Makalah ini di ajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Tafsir Tarbawi
Semester Genap (Empat)
Dosen Pembimbing
Mimin Mintarsih, M.Pd
Di susun oleh
Eneng Siti Julaeha : 0101.1701.091
Leni Nurlela :
0101.1701.100
Raden Ayu Kusuma Wardani :
0101.1701.104
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGMA ISLAM
STAI DR. KHEZ MUTTAQIEN
PURWAKARTA
2017
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena rahmat, karunia, serta taufik
dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Tafsir Al-Qur’an
Tentang Pendidikan Ruhani ” ini terselesaikan dengan baik meskipun banyak
kekurangaannya didalamnya. Dan juga kami berterimakasih kepada Ibu Mimin
Mintarsih M, Ag.. selaku dosen mata kuliah Tafsir Tarbiyah STAI DR. KHEZ
MUTTAQIEN yang telah memberrikan tugas ini kepada kami.
Kami
sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita tentang Tafsir Al-Qur’an Tentang Pendidikan Ruhani. Kami juga
menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh
dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap ada kritik dan saran demi
perbaikan makalah yang telah kami buat dimasa yang akan datang, mengingat tidak
ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga
makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya
laporan makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun
orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan
kata-kata yang kurang berkenan dan kami mohon kritik dan saran yang membangun
demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.
Purwakarta,
5 Juli 2019
Penyusun,
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
Dalam pandangan
Islam manusia tersusun dari dua unsur, yaitu jasmani dan ruhani. Jasmani adalah
bentuk fisik atau lahiriah manusia – yang sering disebut raga (al-jism).
Sedangkan ruhani adalah hakikat dan substansi manusia yang sering disebut jiwa
atau ruh (al-nafs dan al-ruh). Jiwalah yang membedakan
manusia dengan makhluk lainnya. Dengan jiwa manusia bisa merasa, berpikir,
berkemauan, dan berbuat lebih banyak. Tegasnya, jiwa itulah yang menjadi
hakikat manusia karena sifatnya yang latif, ruhani, dan rabbani.
Keselamatan dan kebahagiaan manusia tergantung pada keadaan jiwanya.
Sebagai
sumber ajaran pertama, Alquran mengintroduksi dirinya sebagai pemberi petunjuk
kepada jalan yang lebih lurus. Petunjuk-petunjuknya memberi kesejahteraan dan
kebahagiaan bagi manusia, baik secara pribadi maupun kelompok, dan karena itu
ditemukan petunjuk-petunjuk bagi manusia dalam kedua bentuk tersebut. Tujuan
pendidikan menurut Alquran adalah membina manusia secara pribadi dan kelompok
sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah swt dan khalifah-Nya.
Manusia yang dibina adalah makhluk yang memiliki unsur material (jasmani) dan
immaterial (akal dan jiwa). Dan didalam
makalah ini kita akan mebahas bagaimana tafsir al-qur’an tentang pendidikan
ruhani.
1.
Apa itu pendidikan ruhani ?
2.
Apa saja unsur dari pendidikan
ruhani?
3.
Apa saja term-term pendidikan
ruhani?
4.
Bagaimana penjelasan/tafsir menurut
al-qur’an tentang pendidikan ruhani?
5.
Apa saja hadist yang berkaitan
dengan pendidikan ruhani ?
1. Mengetahui
pengertian pendidikan ruhani
2. Mengetahui
unsur-unsur pendidikan ruhani
3. Mengetahui
term-term pendidikan ruhani
4. Mengetahui
penjelasan/tafsir tentang pendidikan ruhani
5. Mengetahui
hadist-hadist yang berkaitan dengan pendidikan ruhani
6.
BAB II
PEMBAHASAN
A. RUANG LINGKUP PENDIDIKAN RUHANI
Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia, pendidikan dapat diartikan sebagai proses perubahan sikap dan
tatalaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui
upaya pengajaran dan latihan, proses, perbuatan dan cara mendidik. Pada hakekatnya pendidikan adalah usaha orang tua atau generasi tua untuk
mempersiapkan anak atau generasi muda agar mampu hidup secara mandiri dan mampu
melaksanakan tugas-tugas hidupnya dengan sebaik-baiknya. Orang tua atau
generasi tua memiliki kepentingan untuk mewariskan nilai, norma hidup dan
kehidupan generasi penerus.
