Rabu, 28 Agustus 2019

SEJARAH PERKEMBANGAN TASAWUF SALAFI, FALSAFI DAN SYI’I



SEJARAH PERKEMBANGAN TASYAWUF SALAFI, FALSAFI DAN SYI’I

Diajukan untuk memunuhi tugas mata kuliah tasyawuf dan akhlak kepada dosen pembimbing Drs. Dudung Abdul Aziz M.Pd.I




Oleh:
Riki Sutarno      : 0101.1701.107
    Asep sukirman  : 0101.1701.087
    Mulyana            : 0101.1701.103




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
STAI DR.KH,EZ MUTTAQIEN
NOVEMBER 2018
KATA PENGANTAR

Assalamu alaikum Wr. Wb.
          Puji Syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah yang maha kuasa karena  atas berkat Rahmat dan Hidayah-Nyalah  yang senantiasa dilimpahkan kepada kita, sehingga dalam penyusunan makalah ini kami diberikan  kemudahan untuk mengumpulkan Reprensi dalam menyusun makalah mengenai, sejarah perkembangan tasyawuf salafi, falsafi dan syi’i.
Adapun maksud dan tujuan membuat makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah tasyawuf dan akhlak. Semester III, tahun akademik 2017-2018.
         Kami juga  sadari bahwa didalam isi makalah yang kami buat ini sesungguhnya masih banyak terdapat kekurangan – kekurangan yang seharusnya itu menjadi suatu hal yang sangat Subtansi dalam makalah ini, oleh karena itu kami sebagai penyusun makalah ini  sangat mengharapkan masukan – masukan agar sekiranya makalah ini dapat sempurna sesuai apa yang kita harapkan dan juga dapat bermamfaat untuk kita semua.
          Kami selaku penyusun mengucapkan banyak terima kasih ketika makalah ini begitu banyak memberikan dampak positif bagi rekan – rekan mahasiswa lainnya, Semoga Allah SWT senan tiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Aamiin.

Wassalamu A’laikum Wr.Wb


Purwakarta, 28 november 2018

DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR................................................................................................ i
DAFTAR ISI.............................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................... 1
A.    Latar belakang.................................................................................................. 1
B.     Rumusan masalah............................................................................................. 2
C.     Tujuan penulisan............................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A.    Khilaf .............................................................................................................. 3
B.     Sejarah al-asy`ariyah dan Al-maturidiyah........................................................ 3
C.     Teologi pemikiran Al-asy`ariyah dan Al-maturidiyah...................................... 6
D.    Perbedaan dan persamaan antara Al-asy`ariyah dan Al-maturidiyah............ 10
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpuln...................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................. 14







BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Dalam sejarah perkembangannya, para ahli membagi tasyawuf menjadi du arah perkembangannya. Ada tasyawuf yang mengarah pada teori-teori prilaku, ada pula yang mengarah pada teori-teori yang begitu rumit dan memerlukan pemahaman yang sangat mendalam.
Pada perkembangannya, tasyawuf yang berorientasi kearah pertama disebut tasyawuf salafi, tasyawuf akhlaqi, atau tasyawuf sunni. Adapun tasyawuf  yang kedua disebut tasyawuf falsafi, tasyawuf kedua ini banyak di kembangkan para filosof, disamping sebagai sufi.
B.     RUMUSAN MASALAH
Dari uraian tasyawuf diatas, kami merumuskan beberapa permasalahan yang akan kita bahas dalam makalah ini, yaitu :
a.       Bagaimana perkembangan serta ajaran tasyawuf salafi ?
b.      Bagaimana perkembangan serta ajaran tasyawuf falsafi ?
c.       Bagaimana perkembangan serta ajaran tasyawuf syi’i ?

C.    TUJUAN PENULISAN
Agar dapat memahami :
a.       Sejarah perkembangan tasyawuf salfi
b.      Sejarah perkembangan tasyawuf falsafi
c.       Sejarah perkemabangan tasyawuf syi’i


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sejarah perkembangan tasyawuf salafi
Pada mulanya tasyawuf merupakan perkembangan dari pemahaman dari intuisi-intuisi islam. sejak zaman sahabat dan tabi’in, kecenderungan pandangan seseorang terhadap ajaran islam secara lebih analistis sudah muncul.
1.      Abad kesatu dan kedua hijriah
Perkembangan tasyawuf dalam ajaran islam mengalami beberapa fase. Pada abad pertama dan kedua dikenal  sebagai fase aketisme ( zuhud ). Sikap aketisme ini banyak dipandang sebagai pengantar kemunculan tasyawuf. Pada fase ini, terdapat individu-individu dari kalangan muslim yang lebih memusatkan diri pada ibadah. Mereka menjalankan lonsepsi aketisme dalamkehidupan,, yaitu tidak mementingkan makanan, pakaian, maupun tempat tinggal. Mereka banyak beramal untuk hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan akherat. Yang memusatkan mereka pada jalur kehidupan dan tingkah laku.
Tokoh yang sangat  paling populer dari kalangan mereka adalah Hasan Al-bashri ( wafat pada 110 H ) dan Rabi’ah Al-adawiyah ( wafat pada 185 H ). Kedua tokoh ini dijuluki sebagai zahid.
2.      Abad ketiga hijriah
Pada abad ketiga hijriah, para sufi mulai menaruh perhatian terhadap hal hal yang berkaitan dengan jiwa dan tingkah laku. Perkembangan dan doktrin-doktrin dan tingkah laku sufi ditandai dengan upaya menegakan moral ditengah terjadinya dekadensi moral yang berkembang saat itu sehingga di angan mereka, tasyawuf pun berkembang menjadi ilmu moral keagamaan. Kajian yang berkenaan dengan akhlak ini menjadikan tasyawuf terlihat sebagai amalan yang sangat sederhana dann mudah dipraktekan oleh semua orang terlebih oleh kaum salaf. Kaum salaf tersebut melaksanakann amalan tasyawuf dengann menampilkan akhlak yang terpuji, dengan maksud memahami kandungan batiniah ajaran islam yang mereka nilai banyak mengandung muatan ajaran untuk berakhlak terpuji.
Pada abad ketiga ini mulai ada segolongan ahli tasyawuf yang mencoba menyelidiki inti ajaran tasyawuf yang berkembang masa itu, mereka membaginya menjadi tiga, yaitu:
a.       Tasyawuf yang berintikan ilmu jiwa
b.      Tasyawuf yang berintikan ilmu akhlak
c.       Tasyawuf yang berintikan metafisika


3.      Abad keempat hijriah
Abad keempat hijriah ditandai dengan kemajuan ilmu tasyawuf yang lebih pesat disbanding dengan abad ketiga hijriyah, karena usaha maksimal para ulama tasawuf untuk mengembangkan ajarannya masing-masing. Akibatnya, kota Baghdad satu-satunya kota yang terkenal sebagai pusat kegiatan tasyawuf paling besar sebelum masa itu tersaingi oleh kota-kota besar lainya.
Upaya untuk mengembangkan tasawuf diluar kota Baghdad ini dipelopori oleh ulama tasawuf yang terkenal kealimannya, antara lain:
a.       Musa al-anshari mengajarkan ilmu tasawuf di khurasan (Persia dan irak), dan wafat disana pada 320 H.
b.      Abu hamid bin muhammad ar-rubazy mengajarkannya disalah satu kota di mesir, dan wafat disana tahun 322 H.
c.       Abu zaid al-adamy mengajarkannya di semenanjung Arabiyah dan wafat disana pada 314 H.
d.      Abu ali muhammad bin abdil wahhab as-saqafy mengajarkannya naisabur dan kota syaraz, hingga ia wafat tahun 328 H.
Perkembangan tasawuf diberbagai negri dn kota tidak mengurangi perkembangnnya di kota Baghdad bahkan, penulisan kitab mulai bermunculan, misalnya kitan qutubul qulbi fi mu’amalatil mahbub, yang dikarang oleh abu thalib al makky ( meninggal di Baghdad than 386 H )
Ciri-ciri lain yang terdapat di abad keempat ini adalah semakin kuatnya unsur filsafat yang menmpengaruhi corak tasawuf, karena banyaknya buku filsafat yang tersebar dikalangan umat islam hasil dari terjemahan muslim sejak daulah abbasyiah. Pada abad ini pula dijelaskan perbedaan ilmu zahir dan batin, yang dibagi empat macam:
a.       Ilmu syari’ah
b.      Ilmu thariqah
c.       Ilmu haqiqah
d.      Ilmu ma’rifah

4.      Abad kelima hijriah
Pada abad ini munculah imam Al-ghazali, yang sepenuhnya hanya menerima tasyawuf berdasarkan Al-quran dan Sunnah serta bertujuan aketisme, kehidupan sederhana, penelusuran jiwa, dan pembinaan moral. Pengetahuan tentang tasyawuf dikajinya dengan begitu mendalam. Di sisi lain, ia melancarkan kritikan tajam terhadap para filosof, kaum mu’tazilah dan batiniyah. Al-ghazali berhasil mengenalkan prinsip-prinsip tasawuf yang moderat, dengan seiring dengan aliran ahlu Sunnah waljamaah, dan bertentangan dengan tasawuf Al-hajjaj dan Abu yazid al-busthami, terutama mengenai soal karakter manusia.


5.      Abad keenam hijriah
Sebagai pengaruh besar kepribadian  Al-ghazali, pengaruh tasyawuf sunni semakin meluas kepelosok dunia islam. keadaan ini memberi peluang kepada tokoh sufi yang mengembangkan tariqah-tariqah untuk mendidik para murid mereka, seperti sayyid ahmad ar-rafa’I (wafat pada tahun 570 H) dan sayyid abdul qadir al-jailani (wafat pada tahun 651).
B.     Sejarah perkembangan tasawuf falsafi
Tasawuf ini disebut juga tasawuf nazhari, merupakan tasawuf yang ajarannya memadukan visi mistis dan visi rasional sebagai penggagasnya. Berbeda dengan tasawuf salafi, tasawuf falsafi ini menggunakan terminology filosofi dalam pengungkapannya.
Abad keenam hijriah muncul sekelompok tokoh tasawuf yang memadukan tasawuf mereka dengan filsafat, dengan teori mereka yang bersifat setengah-setengah. Artinya, disebut murni tasawuf bukan, disebut murni filsafat bukan. Diantara mereka yaitu syukhrawardi, penyusun kitab hikmah al-insyraqiyah, syekh akbar muhyidin ibnu arabi, dan lain-lain. Mereka banyak menimba berbagai sumber dan pendapat asing, seperti filsafat yunani dan khususnya neo-platonisme.
Dengan munculnya para sufi yang juga filosof, orang mulai membedakannya anatara tasawuf salafi dengan falsafi. Dengan demikian terbagi menjadi dua yakni tasawuf salafi atau sunni yang berorientasi pada akhlaki sedangkan tasawuf falsafi yakni aliran yang menonjolkan pemikiran-pemikiran filosofis dengan ungkapan-ungkapan ganjilnya. Ungkapan itu bertolak dari keadaan yang fana menuju pernyataan tentang terjadinya penyatuan atau hulul.
Tokoh-tokoh yang terkenal dalam tasyawuf ini antara lain yakni, ibn massarah 391 H. syukhrawardi 587 H. ibn arabi 638 H. bila tasawuf sunni mendapat final dari imam Al-ghazali sedangkan falsafi mendapat final dari ibn arabi. Hampir semua praktik, pengajaran dan ide-ide yang berkembang dikalangan sufi diliputinya dengan penjelasan-penjelasan memadai. Ajaran sentral ibn arabi adalah tentang kesatuan wujud (wahdah al-wujud).
C.     sejarah tasawuf syi’I
Diluar dua ajaran tasawuf diatas, ada juga yang memasukan tasawuf ketiga adalah asawuf si’I atau syi’ah. Pembagian tasawuf ketiga ini didasarkan atas ketajaman pemahaman para sufi dalam menganalisis kedekatan manusia dengan tuhan. Penganut syi’ah di nisbatkan kepada pengikut ali binn abi thalib dalam sejarahnya, setelah perang shiffin, para pendukung fanatik Ali memisahkan diri, dan banyak berdiam di daratan Persia. Daratan Persia terkenal dengan daerah yang telah banyak mewarisi tradisi pemikiran semenjak imperium Persia Berjaya, dan disinilah kontak budaya antara islam dan yunani telah berjalan sebelum dinasti ilsam berkuasa di Persia.
Perkembangan tasawuf syi’I dapat ditinjau dari kacamata keterpengaruhan Persia oleh pemikiran-pemikiran filsafat yunani. Ibnu khaldun melihat kedekatan tasawuf filosofis dengan sekte Islamiyah dan syi’ah. Sekte Islamiyah menyatakan terjadinya hulul atau ketuhanan para imam mereka. Kedua kelompok ini memiliki kesamaan dalam persoalan quthb dan abdal. Bagi para sufi filosof, quthb adalah puncak kaum arifin, sedangkan abdal merupakan perwakilan. Ibnu khaldun juga mengatakan bahwa doktrin seperti ini mirip dengan doktrin aliran Islamiyah tentang imam dan para wakilnya begitu juga tentang pakaian compang-camping yang disebut-sebut berasal dari imam Ali. Jika berbicara tentang tasawuf syi’I, maka akan diikuti oleh tasawuf sunni. Dimana dua tasawuf ini dibedakan berdasarkan kedekatan atau jarak ini memiliki perbedaan. Paham tasawuf syi’I beranggapan bahwa manusia dapat meninggal dengan tuhannya karena ada kesamaan esensi antara keduanya.






BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Dari segi linguistik tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan, dan selalu bersikap bijaksana. Sikap yang demkian itu pada hakikatnya adalah akhlak mulia yang mampu mambentuk seseorang ke tingkat yang mulia.
Tasawuf akhlaqi atau salafi adalah tasawuf yang berkonsentrasi pada teori-teori prilaku, atau budi pekerti atau perbaikan akhlaq. Dengan metode-metode tertentu yang telah dirumuskan, tasawuf seperti ini berupaya untuk menghindari akhlaq mazmudah dan mewujudkan akhlaq mahmudah.
Tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajarannya memadukan antara visi mistis dan rasional penggagasannya. Berbeda dengan tasawuf akhlaqi, tasawuf falsafi ini menggunakan terminology filosofi dalam pengungkapannya.
Tasawuf syi’I atau syi’ah, tasawuf ketiga ini didasarkan atas ketajaman pemahaman kaum sufi dalam menganalisis kedekatan manusia dengan tuhan.
B.     SARAN
Setelah para pembaca selesai membaca makalah ini, pastilah terdapat banyak kesalahan dalam penulisan makalah diatas, memang makalah ini masih jauh dari kata sempurna, maka penulis mengahrapkan kritik dan saran dari semua pihak demi perbaikan da;am penulisan makalah kami yang selanjutnya.






DAFTAR PUSTAKA

Solihin Muhammad dan Anwar Rosihan. 2008. Ilmu tasawuf. Bandung: Pustaka setia



Tidak ada komentar:

Posting Komentar