Rabu, 28 Agustus 2019

MAKALAH TAFSIR TARBAWI (PENDIDIKAN RUHANI)



Makalah ini di ajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi
Semester Genap (Empat)
Dosen Pembimbing
Mimin Mintarsih, M.Pd

Di susun oleh
Eneng Siti Julaeha                   : 0101.1701.091
Leni Nurlela                             : 0101.1701.100
Raden Ayu Kusuma Wardani : 0101.1701.104

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGMA  ISLAM
STAI DR. KHEZ MUTTAQIEN
 PURWAKARTA
2017

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Tafsir Al-Qur’an Tentang Pendidikan Ruhani ” ini terselesaikan dengan baik meskipun banyak kekurangaannya didalamnya. Dan juga kami berterimakasih kepada Ibu Mimin Mintarsih M, Ag.. selaku dosen mata kuliah Tafsir Tarbiyah STAI DR. KHEZ MUTTAQIEN yang telah memberrikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita tentang Tafsir Al-Qur’an Tentang Pendidikan Ruhani. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap ada kritik dan saran demi perbaikan makalah yang telah kami buat dimasa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami mohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.  

Purwakarta, 5 Juli 2019 
Penyusun,



DAFTAR ISI




BAB I

PENDAHULUAN

Dalam pandangan Islam manusia tersusun dari dua unsur, yaitu jasmani dan ruhani. Jasmani adalah bentuk fisik atau lahiriah manusia – yang sering disebut raga (al-jism). Sedangkan ruhani adalah hakikat dan substansi manusia yang sering disebut jiwa atau ruh (al-nafs dan al-ruh). Jiwalah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Dengan jiwa manusia bisa merasa, berpikir, berkemauan, dan berbuat lebih banyak. Tegasnya, jiwa itulah yang menjadi hakikat manusia karena sifatnya yang latif, ruhani, dan rabbani. Keselamatan dan kebahagiaan manusia tergantung pada keadaan jiwanya.
Sebagai sumber ajaran pertama, Alquran mengintroduksi dirinya sebagai pemberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus. Petunjuk-petunjuknya memberi kesejahteraan dan kebahagiaan bagi manusia, baik secara pribadi maupun kelompok, dan karena itu ditemukan petunjuk-petunjuk bagi manusia dalam kedua bentuk tersebut. Tujuan pendidikan menurut Alquran adalah membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah swt dan khalifah-Nya. Manusia yang dibina adalah makhluk yang memiliki unsur material (jasmani) dan immaterial (akal dan jiwa).  Dan didalam makalah ini kita akan mebahas bagaimana tafsir al-qur’an tentang pendidikan ruhani.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.    Apa itu pendidikan ruhani ?
2.    Apa saja unsur dari pendidikan ruhani?
3.    Apa saja term-term pendidikan ruhani?
4.    Bagaimana penjelasan/tafsir menurut al-qur’an tentang pendidikan ruhani?
5.    Apa saja hadist yang berkaitan dengan pendidikan ruhani ?
1.      Mengetahui pengertian pendidikan ruhani
2.      Mengetahui unsur-unsur pendidikan ruhani
3.      Mengetahui term-term pendidikan ruhani
4.      Mengetahui penjelasan/tafsir tentang pendidikan ruhani
5.      Mengetahui hadist-hadist yang berkaitan dengan pendidikan ruhani


6.       

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    RUANG LINGKUP PENDIDIKAN RUHANI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan dapat diartikan sebagai proses perubahan sikap dan tatalaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses, perbuatan dan cara mendidik. Pada hakekatnya pendidikan adalah usaha orang tua atau generasi tua untuk mempersiapkan anak atau generasi muda agar mampu hidup secara mandiri dan mampu melaksanakan tugas-tugas hidupnya dengan sebaik-baiknya. Orang tua atau generasi tua memiliki kepentingan untuk mewariskan nilai, norma hidup dan kehidupan generasi penerus.
Ki Hajar Dewantara mengatakan:“mendidik ialah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Mahmud menjelaskan bahwa pendidikan ruhani secara islami adalah pendidikan yang dilaksanakan untuk mengembangkan unsur-unsur keruhanian dan bertujuan untuk mengajarkan ruh bagaimana memperbaiki hubungannya dengan Allah swt melalui jalan menyembah dan merendah kepada-Nya serta taat dan tunduk kepada manhaj-Nya. Inilah pokok yang utama dalam pendidikan ruhani. Kealpaan dalam mendidik ruhani atau kurangnya perhatian dalam bidang ini akan merusak manusia, baik dari sisi ruh, akal, tubuh, maupun bangunan sosial seluruhnya. Hal ini karena ruh merupakan bagian dari manusia yang paling penting.
Selanjutnya, Mahmud menjelaskan unsur-unsur pendidikan ruhani meliputi:
1.      Ruh diberikan wirid, zikir, dan aturan
2.      Ruh dilatih, diajar, dan dibuat senang terhadap apa yang memperkuat hubungannya dengan Allah swt
3.      Menetapi sifat insan beriman, dalam diam, berbicara, berbuat dan dalam meninggalkan sesuatu. 
Pendidikan ruhani memberikan pengaruh pada diri seseorang. Secara garis besar, pengaruh pendidikan ruhani berdimensi pada tiga hal, yait: 1) diri sendiri, 2) keluarga dan masyarakat sekitar, dan 3) penerapan ajaran Islam. Di antara pengaruh pendidikan ruhani adalah sebagai berikut.
1.      Membersihkan seseorang dan menjernihkan jiwanya dari sifat keraguan, waswas, dan rasa khawatir. Menanamkan keimanan serta keyakinan pada dirinya, dan menghilangkan rasa cemas serta mendidik jiwa ke arah yang positif dalam menyikapi permasalahan kehidupan sehingga menjadi insan kamil, bertanggung jawab, dan produktif, tidak mengenal skeptisisme, negativisme, dan sikap menyerah.
2.      Membiasakan seseorang mencintai kebaikan dan memprioritaskan kebenaran karena jiwanya telah bertautan dengan Allah swt.  Seseorang yang jiwanya bertautan dengan Allah swt niscaya akan selalu mencintai kebaikan dan memprioritaskan kebenaran.
3.      Menjadikan seseorang berpegang teguh pada metode yang telah dipilih Allah swt sebagai agama untuk seluruh manusia. Berpegang teguh kepada metode merupakan jalan terbaik dalam penyucian jiwa dan pengarahan untuk mencapai keistiqamahan dalam melaksanakan agama serta manhaj yang benar.  Jika seseorang telah berpegang teguh pada manhaj Allah, ia akan mendapatkan hikmah besar berupa kesiapan untuk mewujudkan kehidupan mulia bagi diri sendiri dan orang-orang sekelilingnya.
4.      Pendidikan ruhani mendorong manusia untuk saling mencintai dan berkasih sayang dengan sesamanya. Pendidikan ruhani juga memberi motivasi untuk selalu mencintai kebaikan dan berkhidmat demi kepentingan umum. Bahkan, mampu mewujudkan persaudaraan Islam dan kerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan. Hal ini merupakan dasar interaksi sosial yang dibangun oleh Islam agar tercipta kehidupan manusia yang mapan sekaligus membendung tindak kriminalitas dan perilaku kemaksiatan.
5.      Pendidikan ruhani merupakan sarana bagi seseorang untuk memperoleh taufik dalam segala perilaku dan perkataannya. Hal ini karena jiwa telah memiliki kesiapan menerima dan melaksanakan segala perintah Allah sehingga Ia mencintainya.
6.      Pendidikan ruhani mengajar seseorang agar tidak melakukan kesalahan dan tidak melanggar ketentuan Islam, baik berupa hukum, syarat, maupun etika. Adalah benar bahwa setiap anak Adam pasti melakukan kesalahan dan mustahil baginya terhindar dari kesalahan. Akan tetapi, jiwa yang telah terdidik dengan tarbiyah islamiyah dapat mengarahkan seseorang agar sedikit berbuat kesalahan, banyak berintrospeksi, menyesal, dan taubat.
7.      Pendidikan ruhani membiasakan ruhani seseorang untuk mencintai kebaikan dan membenci keburukan, sehingga selalu siap melakukan amar makruf nahi munkar. Pengejawentahan sikap ini merupakan kewajiban agama bagi orang yang mampu melaksanakannya, lebih dari itu merupakan tugas yang diprioritaskan demi kebaikan masyarakat secara menyeluruh.

B.  Term-Term Pendidikan Ruhani

Dari penelusuran terhadap beberapa sumber referensi, pemakalah menemukan empat term yang lazim digunakan untuk mengarah kepada pendidikan ruhani. Term-term tersebut adalah kalbu, ruh, akal, dan nafs. Dari keempat term tersebut, pemakalah cenderung memahaminya sebagai instrumen-instrumen pendidikan ruhani yang selanjutnya memerlukan sarana pendidikan.

a)      Kalbu

Terma qalb dengan derivasinya terulang dalam Alquran sebanyak 158 kali. Kata kalbu (qalb) dalam Lisan al-‘Arab berasal dari kata qalaba, yaqlibu, qalban yang berarti berubahnya sesuatu dari arahnya (tahwil al-sya’i ‘an wajhihi). Dalam Mu’jam Maqayis al-Lugahqalb memiliki dua makna, yaitu: 1) menunjukkan kemurnian dan kemuliaan (yadullu ‘ala khalisin syai’in wa syarifihi), dan 2) berbaliknya sesuatu dari satu arah ke arah lain (raddu syai’in min jihatin ila jihatiin).
Selanjutnya, Shihab mengatakan bahwa kataqalb  terambil dari akar kata yang bermakna membalik karena sering kali ia berbolak-balik, sekali senang, sekali susah, sekali setuju dan sekali menolak. Qalb sangat berpotensi untuk tidak konsisten. Alquran pun menggambarkan demikian, ada yang baik dan ada pula yang sebaliknya. Sedangkan Al-Maraghi memaknai qalb sebagai lubb yang dengannya orang memiliki kesadaran, sampai padanya pendengaran, yaitu mendengarkan wahyu yang dibacakan kepadanya.
Kaitannya dalam konteks pendidikan, Alquran memaknai qalb sebagai wadah bagi fitrah dan tempat  muculnya  (tajalli)  ruh. Qalb berkaitan erat dengan kalbu zahir (sanubari) di mana berbagai keadaan qalb seperti rasa takut (khauf), lelah, ketenangan, yang semuanya itu memberi pengaruh terhadap bentuk kalbu zahir. Dengan demikian, qalbmerupakan sumber kebaikan (khair), kejahatan (syarr), emosi, perasaan, kecenderungan fitrah, niat, kehendah, dan lain-lain.Qalb juga merupakan pusat hubungan manusia dengan Allah swt, sebagaimana yang dinyatakan dalam surat Qaf ayat 37 :





Tafsir ayat :
(Sesungguhnya pada yang demikian itu) pada hal-hal yang telah disebutkan itu (benar-benar terdapat peringatan) yakni pelajaran (bagi orang yang mempunyai akal) pikiran (atau yang menggunakan pendengarannya) artinya, mau mendengar nasihat (sedangkan dia menyaksikannya) maksudnya, hatinya hadir.      

b)     Ruh

Term ruh terulang dalam Alquran sebanyak 23 kali. Kata ruh berasal dari katarawiha, yarwahu, rauhan, yang menunjukkan makna suatu kapasitas, bentangan, dan kemantapan, selain itu menunjukkan kepada makna angin yang berhembus; bisa juga menunjukkan kepada malaikat Jibril.
            Menurut Farhadian, ruh merupakan sesuatu yang menunjukkan hakikat insaniah manusia, sedangkan jasad merupakan sarana yang dengannya ruh melaksanakan aktivitas di dunia. Selanjutnya dikatakannya bahwa aspek jasmani dan ruhani harus dikembangkan secara  bersama-sama, tidak menitikberatkan pada satu aspek saja.
Alquran berbicara mengenai ruh di beberapa ayat, salah satunya terdapat pada surat Al-Isra’ ayat 85 :
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".
Tafsir ayat :
(Dan mereka bertanya kepadamu) yaitu orang-orang Yahudi (tentang roh,) yang karenanya jasad ini dapat hidup ("Katakanlah) kepada mereka! ('Roh itu termasuk urusan Rabbku) artinya termasuk ilmu-Nya oleh karenanya kalian tidak akan dapat mengetahuinya (dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.'") dibandingkan dengan ilmu Allah swt.

c)      Akal

Term akal (‘aql) dan derivasinya (asal mula) terulang dalam Alquran sebanyak 48 kali. Kata ‘aql berasal dari kata ‘aqala, ya’qilu, ‘aqlan, yang bermakna besarnya penghalang terhadap sesuatu (‘uzmuhu ‘ala hubsatin fi sya’in). Kata‘aql (akal) tidak ditemukan dalam Alquran, yang ada adalah bentuk kata kerja – masa kini, dan lampau. Kata tersebut dari segi bahasa pada mulanya berarti tali pengikat, dan penghalang. Alquran menggunakannya bagi “sesuatu yang mengikat atau menghalangi seseorang terjerumus dalam kesalahan atau dosa”. Alquran tidak menjelaskan secara eksplisit tentang apa itu‘aql. Namun, dari konteks ayat yang menggunakan akar kata ‘aql dapat dipahami bahwa‘aql antara lain adalah:
1.      Daya untuk memahami dan menggambarkan sesuatu, seperti firman-Nya dalam QS. Al-‘Ankabut (29): 43.
Demikian itulah perumpamaan-perumpamaan yang Kami berikan kepada manusia, tetapi tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang alim (berpengetahuan)(QS. Al-‘Ankabut [29]: 43).
Daya dalam manusia dalam hal ini berbeda-beda. Ini diisyaratkan Alquran antara lain dalam ayat-ayat yang berbicara tentang kejadian langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, dan lain-lain. Ada yang dinyatakan sebagai bukti-bukti keesaan Allah swt bagi orang-orang yang berakal (QS. Al-Baqarah [2]: 164), dan ada juga bagi ulul al-bab yang juga dengan makna yang sama, tetapi mengandung pengertian lebih tajam dari sekedar memiliki pengetahuan. Keanekaragaman akal dalam konteks menarik makna dan menyimpulkan terlihat juga dari penggunaan istilah-istilah seperti nazara, tafakkur, tadabbur dan sebagainya yang semuanya mengandung makna mengantar kepada pengertian dan kemampuan pemahaman.



2.      Dorongan untuk mengambil pelajaran dan kesimpulan serta hikmah
Untuk maksud ini biasanya digunakan kata rusyd. Daya ini menggabungkan kedua daya di atas, sehingga ia mengandung daya memahami, menganalisis, dan menyimpulkan, serta dorongan moral yang disertai dengan kematangan berpikir. Seseorang yang memiliki dorongan moral, boleh jadi tidak memiliki daya pikir yang kuat, dan boleh jadi juga seseorang yang memiliki daya pikir yang kuat tidak memiliki dorongan moral, tetapi seseorang yang memiliki rusyd, ia telah menggabungkan kedua keistimewaan tersebut. Dari sini dapat dipahami mengapa penghuni neraka di hari kemudia berkata,

Dalam konteks pendidikan ruhani, akal memiliki kedudukan yang penting dalamnafs sekaligus sebagai bentuk keistimewaan manusia dari seluruh ciptaan-Nya. Alquran mendorong manusia untuk melakukan aktivitas berpikir, bernalar, dan bertadabur dan mendayagunakan potensi akal yang luar biasa. Dengan potensi akal manusia bisa memperoleh pengetahuan dan petunjuk, mengenali baik dan buruk, dan sekaligus sebagai penimbang (mizan), juga sebagai pembuat keputusan yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ataupun manusia. Alquran memberikan bahwa bila manusia meninggalkan aktivitas berfikir dan bernalar secara benar, setan akan hadir untuk menyesatkan manusia.




d)     Nafs

Nafs adalah al-jawhar atau substansi yang menyebabkan manusia berbedakualitasnya dengan makhluk yang lain, yakni yang menyebabkan manusiamampu menggagas, berpikir dan merenung, kemudian dengan gagasan danpikirannya itu manusia mengambil keputusan, dan dengan pikirannya itumanusia juga dapat menangkap rambu-rambu dan symbol-simbol yangmembuatnya harus memilih jalan mana yang harus ditempuh.Menurut al-Qur’an, nafs memiliki kemerdekaan dan memiliki peluangapakah kemudian cenderung kepada kebaikan dan alergi kepada keburukanatau sebaliknya, bergantung kepada faktor-faktor yang mempengaruhinya.Faktor terpenting dalam hal ini adalah bagaimana manusia mengendalikankodrat fitriahnya, tabiat individualnya serta daya responnya terhadaplingkungan sebelum melakukan suatu perbuatan.Menurut al-Qur’an, nafs memiliki kemerdekaan untuk membedakanantara kebaikan dan keburukan, dan dengan alat bantu yang tersedia,memungkinkan memilih jalan atau mengubah keputusan, sehingga suatu nafs memutuskan untuk memilih jalan yang menuju kepada martabat takwa, dan diwaktu yang lain menyimpang ke jalan yang sesat.Dalam surat al-Isra/ 17: 15 disebutkan:


Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), Maka Sesungguhnyadia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesatMaka Sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. dan seorangyang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan kami tidak akanmeng'azab sebelum kami mengutus seorang rasul.Sejalan dengan kemerdekaan yang diberi oleh Tuhan, Nafs juga diberitanggung jawab dan otonomi. Seperti dijelaskan ayat di atas, bahwa seseorangyang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan Tuhan tidak akanmemberi azab sebelum terlebih dahulu memberi rambu-rambu yang harusdipatuhi melalui rasul-Nya. Kemerdekaan dan tanggung jawab nafs
itu diberikansedemikian rupa hingga Tuhan mengingatkan bahwa Dia mengetahui sisi dalamyang disembunyikan manusia.

C.  Sarana-Sarana Pendidikan Ruhani

            Menurut Hasan Mi’an, di antara sarana-sarana pendidikan ruhani adalah pelaksanaan qiyam al-lail, mengingat Allah, dan berpuasa.



1.      Pelaksanaan Qiyam al-Lail (QS. Muzammil ayat 1-4)

 
Tafsir ayat :
Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili QS. Muzammil ayat 1-4.
Telah datang dalam shahih bukhari bahwa Nabi ﷺ ketika datang kepadanya Jibril dan Nabi pada saat itu beribadah di gua hira, kemudian turun kepadanya : {Al Alaq : 1}; Nabi pulang ke istrinya (Khadijah), dan Nabi gemetar karena seolah ada yang menakutinya di tempat yang tidak pernah ia temui yang semisal dengannya. Nabi berkata kepada istrinya : Selimuti aku, selimuti aku, sungguh aku sangat ketakutan. Kemudian Nabi kabarkan kepada istrinya atas kejadian sebenarnya. Maka Khadijah mengokohkan hatinya dan menenangkannya, kemudian ia menyelimutinya dengan kain selimut, atau berselimut dengannya. Kemudian Allah menyerunya dengan ramah dan lembut, Allah berkata : Wahai manusia yang tertutup di tempat tidurnya, letakkan penutupmu dan kain selimut yang menutupimu. kerjakan shalat malam dengan ringan (sebentar), dan bagimu masih memiliki setengah malam, atau pemudahlah shalatmu sampai datang sepertiga malam atau tambahkan setengah malam sampai datang sepertiga malam. Dan Allah memerintahkan untuk membaca Al Qur’an di sepanjang waktu shalat malam dengan bacaan yang dihayati, yakin, pelan dan perlahan, agar menolongmu paham Al Qur’an dan dapatmentadabburinya.

            Melakukan qiyam al-lail merupakan bentuk mujahadah nafs. Hal ini karena pelaksanaan qiyam al-lail merupakan sesuatu yang berat dengan pertimbangan lelahnya bekerja di siang hari, nikmatnya tidur, adanya perasaan sendirian bangun tengah malam. Pengaruh pendidikan yang dihasilkan dari qiyam al-lail adalah terbinanya kehendak (iradah), tumbuhnya kesabaran, dan  terbentuknya kepribadian islami
Rasulullah SAW bersabda:Wahai kaum muslimin, sebarkanlah salam, berikanlah makan kepada fakir miskin, peliharalah hubungan dengan silaturahmi, shalatlah di waktu malam ketika orang banyak sedang tertidur lelap, niscaya kalian akan masuk surga dengan aman.’” (HR. Ibnu Majah No. 3251, 1334; At-Tirmidzi No. 2485, 1984; HR. Al-Hakim, 3/13; HR. Ahmad, 5/451, dishahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah No. 569; Irwa’ul Ghalil, 3/239)

2.      Mengingat Allah (Ar-Rad ayat 28)


   Tafsir ayat :
 (yaitu) orang-orang yang beriman) Mereka adalah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan yang bertaubat kepada-Nya.
dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah) Yakni yang menjadi tenang dan tentram dengan berzikir kepada Allah dengan lisan mereka, seperti membaca al-Qur’an, bertasbih, bertahmid, bertakbir, bertahlil, atau dengan mendengarkan zikir tersebut dari orang lain. (Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah) Tanpa menyebut selain-Nya. (hati menjadi tenteram) Meskipun mentafakkuri makhluk-makhluk Allah, ciptaan-ciptaan, dan mukjizat-mukjizat-Nya secara umum menjadikan hati menjadi tentram, namun hasilnya tidak seperti ketentraman dengan berzikir kepada Allah.

Al-Maragi menjelaskan bahwa ketenangan (tatma’innu) bermakna kekhusyukan dan keteguhan. Dengan ketenangan dan keteguhan ini mengantarkan kalbu orang mukmin memiliki rasa takut (khasyah) kepada Allah. Selanjutnya ia menegaskan bahwa kalbu orang kafir dipenuhi oleh hawa nafs yang cenderung menjadi tenang karena hal-hal yang duniawi dan juga kenikmatannya.
Dari ‘Abdullâh bin Busr Radhiyallahu anhu berkata, “Seorang Badui datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak pada kami. Beritahukanlah kepada kami sesuatu yang kami bisa berpegang teguh kepadanya ?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah lidahmu senantiasa berdzikir kepada Allâh Azza wa Jalla”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya (IV/188, 190); at-Tirmidzi (no. 3375). Beliau berkata, “Hadits ini hasan gharib.”; Ibnu Majah (no. 3793) dan lafazh ini miliknya. Ibnu Abi Syaibah (X/89, no. 29944); Al-Baihaqi (III/371)

3.      Berpuasa (QS. An-Naziat ayat 40)

Tafsir Ayat :
Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram) 40-41.
Adapun mereka yang takut kepada Dzat Yang Maha Suci yaitu Allah, dan mempersiapkan bekal hari kiamat. Kemudian mampu menahan hawa nafsu mereka maka tempat tinggal bagi mereka adalah surga. Tidak ada tempat lain yang sesuai selain surga. Neraka adalah tempat bagi orang yang bermaksiat dan surga adalah tempat bagi orang yang taat.
Secara khusus, pendidikan ruhani yang dapat dilakukan untuk aspek nafs antara lain sebagai berikut.
1.      Mengendalikan syahwat makan sebagai kebutuhan pokok.
a)      Mengkonsumsi makanan yang halal dan baik
b)      Makan dan minum secara tidak berlebihan.
c)      Tidak mengkonsumsi makanan yang diharamkan Allah.
2.      Mengendalikan naluri seksual
a)      Menikah sebagai jalan yang sah.
b)      Tidak menikah dengan wanita musyrik.
c)      Memperlakukan isteri secara pantas.




BAB III

PENUTUP

 

KESIMPULAN

Aspek-aspek ruhani manusia tidak bisa dipisahkan pemenuhan kebutuhannya karena aspek-aspek tersebut menjadi satu totalitas, yang disebut dimensi ruhani. Ruh berhubungan dengan nafsdemi kesempurnaan ruh, dan nafs berhubungan dengan jasad demi kekuatan nafs. Adapun akal menempati bagian terpenting dalam nafs, sedangkan qalbmerupakan wadah bagi tampilnya ruh. Kesemua aspek ruhani di atas memerlukan pendidikan yang khas yang tidak kalah pentingnya dengan pendidikan jasmani.
Jasmani dan ruhani manusia memiliki keterkaitan yang erat. Keduanya memerlukan pendidikan yang khas. Titik temu kedua pendidikan itu berada pada cara pemenuhan kebutuhan pendidikan. Pendidikan jasmani menekankan kepada perlunya aktivitas fisik. Kemampuan aktivitas fisik manusia salah satunya misalnya dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan primernya, yaitu kebutuhan akan makanan. Dari aspek pendidikan ruhani, sumber makanan yang tidak halal mempengaruhi tumbuh-kembangnya dimensi ruhani manusia ke arah yang tidak baik.
Selain itu, titik temu antara  pendidikan jasmani dan ruhani adalah pada tampilan aktivitas fisik manusia dalam kehidupan. Perilaku lahiriah manusia dipengaruhi oleh potensi-potensi ruhani manusia.  Dengan demikian tidak dibenarkan adanya pengabaian atau lebih menitikberatkan pada satu aspek unsur manusia saja (jasmani atau rohani) dalam pendidikan. Pendidikan ruhani dapat dilakukan melalui proses pembiasaan dan penyucian.





DAFTAR PUSTAKA

Di akses pada tanggal 06 Juni 2019


Tidak ada komentar:

Posting Komentar