Ki Hajar Dewantara
mengatakan:“mendidik ialah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada
anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat
mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Mahmud
menjelaskan bahwa pendidikan ruhani secara islami adalah pendidikan yang
dilaksanakan untuk mengembangkan unsur-unsur keruhanian dan bertujuan untuk
mengajarkan ruh bagaimana memperbaiki hubungannya dengan Allah swt melalui
jalan menyembah dan merendah kepada-Nya serta taat dan tunduk kepada manhaj-Nya. Inilah pokok yang
utama dalam pendidikan ruhani. Kealpaan dalam mendidik ruhani atau kurangnya
perhatian dalam bidang ini akan merusak manusia, baik dari sisi ruh, akal,
tubuh, maupun bangunan sosial seluruhnya. Hal ini karena ruh merupakan bagian
dari manusia yang paling penting.
Selanjutnya,
Mahmud menjelaskan unsur-unsur pendidikan ruhani meliputi:
1. Ruh
diberikan wirid, zikir, dan aturan
2. Ruh
dilatih, diajar, dan dibuat senang terhadap apa yang memperkuat hubungannya
dengan Allah swt
3. Menetapi
sifat insan beriman, dalam diam, berbicara, berbuat dan dalam meninggalkan
sesuatu.
Pendidikan ruhani memberikan
pengaruh pada diri seseorang. Secara garis besar, pengaruh pendidikan ruhani
berdimensi pada tiga hal, yait: 1) diri sendiri, 2) keluarga dan masyarakat
sekitar, dan 3) penerapan ajaran Islam. Di antara pengaruh pendidikan ruhani
adalah sebagai berikut.
1. Membersihkan
seseorang dan menjernihkan jiwanya dari sifat keraguan, waswas, dan rasa
khawatir. Menanamkan keimanan serta keyakinan pada dirinya, dan menghilangkan
rasa cemas serta mendidik jiwa ke arah yang positif dalam menyikapi
permasalahan kehidupan sehingga menjadi insan kamil, bertanggung jawab, dan
produktif, tidak mengenal skeptisisme,
negativisme, dan sikap menyerah.
2. Membiasakan
seseorang mencintai kebaikan dan memprioritaskan kebenaran karena jiwanya telah
bertautan dengan Allah swt. Seseorang yang jiwanya bertautan dengan Allah
swt niscaya akan selalu mencintai kebaikan dan memprioritaskan kebenaran.
3. Menjadikan
seseorang berpegang teguh pada metode yang telah dipilih Allah swt sebagai
agama untuk seluruh manusia. Berpegang teguh kepada metode merupakan jalan
terbaik dalam penyucian jiwa dan pengarahan untuk mencapai keistiqamahan dalam
melaksanakan agama serta manhaj
yang benar. Jika seseorang telah berpegang teguh pada manhaj Allah, ia
akan mendapatkan hikmah besar berupa kesiapan untuk mewujudkan kehidupan mulia
bagi diri sendiri dan orang-orang sekelilingnya.
4. Pendidikan
ruhani mendorong manusia untuk saling mencintai dan berkasih sayang dengan
sesamanya. Pendidikan ruhani juga memberi motivasi untuk selalu mencintai
kebaikan dan berkhidmat demi kepentingan umum. Bahkan, mampu mewujudkan
persaudaraan Islam dan kerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan. Hal ini
merupakan dasar interaksi sosial yang dibangun oleh Islam agar tercipta
kehidupan manusia yang mapan sekaligus membendung tindak kriminalitas dan
perilaku kemaksiatan.
5. Pendidikan
ruhani merupakan sarana bagi seseorang untuk memperoleh taufik dalam segala
perilaku dan perkataannya. Hal ini karena jiwa telah memiliki kesiapan menerima
dan melaksanakan segala perintah Allah sehingga Ia mencintainya.
6. Pendidikan
ruhani mengajar seseorang agar tidak melakukan kesalahan dan tidak melanggar
ketentuan Islam, baik berupa hukum, syarat, maupun etika. Adalah benar bahwa
setiap anak Adam pasti melakukan kesalahan dan mustahil baginya terhindar dari
kesalahan. Akan tetapi, jiwa yang telah terdidik dengan tarbiyah islamiyah
dapat mengarahkan seseorang agar sedikit berbuat kesalahan, banyak
berintrospeksi, menyesal, dan taubat.
7. Pendidikan
ruhani membiasakan ruhani seseorang untuk mencintai kebaikan dan membenci
keburukan, sehingga selalu siap melakukan amar makruf nahi munkar.
Pengejawentahan sikap ini merupakan kewajiban agama bagi orang yang mampu
melaksanakannya, lebih dari itu merupakan tugas yang diprioritaskan demi
kebaikan masyarakat secara menyeluruh.
B. Term-Term Pendidikan Ruhani
Dari penelusuran terhadap beberapa
sumber referensi, pemakalah menemukan empat term yang lazim digunakan untuk
mengarah kepada pendidikan ruhani. Term-term tersebut adalah kalbu, ruh, akal,
dan nafs. Dari keempat term tersebut, pemakalah cenderung
memahaminya sebagai instrumen-instrumen pendidikan ruhani yang selanjutnya
memerlukan sarana pendidikan.
a) Kalbu
Terma qalb dengan
derivasinya terulang dalam Alquran sebanyak 158 kali. Kata kalbu (qalb)
dalam Lisan al-‘Arab berasal dari kata qalaba,
yaqlibu, qalban yang berarti berubahnya sesuatu dari arahnya (tahwil
al-sya’i ‘an wajhihi). Dalam Mu’jam Maqayis al-Lugah, qalb memiliki
dua makna, yaitu: 1) menunjukkan kemurnian dan kemuliaan (yadullu ‘ala
khalisin syai’in wa syarifihi), dan 2) berbaliknya sesuatu dari satu arah
ke arah lain (raddu syai’in min jihatin ila jihatiin).
Selanjutnya, Shihab mengatakan bahwa
kataqalb terambil dari akar kata yang bermakna membalik
karena sering kali ia berbolak-balik, sekali senang, sekali susah, sekali
setuju dan sekali menolak. Qalb sangat berpotensi untuk tidak
konsisten. Alquran pun menggambarkan demikian, ada yang baik dan ada pula yang
sebaliknya. Sedangkan Al-Maraghi memaknai qalb sebagai lubb yang
dengannya orang memiliki kesadaran, sampai padanya pendengaran, yaitu
mendengarkan wahyu yang dibacakan kepadanya.
Kaitannya dalam konteks pendidikan,
Alquran memaknai qalb sebagai wadah bagi fitrah dan
tempat muculnya (tajalli) ruh. Qalb berkaitan
erat dengan kalbu zahir (sanubari) di mana berbagai keadaan qalb seperti
rasa takut (khauf), lelah, ketenangan, yang semuanya itu memberi
pengaruh terhadap bentuk kalbu zahir. Dengan demikian, qalbmerupakan
sumber kebaikan (khair), kejahatan (syarr), emosi, perasaan,
kecenderungan fitrah, niat, kehendah, dan lain-lain.Qalb juga
merupakan pusat hubungan manusia dengan Allah swt, sebagaimana yang dinyatakan
dalam surat Qaf ayat 37 :
Tafsir ayat :
(Sesungguhnya pada yang
demikian itu) pada hal-hal yang telah disebutkan itu (benar-benar terdapat
peringatan) yakni pelajaran (bagi orang yang mempunyai akal) pikiran (atau yang
menggunakan pendengarannya) artinya, mau mendengar nasihat (sedangkan dia
menyaksikannya) maksudnya, hatinya hadir.
b) Ruh
Term ruh terulang dalam Alquran
sebanyak 23 kali. Kata ruh berasal dari katarawiha, yarwahu, rauhan,
yang menunjukkan makna suatu kapasitas, bentangan, dan kemantapan, selain itu menunjukkan
kepada makna angin yang berhembus; bisa juga menunjukkan kepada malaikat Jibril.
Menurut Farhadian, ruh merupakan sesuatu yang menunjukkan hakikat insaniah
manusia, sedangkan jasad merupakan sarana yang dengannya ruh melaksanakan aktivitas
di dunia. Selanjutnya dikatakannya bahwa aspek jasmani dan ruhani harus
dikembangkan secara bersama-sama, tidak menitikberatkan pada satu aspek
saja.
Alquran berbicara mengenai ruh di
beberapa ayat, salah satunya terdapat pada surat Al-Isra’ ayat 85 :
Dan mereka bertanya
kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan
tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".
Tafsir ayat :
(Dan mereka bertanya
kepadamu) yaitu orang-orang Yahudi (tentang roh,) yang karenanya jasad ini
dapat hidup ("Katakanlah) kepada mereka! ('Roh itu termasuk urusan Rabbku)
artinya termasuk ilmu-Nya oleh karenanya kalian tidak akan dapat mengetahuinya
(dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.'") dibandingkan
dengan ilmu Allah swt.
c) Akal
Term akal (‘aql) dan
derivasinya (asal mula) terulang dalam Alquran sebanyak 48 kali. Kata ‘aql berasal
dari kata ‘aqala, ya’qilu, ‘aqlan, yang bermakna besarnya
penghalang terhadap sesuatu (‘uzmuhu ‘ala hubsatin fi sya’in). Kata‘aql (akal)
tidak ditemukan dalam Alquran, yang ada adalah bentuk kata kerja – masa kini,
dan lampau. Kata tersebut dari segi bahasa pada mulanya berarti tali pengikat,
dan penghalang. Alquran menggunakannya bagi “sesuatu yang mengikat atau
menghalangi seseorang terjerumus dalam kesalahan atau dosa”. Alquran tidak
menjelaskan secara eksplisit tentang apa itu‘aql. Namun, dari konteks
ayat yang menggunakan akar kata ‘aql dapat dipahami bahwa‘aql antara
lain adalah:
1. Daya
untuk memahami dan menggambarkan sesuatu, seperti firman-Nya dalam QS.
Al-‘Ankabut (29): 43.
Demikian itulah
perumpamaan-perumpamaan yang Kami berikan kepada manusia, tetapi tidak ada yang
memahaminya kecuali orang-orang yang alim (berpengetahuan)(QS.
Al-‘Ankabut [29]: 43).
Daya dalam manusia dalam hal ini
berbeda-beda. Ini diisyaratkan Alquran antara lain dalam ayat-ayat yang
berbicara tentang kejadian langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang,
dan lain-lain. Ada yang dinyatakan sebagai bukti-bukti keesaan Allah swt bagi
orang-orang yang berakal (QS. Al-Baqarah [2]: 164), dan ada juga bagi ulul
al-bab yang juga dengan makna yang sama, tetapi mengandung pengertian
lebih tajam dari sekedar memiliki pengetahuan. Keanekaragaman akal dalam
konteks menarik makna dan menyimpulkan terlihat juga dari penggunaan
istilah-istilah seperti nazara, tafakkur, tadabbur dan
sebagainya yang semuanya mengandung makna mengantar kepada pengertian dan
kemampuan pemahaman.
2. Dorongan
untuk mengambil pelajaran dan kesimpulan serta hikmah
Untuk maksud ini biasanya digunakan
kata rusyd. Daya ini menggabungkan kedua daya di atas, sehingga ia
mengandung daya memahami, menganalisis, dan menyimpulkan, serta dorongan moral
yang disertai dengan kematangan berpikir. Seseorang yang memiliki dorongan
moral, boleh jadi tidak memiliki daya pikir yang kuat, dan boleh jadi juga
seseorang yang memiliki daya pikir yang kuat tidak memiliki dorongan moral,
tetapi seseorang yang memiliki rusyd, ia telah menggabungkan kedua
keistimewaan tersebut. Dari sini dapat dipahami mengapa penghuni neraka di hari
kemudia berkata,
Dalam konteks pendidikan ruhani,
akal memiliki kedudukan yang penting dalamnafs sekaligus sebagai
bentuk keistimewaan manusia dari seluruh ciptaan-Nya. Alquran mendorong manusia
untuk melakukan aktivitas berpikir, bernalar, dan bertadabur dan mendayagunakan
potensi akal yang luar biasa. Dengan potensi akal manusia bisa memperoleh
pengetahuan dan petunjuk, mengenali baik dan buruk, dan sekaligus sebagai
penimbang (mizan), juga sebagai pembuat keputusan yang kelak
dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ataupun manusia. Alquran memberikan
bahwa bila manusia meninggalkan aktivitas berfikir dan bernalar secara benar,
setan akan hadir untuk menyesatkan manusia.
d) Nafs
Nafs adalah al-jawhar atau substansi yang menyebabkan manusia berbedakualitasnya dengan
makhluk yang lain, yakni yang menyebabkan manusiamampu menggagas, berpikir dan
merenung, kemudian dengan gagasan danpikirannya itu manusia mengambil
keputusan, dan dengan pikirannya itumanusia juga dapat menangkap rambu-rambu
dan symbol-simbol yangmembuatnya harus memilih jalan mana yang harus
ditempuh.Menurut al-Qur’an, nafs memiliki kemerdekaan dan memiliki peluangapakah kemudian cenderung
kepada kebaikan dan alergi kepada keburukanatau sebaliknya, bergantung kepada
faktor-faktor yang mempengaruhinya.Faktor terpenting dalam hal ini adalah
bagaimana manusia mengendalikankodrat fitriahnya, tabiat individualnya serta
daya responnya terhadaplingkungan sebelum melakukan
suatu perbuatan.Menurut al-Qur’an, nafs memiliki kemerdekaan untuk membedakanantara kebaikan dan
keburukan, dan dengan alat bantu yang tersedia,memungkinkan memilih jalan atau
mengubah keputusan, sehingga suatu nafs
memutuskan untuk memilih jalan yang menuju kepada martabat takwa,
dan diwaktu yang lain menyimpang ke jalan yang sesat.Dalam surat al-Isra/ 17:
15 disebutkan:
Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan
hidayah (Allah), Maka Sesungguhnyadia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya
sendiri; dan barangsiapa yang sesatMaka Sesungguhnya dia tersesat bagi
(kerugian) dirinya sendiri. dan seorangyang berdosa tidak dapat memikul dosa
orang lain, dan kami tidak akanmeng'azab sebelum kami mengutus seorang
rasul.Sejalan dengan kemerdekaan yang diberi oleh Tuhan, Nafs juga diberitanggung jawab dan
otonomi. Seperti dijelaskan ayat di atas, bahwa seseorangyang berdosa tidak
akan memikul dosa orang lain, dan Tuhan tidak akanmemberi azab sebelum terlebih
dahulu memberi rambu-rambu yang harusdipatuhi melalui rasul-Nya. Kemerdekaan
dan tanggung jawab nafs
itu diberikansedemikian rupa hingga Tuhan
mengingatkan bahwa Dia mengetahui sisi dalamyang disembunyikan manusia.
C. Sarana-Sarana Pendidikan Ruhani
Menurut Hasan Mi’an, di antara sarana-sarana pendidikan ruhani adalah pelaksanaan qiyam
al-lail, mengingat Allah, dan berpuasa.
1. Pelaksanaan Qiyam al-Lail (QS. Muzammil ayat 1-4)
Tafsir ayat :
Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili QS.
Muzammil ayat 1-4.
Telah datang dalam shahih bukhari bahwa Nabi ﷺ ketika datang
kepadanya Jibril dan Nabi pada saat itu beribadah di gua hira, kemudian turun
kepadanya : {Al Alaq : 1}; Nabi pulang ke istrinya (Khadijah), dan Nabi gemetar
karena seolah ada yang menakutinya di tempat yang tidak pernah ia temui yang
semisal dengannya. Nabi berkata kepada istrinya : Selimuti aku, selimuti aku,
sungguh aku sangat ketakutan. Kemudian Nabi kabarkan kepada istrinya atas
kejadian sebenarnya. Maka Khadijah mengokohkan hatinya dan menenangkannya,
kemudian ia menyelimutinya dengan kain selimut, atau berselimut dengannya.
Kemudian Allah menyerunya dengan ramah dan lembut, Allah berkata : Wahai
manusia yang tertutup di tempat tidurnya, letakkan penutupmu dan kain selimut
yang menutupimu. kerjakan shalat malam dengan ringan (sebentar), dan bagimu
masih memiliki setengah malam, atau pemudahlah shalatmu sampai datang sepertiga
malam atau tambahkan setengah malam sampai datang sepertiga malam. Dan Allah
memerintahkan untuk membaca Al Qur’an di sepanjang waktu shalat malam dengan
bacaan yang dihayati, yakin, pelan dan perlahan, agar menolongmu paham Al
Qur’an dan dapatmentadabburinya.
Melakukan qiyam al-lail merupakan bentuk mujahadah nafs.
Hal ini karena pelaksanaan qiyam al-lail merupakan sesuatu
yang berat dengan pertimbangan lelahnya bekerja di siang hari, nikmatnya tidur,
adanya perasaan sendirian bangun tengah malam. Pengaruh pendidikan yang
dihasilkan dari qiyam al-lail adalah terbinanya kehendak (iradah),
tumbuhnya kesabaran, dan terbentuknya kepribadian islami
Rasulullah SAW bersabda: ‘Wahai kaum muslimin, sebarkanlah salam,
berikanlah makan kepada fakir miskin, peliharalah hubungan dengan silaturahmi,
shalatlah di waktu malam ketika orang banyak sedang tertidur lelap, niscaya
kalian akan masuk surga dengan aman.’” (HR. Ibnu Majah No. 3251, 1334;
At-Tirmidzi No. 2485, 1984; HR. Al-Hakim, 3/13; HR. Ahmad, 5/451, dishahihkan
oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah No.
569; Irwa’ul Ghalil, 3/239)
2. Mengingat Allah (Ar-Rad ayat 28)
Tafsir ayat :
(yaitu) orang-orang yang beriman) Mereka adalah
orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan yang bertaubat kepada-Nya.
dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah)
Yakni yang menjadi tenang dan tentram dengan berzikir kepada Allah dengan lisan
mereka, seperti membaca al-Qur’an, bertasbih, bertahmid, bertakbir, bertahlil,
atau dengan mendengarkan zikir tersebut dari orang lain. (Ingatlah, hanya
dengan mengingati Allah-lah) Tanpa menyebut selain-Nya. (hati menjadi tenteram)
Meskipun mentafakkuri makhluk-makhluk Allah, ciptaan-ciptaan, dan
mukjizat-mukjizat-Nya secara umum menjadikan hati menjadi tentram, namun hasilnya
tidak seperti ketentraman dengan berzikir kepada Allah.
Al-Maragi menjelaskan bahwa
ketenangan (tatma’innu) bermakna kekhusyukan dan keteguhan. Dengan
ketenangan dan keteguhan ini mengantarkan kalbu orang mukmin memiliki rasa
takut (khasyah) kepada Allah. Selanjutnya ia menegaskan bahwa kalbu
orang kafir dipenuhi oleh hawa nafs yang cenderung menjadi
tenang karena hal-hal yang duniawi dan juga kenikmatannya.
Dari ‘Abdullâh bin Busr
Radhiyallahu anhu berkata, “Seorang Badui datang kepada Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam kemudian berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, sesungguhnya
syariat-syariat Islam sudah banyak pada kami. Beritahukanlah kepada kami
sesuatu yang kami bisa berpegang teguh kepadanya ?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, ‘Hendaklah lidahmu senantiasa berdzikir kepada Allâh Azza wa
Jalla”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya (IV/188, 190); at-Tirmidzi (no. 3375). Beliau berkata, “Hadits ini hasan gharib.”; Ibnu Majah (no. 3793) dan lafazh ini miliknya. Ibnu Abi Syaibah (X/89, no. 29944); Al-Baihaqi (III/371)
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya (IV/188, 190); at-Tirmidzi (no. 3375). Beliau berkata, “Hadits ini hasan gharib.”; Ibnu Majah (no. 3793) dan lafazh ini miliknya. Ibnu Abi Syaibah (X/89, no. 29944); Al-Baihaqi (III/371)
3. Berpuasa (QS. An-Naziat ayat 40)
Tafsir
Ayat :
Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh di bawah
pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)
40-41.
Adapun mereka yang takut kepada Dzat Yang Maha Suci yaitu
Allah, dan mempersiapkan bekal hari kiamat. Kemudian mampu menahan hawa nafsu
mereka maka tempat tinggal bagi mereka adalah surga. Tidak ada tempat lain yang
sesuai selain surga. Neraka adalah tempat bagi orang yang bermaksiat dan surga
adalah tempat bagi orang yang taat.
Secara
khusus, pendidikan ruhani yang dapat dilakukan untuk aspek nafs antara
lain sebagai berikut.
1. Mengendalikan
syahwat makan sebagai kebutuhan pokok.
a) Mengkonsumsi
makanan yang halal dan baik
b) Makan
dan minum secara tidak berlebihan.
c) Tidak
mengkonsumsi makanan yang diharamkan Allah.
2. Mengendalikan
naluri seksual
a) Menikah
sebagai jalan yang sah.
b) Tidak
menikah dengan wanita musyrik.
c) Memperlakukan
isteri secara pantas.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Aspek-aspek
ruhani manusia tidak bisa dipisahkan pemenuhan kebutuhannya karena aspek-aspek
tersebut menjadi satu totalitas, yang disebut dimensi ruhani. Ruh berhubungan
dengan nafsdemi kesempurnaan ruh, dan nafs berhubungan
dengan jasad demi kekuatan nafs. Adapun akal menempati bagian
terpenting dalam nafs, sedangkan qalbmerupakan wadah
bagi tampilnya ruh. Kesemua aspek ruhani di atas memerlukan pendidikan yang
khas yang tidak kalah pentingnya dengan pendidikan jasmani.
Jasmani dan
ruhani manusia memiliki keterkaitan yang erat. Keduanya memerlukan pendidikan
yang khas. Titik temu kedua pendidikan itu berada pada cara pemenuhan kebutuhan
pendidikan. Pendidikan jasmani menekankan kepada perlunya aktivitas fisik.
Kemampuan aktivitas fisik manusia salah satunya misalnya dimanfaatkan untuk
pemenuhan kebutuhan primernya, yaitu kebutuhan akan makanan. Dari aspek
pendidikan ruhani, sumber makanan yang tidak halal mempengaruhi tumbuh-kembangnya
dimensi ruhani manusia ke arah yang tidak baik.
Selain itu,
titik temu antara pendidikan jasmani dan ruhani adalah pada tampilan
aktivitas fisik manusia dalam kehidupan. Perilaku lahiriah manusia dipengaruhi
oleh potensi-potensi ruhani manusia. Dengan demikian tidak dibenarkan
adanya pengabaian atau lebih menitikberatkan pada satu aspek unsur manusia saja
(jasmani atau rohani) dalam pendidikan. Pendidikan ruhani dapat dilakukan
melalui proses pembiasaan dan penyucian.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.slideshare.net/shofichofifah/pendidikan-ruhani.
Di akses pada tanggal 05 Juni 2019
http://jurnal.iain-padangsidimpuan.ac.id/index.php/F/article/view/477.
Di akses pada tanggal 05 Juni 2019
https://almanhaj.or.id/3499-keutamaan-shalat-malam-dan-anjurannya.html.
Di akses pada tanggal 06 Juni 2019
Di akses pada tanggal 06 Juni 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar