan Hadits lebih khususnya. Namun tentunya makalah ini sangatlah jauh dari kesempurnaan, mohon maaf beribu maaf jika isi dan penyampaian kami kurang berkenan di hati para pembaca dan pendengar yang budiman.



PEMBAHASAN

تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

“Hendaklah engkau memberi makan, mengucapkan salam kepada siapapun yang engkau kenal maupunyang tidak engkau kenal.” HR. Al Bukhari.
“Orang-orang Mukmin itu bagaikan satu orang. Jika matanya sakit, maka seluruh tubuhnya merasa sakit. Jika kepalanya sakit, maka seluruh tubuhnya ikut terasa sakit.” HR. Muslim
“Rasulullah SAW memerintahkan kami dengan tujuh perkara; menjenguk orang sakit, menganar jenazah, menjawab orang yang sedang bersin, menolong yang lemah, membela yang dianiaya, menebarkan salam, membebaskan orang yang terjebak sumpahnya.” (Muttafaq’alaih)

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Sesungguhnya antara seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling melengkapi (memperkokoh) satu sama lain.” (Muttafaq’alaih)

A.    ISI

Tatkala Nabi Muhammad hijrah dan sampai ke Madinah, maka disana beliau perlu mempersatukan masyarakat Anshor Madinah dan Muhajirin dari Mekkah. Karena untuk membentuk sebuah masyarakat baru, yakni masyarakat yang berlandaskan hukum Islam. Dengan membuat sebuah butir-butir perjanjian agar orang-orang Mukmin saling menjaga satu sama lain. Salah satunya yaitu bahwa orang-orang Mukmin tidak boleh meninggalkan seseorang yang menanggung beban hidup di antara sesama mereka.

Maka tatkala Nabi memberi pelajaran kepada para muslimin, ada seseorang yang bertanya kepada beliau, “Bagaimana Islam yang baik itu?”
Beliau menjawab, “Hendaklah engkau memberi makan, mengucapkan salam kepada siapapun yang engkau kenal maupunyang tidak engkau kenal.” HR. Al Bukhari. Bahkan beliau sempat mempersaudarakan sesama muslim Muhajirin dan Anshor.

Beliau juga membuat pengarahan-pengarahan untuk membuat semakin kuatnya ikatan persaudaraan antar kaum Mukmin, beliau bersabda :

“Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” HR. Muslim
“Seseorang dari kalian tidak disebut beriman sehingga dia mencintai bagi saudaranya apa yang dia cintai bagi dirinya sendiri.” HR. Al Bukhari
Sebuah anjuran untuk mrnguatkan ikatan diantara kaum Mukminin. Pendapat Syeikh Utsaimin.

“Orang-orang Mukmin itu bagaikan satu orang. Jika matanya sakit, maka seluruh tubuhnya merasa sakit. Jika kepalanya sakit, maka seluruh tubuhnya ikut terasa sakit.” HR. Muslim

Itulah sebagian sabda Nabi Muhammad yang membuat para orang Mukmin bersemangat dalam membentuk persatuan.

Maka tidak ada salahnya kita simpulkan perumpamaan-perumpamaan seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya :

1.      Bagaikan pohon
“Perumpamaan seorang mukmin seperti tanaman, angin menerpanya ke kiri dan ke kanan. Seorang mukmin senantiasa mengalami cobaan.”
2.      Bagaikan bangunan
“Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” HR. Muslim
3.      Bagaikan tubuh
“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” HR. Muslim
4.      Bagaikan cermin
“Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Jika dia melihat suatu aib pada diri saudaranya, maka dia memperbaikinya.”
5.      Bagaikan lebah
“Perumpamaan seorang Mukmin seperti lebah, apabila ia makan maka ia akan memakan suatu yang baik. Dan jika ia mengeluarkan sesuatu, ia pun akan mengeluarkan sesuatu yang baik. Dan jika ia hinggap pada sebuah dahan untuk menghisap madu ia tidak mematahkannya.”
HR. Al-Baihaqi
6.      Bagaikan pohon kurma
” Perumpamaan seorang mukmin itu seperti pohon kurma, apapun yang engkau ambil darinya pasti bermampaat bagimu.” HR: Thobrani
7.      Bagaikan emas
“Perumpamaan seorang mukimin seperti lempengan emas, kalau engkau meniupkan (api) diatasnya ia menjadi merah, kalau engkau menimbangnya, tidaklah berkurang. ” HR. Baihaqi


Hablumminallah dan Hablumminannas

            Hubungan dengan Allah sangat jelas dan tegas dari ayat-ayat Al Qur’an dan Hadits Nabi SAW. Namun pada konteks ini, kita perlu membangun hubungan baik sesama manusia, khususnya umat Muslim dan non-Muslim umumnya. Secara umum dan khusus kita jelas harus di anjurkan untuk mempunyai banyak teman atau teman gaul sebanyak-banyaknya. Menurut pepatah bahwa satu musuh terlalu banyak dan seribu teman masih kurang. Namun tetap harus punya benteng diri yaitu Iman, jangan sampai pergaulan kita dengan manusia justru menjauhkan kita dari Allah.
            Dalam bukunya yang diterjemahkan berjudul 10 Hak Dalam Islam, Syaikh Utsaimin mencantumkan hubungan antara kaum muslimin seluruhnya dan hubungan atau hak non muslim. Beliau menyebutkan sebagai berikut ringkasannya :

A.    Kepada Kaum Muslimin

“Rasulullah SAW memerintahkan kami dengan tujuh perkara; menjenguk orang sakit, menganar jenazah, menjawab orang yang sedang bersin, menolong yang lemah, membela yang dianiaya, menebarkan salam, membebaskan orang yang terjebak sumpahnya.” (Muttafaq’alaih)

Itu adalah hak-hak seorang mukmin bagi mukmin lainnya, dan mungkin masih ada hadits lain yang berbeda jumlah atau lafaznya, ada yang enam, atau lima tentang hak itu. Maka kami rangkum sebagai berikut :

Menjenguk orang sakit :
“Hak orang Islam atas orang Islam yang lain ada lima, yaitu: 1. Menjawab salam, 2. Menjenguk orang sakit, 3. Mengantarkan jenazah, 4. Memenuhi undangan, 5. Mendo’akan orang yang bersin.” (Muttafaq’alaih)

Menolong orang lemah :
"Barangsiapa yang memenuhi hajat saudaranya, maka Allah akan memenuhi hajatnya. Dan barangsiapa melapangkan kesusahan saudaranya muslim, maka Allah akan melapangkan baginya kesusahan dari kesusahan yang ada pada hari kiamat. Siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya kelak pada hari kiamat" ( Muttafaq’alaih )

Mengucapkan Salam:
Sebagaimana sabda Nabi SAW;
“Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sehingga kalian saling mencintai. Maukah aku beritahukan kepada kalian suatu hal yang jika dikerjakan pasti kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam diantara kalian.” HR. Muslim

Dan tentu saja masih banyak lagi cara kita untuk mempererat Ukhuwah Islamiyah sesama Muslim. Agar dapat terwujudnya terbentuknya perasaan kasih sayang sesama Mukmin.
Karena dengan bersama-sama kita berjamaah, akan menjadi kuat serta dihormati oleh kaum lain. “Sholat berjamaah lebih utama dari sholat sendirian dengan selisih 27 derajat.” HR. Muslim
Adapun manfaat yang dapat kita ambil dari ukhuwah Islamiyah yakni :
  • Timbul sikap tolong menolong.
  • Tumbuh rasa saling memahami
  • Menimbulkan rasa tenggang rasa dan tidak menzhalimi satu sama lain.
  • Terciptanya solidaritas yang kuat antara sesama muslim
  • Terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa
  • Terciptanya kerukunan hidup antara sesama warga masyarakat.

B.     Kepada non-Muslim

Orang kafir musta’min yang mereka memiliki hak atas kita untuk mendapat perlindungan.
“Jika salah seorang dari kaum musyrikin meminta perlindungan kepadamu maka berilah perlindungan kepadanya sehingga dia mendengar kalamullah kemudan antarkanlah ke tempat yang aman.”
(QS. At Taubah : 6)

Karena orang non-Muslim termasuk kedalam Ukhuwah Wathoniyah, yakni persaudaraan karena diikat oleh jiwa nasionalisme tanpa membedakan agama, suku, warna kulit, adat istiadat dan budaya dan aspek-aspek yang lainnya.

Dalam rangka menjalin hubungan sosial dalam maknanya yang umum ada beberapa tahapan konseptual yang perlu diperhatikan. Secara garis besar tahapan tersebut dapat dibagi menjadi:
1.      Ta’aruf
Ta’aruf dapat diartikan sebagai saling mengenal. Dalam rangka mewujudkannya, kita perlu mengenal orang lain, baik fisiknya, pemikiran, emosi dan kejiwaannya. Dengan mengenali karakter-karakter tersebut.
2.      Tafahum
Pada tahap tafahum (saling memahami), kita tidak sekedar mengenal saudara kita, tapi terlebih kita berusaha untuk memahaminya. Sebagai contoh jika kita telah mengetahui tabiat seorang rekan yang biasa berbicara dengan nada keras, tentu kita akan memahaminya dan tidak menjadikan kita lekas tersinggung.
3.      Ta’awun
Ta’awun atau tolong-menolong merupakan aktivitas yang sebenarnya secara naluriah sering (ingin) kita lakukan. Manusia normal umumnya telah dianugerahi oleh perasaan ‘iba’ dan keinginan untuk menolong sesamanya yang menderita kesulitan – sesuai dengan kemampuannya. Hanya saja derajat keinginan ini berbeda-beda untuk tiap individu.
Dalam hal ini kita perlu memperhatikan hadits shahih dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: Artinya: “Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim atau yang dizalimi.”
4.      Tafakul
Takaful ini akan melahirkan perasaan senasib dan sepenanggungan. Di mana rasa susah dan sedih saudara kita dapat kita rasakan, sehingga dengan serta merta kita memberikan pertolongan.
Unsur pokok di dalam bersosial adalah mahabbah (kecintaan), yang terbagi dalam beberapa tingkatan :
1.      Tingkatan terendah adalah salamus shadr (bersihnya jiwa) dari perasaan hasud, membenci, dengki dan sebab-sebab permusuhan/pertengkaran. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, Rasulullah saw bersabda “bahwa tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya selama tiga hari, yang apabila saling bertemu maka ia berpaling, dan yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai dengan ucapan salam.”

2.      Tingkatan berikutnya adalah cinta. Di mana seorang muslim diharapkan mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri, seperti dalam hadits: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (HR muttafaq alaihi)

3.      Tingkatan yang tertinggi adalah itsar, yaitu mendahulukan kepentingan saudaranya atas dirinya dalam segala sesuatu yang ia cintai, sesuatu yang untuk zaman sekarang sering baru mencapai tahap wacana. Patut kita renungkan kisah sahabat Nabi dalam sebuah peperangan, di mana dalam keadaan sekarat dan kehausan dia masih mendahulukan saudaranya yang lain untuk menerima air.

Aktivitas-aktivitas sosial yang  memang merupakan seruan Islam harus dilaksanakan supaya aktivitas sosial terjaga  diantaranya dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut;
1. Silaturahim
Islam menganjurkan silaturahim antar anggota keluarga baik yang dekat maupun yang jauh, apakah mahram ataupun bukan. Apalagi terhadap kedua orang tua. Islam bahkan mengkatagorikan tindak “pemutusan hubungan silaturahim” adalah dalam dosa-dosa besar.
“Tidak masuk surga orang yang memutuskan hubungan silaturahim” (Muttafaq’alaih)
2. Memuliakan Tamu
Tamu dalam Islam mempunyai kedudukan yang amat terhormat. Dan menghormati tamu termasuk dalam indikasi orang beriman.
“…Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya” (Muttafaq’alaih)
3. Menghormati tetangga
Hal ini juga merupakan indikator apakah seseorang itu beriman atau belum.
“…Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tetangganya” (Muttafaq’alaih)
“Dengan rahmat Allah lah kita manusia semuanya bisa salimg menjalin persaudaraan. “Allah menjadikan rahmat itu menjadi 100 bagian. Dia menahannya sebanyak 99 bagian dan menurunkannya ke bumi satu bagian. Dengan yang satu bagian itulah makhluk-makhluk berkasih sayang.”
HR. Muslim

Pesan dari tulisan M. Quraish Shihab
 
Bahwa semua kita berada di bawah kendali dan kuasa Allah. Dengan kuasanya-Nya itulah kita membutuhkan-Nya serta tidak dapat mengelak dari kedudukan sebagai makhluk sosial.
Allah sendiri, sebagai pencipta manusia sebagai makhluk sosial itu, menyeru mereka semua dengan firman-Nya: “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa dia antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal” (QS. al-Hujurat ayat: 13).
Semakin kuat pengenalan satu pihak kepada selainnya, semakin terbuka peluang untuk saling memberi manfaat. Karena itu, ayat di atas menekankan perlunya saling mengenal. Perkenalan itu dibutuhkan untuk saling menarik pelajaran dan pengalaman pihak lain, guna meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. yang dampaknya tercermin pada kedamaian dan kesejahteraan hidup duniawi dan kebahagiaan ukhrawi.
Anda tidak dapat menarik pelajaran, tidak juga dapat saling melengkapi, bahkan tidak dapat bekerja sama, tanpa saling mengenal. Saling mengenal yang digarisbawahi oleh ayat di atas adalah “pancing” untuk meraih manfaat, bukan “ikannya". Yang ditekankan adalah caranya, bukan manfaatnya. Karena, seperti kata orang bijak, “memberi pancing jauh lebih baik daripada memberi ikan”.



KESIMPULAN

Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk individu ia memiliki karakter yang unik, yang berbeda satu dengan yang lain, ditambah dengan pikiran dan kehendaknya yang bebas. Dan sebagai makhluk sosial ia membutuhkan manusia lain, membutuhkan sebuah kelompok –dalam bentuknya yang minimal– yang mengakui keberadaannya, dan dalam bentuknya yang maksimal –kelompok– di mana dia dapat bergantung kepadanya.
Manusia diciptakan Allah dari al-Alaq. Dari segi pengertian kebahasaan, kata ‘alaq antara lain berarti sesuatu yang tergantung. Maka perlu bagi kita untuk menjalin silaturahim dan bergaul dengan baik dengan banyak orang. Serta saling menyebarkan salam kepada orang yang kenal atau yang tidak kenal.
“Hendaklah engkau memberi makan, mengucapkan salam kepada siapapun yang engkau kenal maupunyang tidak engkau kenal.” HR. Al Bukhari.
Dan tentu harus tetap  menjalin Ukhuwah Islamiyah yang kuat, Ukhuwah Insaniyah, dan Ukhuwah Wathoniyah yang baik.

Wallahu a’lam



DAFTAR PUSTAKA

Syafe’i, Rachmat. AL-HADIS (Aqidah, Akhlak, Sosial, dan Hukum). Bandung : Pustaka Setia
Alatas, Alwi. Maret 2006. Proud to be Moslem. Syaamil Cipta Media, Bandung
Rasjid, H. Sulaiman. September 2008. FIQH ISLAM. Sinar Baru Algensindo : Bandung
Umar, Musthofa. Juli 2007. Mengenal Allah Melalui Sunnatullah. Tafaqquh Media : Pekanbaru Riau
An-Nawawi, Imam. 2018. DARUL HAQ, Jakarta
Al Utsaimin, Syaikh Muhammad bin Shalih. Maret 2009. 10 Hak Dalam Islam. Pustaka Al Minhaj, Solo - Jawa Tengah
An Nawawi, Imam. 1995. SYARAH HADIS ARBAIN. Alih bahasa ; Drs. Zaini Dahlan. Penerbit : Trigenda Karya
An Nawawi, Imam. Agustus 2006. Riyadhus Sholihin. Penerbit : Duta Ilmu – Surabaya Indonesia
Said, Muhammad. 2010. Pesan-pesan Rasulullah Dalam Majelis Zikir dan Pikir. Penertbit : Gema Insani
Shihab, Quraish M. 22 Mei 2018. Kultum Quraish Shihab : Ajaran Islam tentang Manusia sebagai Makhluk Sosial

Tidak ada komentar:

Posting Komentar