SEJARAH PERKEMBANGAN TASYAWUF SALAFI, FALSAFI DAN
SYI’I
Diajukan
untuk memunuhi tugas mata kuliah tasyawuf dan akhlak kepada dosen pembimbing Drs.
Dudung Abdul Aziz M.Pd.I
Oleh:
Riki
Sutarno : 0101.1701.107
Asep sukirman : 0101.1701.087
Mulyana : 0101.1701.103
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
STAI DR.KH,EZ MUTTAQIEN
NOVEMBER 2018
KATA PENGANTAR
Assalamu
alaikum Wr. Wb.
Puji Syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah yang maha kuasa karena
atas berkat Rahmat dan Hidayah-Nyalah yang senantiasa dilimpahkan kepada
kita, sehingga dalam penyusunan makalah ini kami diberikan kemudahan
untuk mengumpulkan Reprensi dalam menyusun makalah mengenai, sejarah perkembangan tasyawuf salafi, falsafi
dan syi’i.
Adapun maksud dan tujuan membuat makalah
ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah tasyawuf dan akhlak.
Semester III, tahun akademik 2017-2018.
Kami juga sadari bahwa didalam isi makalah yang kami buat ini sesungguhnya
masih banyak terdapat kekurangan – kekurangan yang seharusnya itu menjadi suatu
hal yang sangat Subtansi dalam makalah ini, oleh karena itu kami sebagai
penyusun makalah ini sangat mengharapkan masukan – masukan agar sekiranya
makalah ini dapat sempurna sesuai apa yang kita harapkan dan juga dapat
bermamfaat untuk kita semua.
Kami selaku penyusun mengucapkan banyak terima kasih ketika makalah ini begitu
banyak memberikan dampak positif bagi rekan – rekan mahasiswa lainnya, Semoga
Allah SWT senan tiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Aamiin.
Wassalamu
A’laikum Wr.Wb
Purwakarta,
28 november 2018
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR................................................................................................ i
DAFTAR
ISI.............................................................................................................. ii
BAB
I PENDAHULUAN.......................................................................................... 1
A.
Latar belakang.................................................................................................. 1
B.
Rumusan masalah............................................................................................. 2
C.
Tujuan penulisan............................................................................................... 2
BAB
II PEMBAHASAN
A.
Khilaf .............................................................................................................. 3
B.
Sejarah al-asy`ariyah dan Al-maturidiyah........................................................ 3
C.
Teologi pemikiran Al-asy`ariyah dan
Al-maturidiyah...................................... 6
D.
Perbedaan dan persamaan antara
Al-asy`ariyah dan Al-maturidiyah............ 10
BAB
III PENUTUP
A. Kesimpuln...................................................................................................... 13
DAFTAR
PUSTAKA.............................................................................................. 14
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dalam
sejarah perkembangannya, para ahli membagi tasyawuf menjadi du arah
perkembangannya. Ada tasyawuf yang mengarah pada teori-teori prilaku, ada pula
yang mengarah pada teori-teori yang begitu rumit dan memerlukan pemahaman yang
sangat mendalam.
Pada
perkembangannya, tasyawuf yang berorientasi kearah pertama disebut tasyawuf
salafi, tasyawuf akhlaqi, atau tasyawuf sunni. Adapun tasyawuf yang kedua disebut tasyawuf falsafi, tasyawuf
kedua ini banyak di kembangkan para filosof, disamping sebagai sufi.
B.
RUMUSAN
MASALAH
Dari
uraian tasyawuf diatas, kami merumuskan beberapa permasalahan yang akan kita
bahas dalam makalah ini, yaitu :
a. Bagaimana
perkembangan serta ajaran tasyawuf salafi ?
b. Bagaimana
perkembangan serta ajaran tasyawuf falsafi ?
c. Bagaimana
perkembangan serta ajaran tasyawuf syi’i ?
C.
TUJUAN
PENULISAN
Agar
dapat memahami :
a. Sejarah
perkembangan tasyawuf salfi
b. Sejarah
perkembangan tasyawuf falsafi
c. Sejarah
perkemabangan tasyawuf syi’i
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah perkembangan tasyawuf salafi
Pada
mulanya tasyawuf merupakan perkembangan dari pemahaman dari intuisi-intuisi
islam. sejak zaman sahabat dan tabi’in, kecenderungan pandangan seseorang
terhadap ajaran islam secara lebih analistis sudah muncul.
1. Abad
kesatu dan kedua hijriah
Perkembangan
tasyawuf dalam ajaran islam mengalami beberapa fase. Pada abad pertama dan
kedua dikenal sebagai fase aketisme ( zuhud ). Sikap aketisme ini banyak
dipandang sebagai pengantar kemunculan tasyawuf. Pada fase ini, terdapat
individu-individu dari kalangan muslim yang lebih memusatkan diri pada ibadah.
Mereka menjalankan lonsepsi aketisme dalamkehidupan,, yaitu tidak mementingkan
makanan, pakaian, maupun tempat tinggal. Mereka banyak beramal untuk hal-hal
yang berkaitan dengan kehidupan akherat. Yang memusatkan mereka pada jalur
kehidupan dan tingkah laku.
Tokoh
yang sangat paling populer dari kalangan
mereka adalah Hasan Al-bashri ( wafat pada 110 H ) dan Rabi’ah Al-adawiyah (
wafat pada 185 H ). Kedua tokoh ini dijuluki sebagai zahid.
2. Abad
ketiga hijriah
Pada
abad ketiga hijriah, para sufi mulai menaruh perhatian terhadap hal hal yang berkaitan
dengan jiwa dan tingkah laku. Perkembangan dan doktrin-doktrin dan tingkah laku
sufi ditandai dengan upaya menegakan moral ditengah terjadinya dekadensi moral
yang berkembang saat itu sehingga di angan mereka, tasyawuf pun berkembang
menjadi ilmu moral keagamaan. Kajian yang berkenaan dengan akhlak ini
menjadikan tasyawuf terlihat sebagai amalan yang sangat sederhana dann mudah
dipraktekan oleh semua orang terlebih oleh kaum salaf. Kaum salaf tersebut
melaksanakann amalan tasyawuf dengann menampilkan akhlak yang terpuji, dengan
maksud memahami kandungan batiniah ajaran islam yang mereka nilai banyak
mengandung muatan ajaran untuk berakhlak terpuji.
Pada
abad ketiga ini mulai ada segolongan ahli tasyawuf yang mencoba menyelidiki
inti ajaran tasyawuf yang berkembang masa itu, mereka membaginya menjadi tiga,
yaitu:
a. Tasyawuf
yang berintikan ilmu jiwa
b. Tasyawuf
yang berintikan ilmu akhlak
c. Tasyawuf
yang berintikan metafisika
3. Abad
keempat hijriah
Abad
keempat hijriah ditandai dengan kemajuan ilmu tasyawuf yang lebih pesat
disbanding dengan abad ketiga hijriyah, karena usaha maksimal para ulama
tasawuf untuk mengembangkan ajarannya masing-masing. Akibatnya, kota Baghdad
satu-satunya kota yang terkenal sebagai pusat kegiatan tasyawuf paling besar
sebelum masa itu tersaingi oleh kota-kota besar lainya.
Upaya
untuk mengembangkan tasawuf diluar kota Baghdad ini dipelopori oleh ulama
tasawuf yang terkenal kealimannya, antara lain:
a. Musa
al-anshari mengajarkan ilmu tasawuf di khurasan (Persia dan irak), dan wafat
disana pada 320 H.
b. Abu
hamid bin muhammad ar-rubazy mengajarkannya disalah satu kota di mesir, dan
wafat disana tahun 322 H.
c. Abu
zaid al-adamy mengajarkannya di semenanjung Arabiyah dan wafat disana pada 314
H.
d. Abu
ali muhammad bin abdil wahhab as-saqafy mengajarkannya naisabur dan kota
syaraz, hingga ia wafat tahun 328 H.
Perkembangan
tasawuf diberbagai negri dn kota tidak mengurangi perkembangnnya di kota
Baghdad bahkan, penulisan kitab mulai bermunculan, misalnya kitan qutubul qulbi fi mu’amalatil mahbub, yang
dikarang oleh abu thalib al makky ( meninggal di Baghdad than 386 H )
Ciri-ciri
lain yang terdapat di abad keempat ini adalah semakin kuatnya unsur filsafat
yang menmpengaruhi corak tasawuf, karena banyaknya buku filsafat yang tersebar
dikalangan umat islam hasil dari terjemahan muslim sejak daulah abbasyiah. Pada
abad ini pula dijelaskan perbedaan ilmu zahir dan batin, yang dibagi empat
macam:
a. Ilmu
syari’ah
b. Ilmu
thariqah
c. Ilmu
haqiqah
d. Ilmu
ma’rifah
4. Abad
kelima hijriah
Pada
abad ini munculah imam Al-ghazali, yang sepenuhnya hanya menerima tasyawuf
berdasarkan Al-quran dan Sunnah serta bertujuan aketisme, kehidupan sederhana,
penelusuran jiwa, dan pembinaan moral. Pengetahuan tentang tasyawuf dikajinya
dengan begitu mendalam. Di sisi lain, ia melancarkan kritikan tajam terhadap
para filosof, kaum mu’tazilah dan batiniyah. Al-ghazali berhasil
mengenalkan prinsip-prinsip tasawuf yang moderat, dengan seiring dengan aliran ahlu Sunnah waljamaah, dan bertentangan
dengan tasawuf Al-hajjaj dan Abu yazid al-busthami, terutama mengenai soal
karakter manusia.
5. Abad
keenam hijriah
Sebagai
pengaruh besar kepribadian Al-ghazali,
pengaruh tasyawuf sunni semakin meluas kepelosok dunia islam. keadaan ini
memberi peluang kepada tokoh sufi yang mengembangkan tariqah-tariqah untuk
mendidik para murid mereka, seperti sayyid ahmad ar-rafa’I (wafat pada tahun
570 H) dan sayyid abdul qadir al-jailani (wafat pada tahun 651).
B. Sejarah perkembangan tasawuf
falsafi
Tasawuf
ini disebut juga tasawuf nazhari, merupakan tasawuf yang ajarannya memadukan
visi mistis dan visi rasional sebagai penggagasnya. Berbeda dengan tasawuf
salafi, tasawuf falsafi ini menggunakan terminology filosofi dalam
pengungkapannya.
Abad
keenam hijriah muncul sekelompok tokoh tasawuf yang memadukan tasawuf mereka
dengan filsafat, dengan teori mereka yang bersifat setengah-setengah. Artinya,
disebut murni tasawuf bukan, disebut murni filsafat bukan. Diantara mereka
yaitu syukhrawardi, penyusun kitab hikmah al-insyraqiyah, syekh akbar muhyidin
ibnu arabi, dan lain-lain. Mereka banyak menimba berbagai sumber dan pendapat
asing, seperti filsafat yunani dan khususnya neo-platonisme.
Dengan
munculnya para sufi yang juga filosof, orang mulai membedakannya anatara
tasawuf salafi dengan falsafi. Dengan demikian terbagi menjadi dua yakni
tasawuf salafi atau sunni yang berorientasi pada akhlaki sedangkan tasawuf
falsafi yakni aliran yang menonjolkan pemikiran-pemikiran filosofis dengan
ungkapan-ungkapan ganjilnya. Ungkapan itu bertolak dari keadaan yang fana
menuju pernyataan tentang terjadinya penyatuan atau hulul.
Tokoh-tokoh
yang terkenal dalam tasyawuf ini antara lain yakni, ibn massarah 391 H.
syukhrawardi 587 H. ibn arabi 638 H. bila tasawuf sunni mendapat final dari
imam Al-ghazali sedangkan falsafi mendapat final dari ibn arabi. Hampir semua
praktik, pengajaran dan ide-ide yang berkembang dikalangan sufi diliputinya
dengan penjelasan-penjelasan memadai. Ajaran sentral ibn arabi adalah tentang
kesatuan wujud (wahdah al-wujud).
C.
sejarah
tasawuf syi’I
Diluar
dua ajaran tasawuf diatas, ada juga yang memasukan tasawuf ketiga adalah asawuf
si’I atau syi’ah. Pembagian tasawuf ketiga ini didasarkan atas ketajaman pemahaman
para sufi dalam menganalisis kedekatan manusia dengan tuhan. Penganut syi’ah di
nisbatkan kepada pengikut ali binn abi thalib dalam sejarahnya, setelah perang
shiffin, para pendukung fanatik Ali memisahkan diri, dan banyak berdiam di
daratan Persia. Daratan Persia terkenal dengan daerah yang telah banyak
mewarisi tradisi pemikiran semenjak imperium Persia Berjaya, dan disinilah
kontak budaya antara islam dan yunani telah berjalan sebelum dinasti ilsam
berkuasa di Persia.
Perkembangan
tasawuf syi’I dapat ditinjau dari kacamata keterpengaruhan Persia oleh
pemikiran-pemikiran filsafat yunani. Ibnu khaldun melihat kedekatan tasawuf
filosofis dengan sekte Islamiyah dan syi’ah. Sekte Islamiyah menyatakan
terjadinya hulul atau ketuhanan para imam mereka. Kedua kelompok ini memiliki
kesamaan dalam persoalan quthb dan abdal. Bagi para sufi filosof, quthb adalah
puncak kaum arifin, sedangkan abdal merupakan perwakilan. Ibnu khaldun juga
mengatakan bahwa doktrin seperti ini mirip dengan doktrin aliran Islamiyah tentang
imam dan para wakilnya begitu juga tentang pakaian compang-camping yang
disebut-sebut berasal dari imam Ali. Jika berbicara tentang tasawuf syi’I, maka
akan diikuti oleh tasawuf sunni. Dimana dua tasawuf ini dibedakan berdasarkan
kedekatan atau jarak ini memiliki perbedaan. Paham tasawuf syi’I beranggapan
bahwa manusia dapat meninggal dengan tuhannya karena ada kesamaan esensi antara
keduanya.
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari
segi linguistik tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian
diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan, dan selalu
bersikap bijaksana. Sikap yang demkian itu pada hakikatnya adalah akhlak mulia
yang mampu mambentuk seseorang ke tingkat yang mulia.
Tasawuf
akhlaqi atau salafi adalah tasawuf yang berkonsentrasi pada teori-teori
prilaku, atau budi pekerti atau perbaikan akhlaq. Dengan metode-metode tertentu
yang telah dirumuskan, tasawuf seperti ini berupaya untuk menghindari akhlaq
mazmudah dan mewujudkan akhlaq mahmudah.
Tasawuf
falsafi adalah tasawuf yang ajarannya memadukan antara visi mistis dan rasional
penggagasannya. Berbeda dengan tasawuf akhlaqi, tasawuf falsafi ini menggunakan
terminology filosofi dalam pengungkapannya.
Tasawuf
syi’I atau syi’ah, tasawuf ketiga ini didasarkan atas ketajaman pemahaman kaum
sufi dalam menganalisis kedekatan manusia dengan tuhan.
B. SARAN
Setelah
para pembaca selesai membaca makalah ini, pastilah terdapat banyak kesalahan
dalam penulisan makalah diatas, memang makalah ini masih jauh dari kata sempurna,
maka penulis mengahrapkan kritik dan saran dari semua pihak demi perbaikan
da;am penulisan makalah kami yang selanjutnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Solihin
Muhammad dan Anwar Rosihan. 2008. Ilmu
tasawuf. Bandung: Pustaka setia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar