Rabu, 28 Agustus 2019

PERKEMBANGAN POLA PIKIR MANUSIA



BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Manusia sebagai makhluk sempurna yang di ciptakan di bumi ini memiliki akal dan pikiran yang sama, tetapi yang menjadi pembeda adalah cara berpikir dan kemampuan berpikir yang dimilki setiap manusia. Dengan adanya sifat alamiah manusia yang selalu ingin tahu melalui pikirannya, maka dari waktu ke waktu perkembangan pola pikir manusia menjadi pusat dasar terbentuknya era teknologi yang semakin canggih, dan menciptakan sesuatu yang memudahkan manusia untuk memenuhi kebutuhannya secara praktis.
Adapun manusia berpikir bagaimana kehidupan di luar sana yang keluar dari konteks kehidupan sosial manusia umumnya. Seperti mencari tahu pengetahuan tentang Tata Surya, dan apakah yang menjadi Pusat Tata Surya?
Tata Surya sendiri adalah kumpulan benda langit yang terdiri atas sebuah bintang yang disebut Matahari dan semua objek yang terikat oleh gaya gravitasinya. Objek-objek tersebut termasuk adanya planet, satelit, dan jutaan benda langit lainnya (meteor, asteroid, komet). Di simpulkan secara skala kecil yaitu di dalam Tata Surya terdapat Matahari, Bumi dan sebagian planet lainnya, dan serta bulan sebagai satelit alami bumi.
Adapun planet bumi di huni oleh manusia sebagai penghuni utama dengan akal pikiran yang sempurna, dan banyak manusia membuat persepsi tentang keberadaan Pusat Tata Surya  ini. Itu adalah  sedikit dari gambaran tentang Tata Surya. Tetapi, tentang apakah yang menjadi Pusat Tata Surya masih menjadi misteri sampai  sekarang. Lalu bagaimana tentang teori adanya Pusat Tata Surya? Apa yang menarik tentang pembahasan Pusat Tata Surya? Pertanyaan ini yang mungkin sering muncul di sekitar kita, saya dan kelompok yang tergabung dalam  pembahasan kali ini akan  mencoba membahas melalui penyusunan makalah.
Maka  pada kesempatan kali ini kami akan menjelaskan tentang Perkembangan Pola Pikir Manusia, dan perkembangan pola pikirnya itu dalam upaya mencari Pusat Tata Surya tersebut. Adapun teori yang di bahas di sini yaitu teori Heliosentris, Geosentris, dan Asentris. Serta untuk menambah pengetahuan agar bisa menyimpulkan sendiri bagaimana mengambil manfaat dari pembahasan yang di sajikan.

2.      Rumusan Masalah
1.      Apa yang di maksud perkembangan pola pikir manusia?
2.      Bagaimana perkembangan pola pikir terhadap pusat tata surya?
3.      Bagaimana cara menentukan pusat tata surya menurut teori Heliosentris, Geosentris, dan Asentris?
4.      Bagaimana pandangan pusat tata surya menurut Islam?

3.      Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui apa itu perkembangan pola pikir manusia
2.      Supaya menjadi wawasan untuk mengetahui ada atau tidaknya pusat di tata surya
3.      Supaya menjadi pengetahuan tentang adanya teori yang berkaitan dengan pusat tata surya

4.      Metode Penulisan
   Penulis mempergunakan metode kepustakaan, dan metode penelusuran di suatu media internet.  Cara-cara yang digunakan pada penulisan makalah ini adalah : Studi Pustaka dan melalui media Internet,  yaitu dalam metode ini penulis membaca buku-buku yang berkaitan dengan penulisan makalah ini. Penulis juga melakukan penelusuran di media internet yang berkaitan dengan makalah ini.



BAB II
PEMBAHASAN

1.      Pengertian Pola Pikir Manusia
Manusia sebagai makhluk sosial memiliki kemampuan berpikir yang menimbulkan dorongan hasrat ingin tahu manusia dari segi kehidupan sosial, bahkan kehidupan pribadi seperti ingin tahu tentang dirinya sendiri. Dari rasa ingin tahu ini manusia bisa menentukan arah jalan yang akan di hadapi dan cara mengatasi masalah yang di hadapi. Mendorong manusia untuk mengenal gejala yang terjadi di sekitar, mengenal dan memahami suatu subjek, lalu menjelaskan hal-hal yang di temuinya. Sehingga menimbulkan cara pandang tersendiri dan di kumpulkan sebagai pengalaman serta pengetahuan.
Adanya rasa ingin tahu ini menyebabkan pola pikir pengetahuan  manusia menjadi berkembang luas dalam jangkauan yang tak terhingga. Melalui pengamatan-pengamatan yang ditemui di setiap harinya yang terasa oleh panca indra adalah dasar sumber rasa ingin tahu itu hadir. Maka berlanjut kea rah pengamatan terhadap objek untuk di amati. Dan manusia belum merasa puas jika belum  mendapat sesuatu dari apa yang di amatinya.
Dari keterbukaan pola pikir yang berkembang itu maka terjadi pengamatan yang lebih dalam lagi, bukan hanya sekedar mencari jawaban dari apa yang di amatinya, tetapi juga mencari jawaban dari bagaimana, lalu berlanjut ke mengapa tentang benda-benda atau objek atau pun peristiwa tertentu yang di amatinya.
Maka dari itu proses perkembangan pengetahuan tersebut bisa lebih mudah dan sistematis dengan adanya kemampuan berpikir itu. Dengan terkumpulnya pengetahuan bisa menjadi bahan untuk bertukar pikiran bagi masing-masing manusia tersebut. Dan di tambah juga adanya dorongan sifat manusia yang ingin maju, selalu merasa tidak puas, dan mencari sesuatu yang lebih baik. Akan membuat manusia  mengenal, memahami, dan berusaha mengerti agar mendapat pengetahuan yang lebih banyak.
Lalu apakah ada proses dasar berpikir pada  manusia?  Jika kita telaah lebih lanjut akan kita dapati bahwa untuk dapat berfikir  membutuhkan beberapa komponen, diantaranya : 1) Fakta, manusia membutuhkan fakta yang akan dijadikan objek  berfikirnya; 2) Indera, untuk dapat menyerap fakta-fakta yang akan dipikirkan. Seperti mata untuk dapat melihat, meraba, pendengaran, dan indera  yang lainnya; 3) Otak, merupakan organ yang berfungsi untuk menterjemahkan setiap  fakta yang diserap; 4) Informasi sebelumnya, tanpa informasi manusia tidak dapat untuk  memahami fakta yang sedang dihadapinya

2.      Teori Heliosentris
Pengertian teori heliosentris adalah matahari sebagai pusat alam  semesta dan benda langit lainnya bergerak mengelilingi matahari. Teori ini dikemukakan setelah adanya teleskop yang bisa mengamati bahwa benda langit di galaksi kita bergerak mengelilingi matahari. Teori Heliosentris ini dicetuskan oleh Nicholaus Copernicus.
Dalam astronomi, heliosentrisme adalah  teori yang berpendapat bahwa Matahari bersifat stasioner dan berada pada pusat alam semesta. Secara historis, heliosentrisme bertentangan dengan geosentrisme, yang menempatkan Bumi di pusat alam semesta. Diskusi mengenai  kemungkinan heliosentrisme terjadi sejak zaman klasik. Barulah ketika abad ke-16 dapat ditemukan suatu model matematis yang dapat meramalkan secara lengkap sistem heliosentris, yaitu Nicolaus Copernicus, seorang ahli matematika dan astronom. Pada abad berikutnya, model tersebut dijabarkan dan diperluas oleh Johannes Kepler dan pengamatan pendukung dengan menggunakan teleskop diberikan oleh Galileo Galilei.
Akhirnya pada tahun 1543 teori geosentris dipatahkan oleh teori heliosentris yang diajukan oleh Nicolaus Copernicus. Dalam teori heliosentris, mataharilah  sebagai pusat tata surya. Matahari dikelilingi oleh planet-planet. Dalam  model heliosentris Copernicus, Matahari dianggap berada pada pusat alam semesta, bintang-bintang terletak pada bulatan angkasa dan berputar mengelilingi Matahari. Diantara Bintang-bintang dan Matahari terdapat planet-planet termasuk Bumi yang berputar mengelilingi Matahari dalam  masing-masing orbitnya dengan lintasan orbit berbentuk lingkaran.

3.      Teori Geosentris
Teori geosentris adalah teori yang menyatakan bahwa yang menjadi pusat dari tata surya adalah bumi, berdasarkan dari makna secara bahasapun demikian. Kata geosentris berasal dari kata geo yang berarti bumi dan centre yang berarti pusat. Teori ini menolak terhadap pendapat teori egosentries yang menyatakan bahwa manusialah yang menjadi pusat tata surya.
Awal kemunculan teori ini dipelopori oleh Aristoteles yang berpendapat bahwa bumi itu bulat. Aristoteles juga memberikan argumen yaitu ketika terjadi gerhana terdapat bayang-bayang lengkung pada bulan yang disebabkan oleh posisi bumi.
Di dalam pengamatan teori Geosentris ini terdapat dua pengamatan umum yang mendukung soal pandangan bumi sebagai pusat dari tata surya atau alam semesta. Pengamatan pertama adalah dari bintang-bintang, matahari, dan planet-planet tampak berputar mengelilingi bumi setiap hari, membuat bumi sebagai pusat sistem teori ini. Pengamatan kedua yang mendukung adalah bumi yang tampak tidak bergerak dari sudut pandang pengamat yang berada di bumi, bahwa bumi itu solid, stabil, dan tetap pada tempatnya. Dengan kata lainnya, benar-benar dalam  posisi diam.

4.      Teori Asentris
Pada teori Asentris adalah merupakan suatu anggapan bahwa tidak perlu lagi adanya pusat-pusatan dalam alam semesta ini. Semuanya beredar dalam konstelasi ilmiah. Dengan paham ini manusia semakin kecil jika dihadapkan pada alam semesta yang tidak terbatas ukurannya sehingga dari sudut pandang secara agama semuanya dikembalikan pada Tuhan sebagai Sang Pencipta Alam. Paham Asentris juga muncul berdasarkan teori ekspansi dan kontraksi. Teori ini berlandaskan suatu pemikiran bahwa ada suatu siklus dari alam semesta, yaitu  masa ekspansi dan masa kontraksi. Diduga bahwa siklus ini berlangsung dalam waktu 30.000 juta tahun.
Dalam masa ekspansi, terbentuklah galaksi serta bintang-bintang yang bersumber dari reaksi inti hydrogen yang pada akhirnya membentuk berbagai unsur lain yang kompleks. Pada masa kontraksi, galaksi dan bintang-bintang yang terbentuk menyusut mengeluarkan tenaga berupa panas yang sangat tinggi. Berdasarkan teori ekspansi dan kontraksi, sebenarnya alam semesta ini tidak berawal dan tidak berakhir (asentris).

5.      Pusat Tata Surya Menurut Islam
Kasus-kasus tentang teori tata surya dalam Islam sangat terisolasi. Maka hanya ada sedikit individu yang mengajarkan tentang teori tata surya alam semesta. Salah satunya adalah Grand Mufti Saudi Arabia tahun 1993-1999, Abd al-Aziz ibn Abd Allah ibn Baaz (Bin Baz), yang mengajarkan pandangan ini antara tahun 1966-1985.
Menurut Bin Baz, ”Telah tersebar pada zaman ini di kalangan para penulis dan pengajar bahwasanya bumi itu berputar sedangkan matahari itu tetap, dan pendapat ini diikuti oleh banyak orang, maka banyak sekali pertanyaan. Seputar masalah ini.  Maka saya katakan: "Al-Quran dan as-Sunnah serta kesepakatan para ulama dan realita yang ada menunjukan bahwa matahari itu beredar di garis edarnya sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala sedangkan bumi tetap tidak bergerak, yang mana Allah menyiapkan sebagai tempat tinggal dan Allah memantapkan dengan gunung-gunung agar tidak bergerak bersama mereka.”
Dari pengambilan pendapat itu tentu ada rujukan yang mendukung bahwa bumi sebagai pusat alam semesta, dalil-dalil dari Al-Qur’an dan as-Sunnah yang menunjukkan akan tetapnya bumi dan berjalannya matahari mengelilingi bumi antara lain :
1. Allah –ta’ala- berfirman :​
https://dekripsi.files.wordpress.com/2017/01/36_38.png?resize=456%2C41
“…dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” (Yasin : 38)
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin –rahimahullah– mengatakan ketika menafsirkan ayat ini “Sebagian faedah dari ayat ini adalah bahwasanya matahari itu berjalan dan ini adalah suatu kenyataan serta zhahir dari Al-Qur’an dan bahwa berjalannya adalah secara dzatnya, bukanlah yang dimaksud dengan berputar itu adalah bumi. Merupakan suatu kewajiban untuk membiarkan Al-Quran sesuai zhahirnya sampai tegak sebuah dalil yang jelas serta bisa dijadikan hujjah bagi kita di hadapan Allah -‘azza wa jalla- untuk keluar dari zhahirnya, sebab yang berbicara dengan Al-Qur’an adalah Allah Al-Khaliq (sang pencipta). Dialah yang mengetahui keadaan makhluk-Nya. Apabila Dia mengatakan bahwa matahari berjalan, maka wajib bagi kita untuk mengatakan bahwa matahari berjalan dan tidak boleh bagi kita untuk mengatakan kita yang berjalan”. (At-Tafsir Ats-Tsamin).
2. Allah -ta’ala- berfirman :​
https://dekripsi.files.wordpress.com/2017/01/14_33.png?resize=456%2C78
“Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya) dan telah menundukkan bagimu malam dan siang” (Ibrahim : 33)
Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata “Yakni keduanya berjalan dan tidak tetap, baik di waktu siang maupun malam”.


BAB III
PENUTUP

1.      KESIMPULAN
Perkembangan pola pikir manusia terhadap penelitian atau dengan mengamati suatu objek supaya mendapat sebuah jawaban yang di harapkan menjadi sebuah pengetahuan luas untuk dikembangkan. Dengan berkembangnya pola pikir maka untuk mendapat suatu pengetahuan menjadi lebih sistematis. Mencari jawaban dari suatu yang di amati dan terus mengamati dalam skala lebih dalam lagi, mulai dari apa yang di amati, lalu mencari jawaban ke arah bagaimana , sampai kepada mengapa dari suatu objek yang di amati.
Masih menjadi sebuah teori untuk menentukan tentang pusat dari alam semesta ini, antara matahari sebagai pusatnya atau bumi sebagai pusatnya. Dari segi teori Heliosentris dan teori Geosetris yang sangat bertentangan, ada pemisah yaitu teori Asentris yang menganggap tidak ada pusat alam semesta.
Namun tentunya dengan adanya kajian ilmu Islam yang ada dalil-dali menjelaskan tetntang alam semesta, ada pencerahan tentang jawaban dari pusat tata surya ini. Yang menyebutkan bahwa matahari berputar di garis edarnya.






DAFTAR PUSTAKA
Dari Wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Posted by NINO on 11 JULY 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar