BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Manusia
sebagai makhluk sempurna yang di ciptakan di bumi ini memiliki akal dan pikiran
yang sama, tetapi yang menjadi pembeda adalah cara berpikir dan kemampuan
berpikir yang dimilki setiap manusia. Dengan adanya sifat alamiah manusia yang
selalu ingin tahu melalui pikirannya, maka dari waktu ke waktu perkembangan
pola pikir manusia menjadi pusat dasar terbentuknya era teknologi yang semakin
canggih, dan menciptakan sesuatu yang memudahkan manusia untuk memenuhi
kebutuhannya secara praktis.
Adapun
manusia berpikir bagaimana kehidupan di luar sana yang keluar dari konteks
kehidupan sosial manusia umumnya. Seperti mencari tahu pengetahuan tentang Tata
Surya, dan apakah yang menjadi Pusat Tata Surya?
Tata
Surya sendiri adalah kumpulan benda langit yang terdiri atas sebuah bintang
yang disebut Matahari dan semua objek yang terikat oleh gaya gravitasinya.
Objek-objek tersebut termasuk adanya planet, satelit, dan jutaan benda langit
lainnya (meteor, asteroid, komet). Di simpulkan secara skala kecil yaitu di
dalam Tata Surya terdapat Matahari, Bumi dan sebagian planet lainnya, dan serta
bulan sebagai satelit alami bumi.
Adapun
planet bumi di huni oleh manusia sebagai penghuni utama dengan akal pikiran
yang sempurna, dan banyak manusia membuat persepsi tentang keberadaan Pusat
Tata Surya ini. Itu adalah sedikit dari gambaran tentang Tata Surya.
Tetapi, tentang apakah yang menjadi Pusat Tata Surya masih menjadi misteri
sampai sekarang. Lalu bagaimana tentang
teori adanya Pusat Tata Surya? Apa yang menarik tentang pembahasan Pusat Tata
Surya? Pertanyaan ini yang mungkin sering muncul di sekitar kita, saya dan
kelompok yang tergabung dalam pembahasan
kali ini akan mencoba membahas melalui
penyusunan makalah.
Maka pada kesempatan kali ini kami akan
menjelaskan tentang Perkembangan Pola Pikir Manusia, dan perkembangan pola
pikirnya itu dalam upaya mencari Pusat Tata Surya tersebut. Adapun teori yang
di bahas di sini yaitu teori Heliosentris, Geosentris, dan Asentris. Serta
untuk menambah pengetahuan agar bisa menyimpulkan sendiri bagaimana mengambil
manfaat dari pembahasan yang di sajikan.
2.
Rumusan
Masalah
1. Apa
yang di maksud perkembangan pola pikir manusia?
2. Bagaimana
perkembangan pola pikir terhadap pusat tata surya?
3. Bagaimana
cara menentukan pusat tata surya menurut teori Heliosentris, Geosentris, dan
Asentris?
4. Bagaimana
pandangan pusat tata surya menurut Islam?
3.
Tujuan
Penulisan
1. Untuk
mengetahui apa itu perkembangan pola pikir manusia
2. Supaya
menjadi wawasan untuk mengetahui ada atau tidaknya pusat di tata surya
3. Supaya
menjadi pengetahuan tentang adanya teori yang berkaitan dengan pusat tata surya
4.
Metode
Penulisan
Penulis
mempergunakan metode kepustakaan, dan metode penelusuran di suatu media
internet. Cara-cara yang digunakan pada
penulisan makalah ini adalah : Studi
Pustaka dan melalui media Internet,
yaitu dalam metode ini penulis membaca buku-buku yang berkaitan dengan
penulisan makalah ini. Penulis juga melakukan penelusuran di media internet
yang berkaitan dengan makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Pola Pikir Manusia
Manusia sebagai makhluk
sosial memiliki kemampuan berpikir yang menimbulkan dorongan hasrat ingin tahu
manusia dari segi kehidupan sosial, bahkan kehidupan pribadi seperti ingin tahu
tentang dirinya sendiri. Dari rasa ingin tahu ini manusia bisa menentukan arah
jalan yang akan di hadapi dan cara mengatasi masalah yang di hadapi. Mendorong
manusia untuk mengenal gejala yang terjadi di sekitar, mengenal dan memahami
suatu subjek, lalu menjelaskan hal-hal yang di temuinya. Sehingga menimbulkan
cara pandang tersendiri dan di kumpulkan sebagai pengalaman serta pengetahuan.
Adanya
rasa ingin tahu ini menyebabkan pola pikir pengetahuan manusia menjadi berkembang luas dalam
jangkauan yang tak terhingga. Melalui pengamatan-pengamatan yang ditemui di
setiap harinya yang terasa oleh panca indra adalah dasar sumber rasa ingin tahu
itu hadir. Maka berlanjut kea rah pengamatan terhadap objek untuk di amati. Dan
manusia belum merasa puas jika belum
mendapat sesuatu dari apa yang di amatinya.
Dari
keterbukaan pola pikir yang berkembang itu maka terjadi pengamatan yang lebih
dalam lagi, bukan hanya sekedar mencari jawaban dari apa yang di amatinya,
tetapi juga mencari jawaban dari bagaimana, lalu berlanjut ke mengapa tentang
benda-benda atau objek atau pun peristiwa tertentu yang di amatinya.
Maka
dari itu proses perkembangan pengetahuan tersebut bisa lebih mudah dan
sistematis dengan adanya kemampuan berpikir itu. Dengan terkumpulnya
pengetahuan bisa menjadi bahan untuk bertukar pikiran bagi masing-masing
manusia tersebut. Dan di tambah juga adanya dorongan sifat manusia yang ingin
maju, selalu merasa tidak puas, dan mencari sesuatu yang lebih baik. Akan
membuat manusia mengenal, memahami, dan
berusaha mengerti agar mendapat pengetahuan yang lebih banyak.
Lalu
apakah ada proses dasar berpikir pada manusia? Jika kita telaah lebih lanjut akan kita dapati bahwa untuk dapat berfikir
membutuhkan
beberapa komponen, diantaranya : 1) Fakta, manusia membutuhkan fakta yang akan dijadikan
objek berfikirnya; 2)
Indera, untuk dapat menyerap fakta-fakta yang akan
dipikirkan. Seperti mata untuk dapat melihat, meraba, pendengaran, dan indera
yang lainnya; 3) Otak, merupakan organ yang berfungsi untuk
menterjemahkan setiap fakta yang diserap; 4) Informasi sebelumnya, tanpa informasi manusia tidak dapat untuk
memahami fakta yang sedang dihadapinya
2.
Teori
Heliosentris
Pengertian
teori heliosentris adalah matahari sebagai pusat alam semesta dan benda langit lainnya bergerak
mengelilingi matahari. Teori ini dikemukakan setelah adanya teleskop yang bisa
mengamati bahwa benda langit di galaksi kita bergerak mengelilingi matahari.
Teori Heliosentris ini dicetuskan oleh
Nicholaus Copernicus.
Dalam
astronomi, heliosentrisme
adalah teori yang berpendapat bahwa
Matahari bersifat stasioner dan berada pada pusat alam semesta.
Secara
historis, heliosentrisme bertentangan dengan geosentrisme,
yang menempatkan Bumi di pusat alam semesta. Diskusi mengenai kemungkinan heliosentrisme terjadi sejak zaman klasik.
Barulah ketika abad ke-16 dapat ditemukan suatu model matematis yang dapat
meramalkan secara lengkap sistem heliosentris, yaitu Nicolaus
Copernicus, seorang ahli matematika dan astronom. Pada abad
berikutnya, model tersebut dijabarkan dan diperluas oleh Johannes Kepler
dan pengamatan pendukung dengan menggunakan teleskop diberikan oleh Galileo Galilei.
Akhirnya
pada tahun 1543 teori geosentris dipatahkan oleh teori heliosentris yang
diajukan oleh Nicolaus Copernicus. Dalam teori heliosentris, mataharilah sebagai pusat tata surya. Matahari
dikelilingi oleh planet-planet. Dalam
model heliosentris Copernicus, Matahari dianggap berada pada pusat alam
semesta, bintang-bintang terletak pada bulatan angkasa dan berputar mengelilingi
Matahari. Diantara Bintang-bintang dan Matahari terdapat planet-planet termasuk
Bumi yang berputar mengelilingi Matahari dalam
masing-masing orbitnya dengan lintasan orbit berbentuk lingkaran.
3.
Teori
Geosentris
Teori geosentris adalah teori yang menyatakan bahwa yang menjadi pusat
dari tata surya adalah bumi, berdasarkan dari makna secara bahasapun demikian.
Kata geosentris berasal dari kata geo yang berarti bumi dan centre yang
berarti pusat. Teori ini menolak terhadap pendapat teori egosentries yang
menyatakan bahwa manusialah yang menjadi pusat tata surya.
Awal kemunculan teori ini dipelopori oleh Aristoteles
yang berpendapat bahwa bumi itu bulat. Aristoteles juga memberikan argumen
yaitu ketika terjadi gerhana terdapat bayang-bayang lengkung pada bulan yang
disebabkan oleh posisi bumi.
Di dalam pengamatan teori Geosentris ini
terdapat dua pengamatan umum yang mendukung soal pandangan bumi sebagai pusat
dari tata surya atau alam semesta. Pengamatan pertama adalah dari
bintang-bintang, matahari, dan planet-planet tampak berputar mengelilingi bumi
setiap hari, membuat bumi sebagai pusat sistem teori ini. Pengamatan kedua yang
mendukung adalah bumi yang tampak tidak bergerak dari sudut pandang pengamat
yang berada di bumi, bahwa bumi itu solid, stabil, dan tetap pada tempatnya.
Dengan kata lainnya, benar-benar dalam
posisi diam.
4.
Teori Asentris
Pada teori Asentris adalah
merupakan suatu anggapan bahwa tidak perlu lagi adanya pusat-pusatan dalam alam
semesta ini. Semuanya beredar dalam konstelasi ilmiah. Dengan paham ini manusia
semakin kecil jika dihadapkan pada alam semesta yang tidak terbatas ukurannya sehingga dari sudut pandang secara agama semuanya dikembalikan pada Tuhan sebagai
Sang Pencipta Alam.
Paham Asentris juga muncul berdasarkan teori ekspansi dan kontraksi. Teori ini
berlandaskan suatu pemikiran bahwa ada suatu siklus dari alam semesta,
yaitu masa ekspansi dan masa kontraksi.
Diduga bahwa siklus ini berlangsung dalam waktu 30.000 juta tahun.
Dalam
masa ekspansi, terbentuklah galaksi serta bintang-bintang yang bersumber dari
reaksi inti hydrogen yang pada akhirnya membentuk berbagai unsur lain yang
kompleks. Pada masa kontraksi, galaksi dan bintang-bintang yang terbentuk
menyusut mengeluarkan tenaga berupa panas yang sangat tinggi. Berdasarkan teori
ekspansi dan kontraksi, sebenarnya alam semesta ini tidak berawal dan tidak
berakhir (asentris).
5.
Pusat
Tata Surya Menurut Islam
Kasus-kasus
tentang teori tata surya dalam Islam sangat terisolasi. Maka hanya ada sedikit
individu yang mengajarkan tentang teori tata surya alam semesta. Salah satunya
adalah Grand Mufti Saudi Arabia tahun 1993-1999, Abd al-Aziz ibn Abd Allah
ibn Baaz (Bin Baz), yang mengajarkan pandangan ini antara tahun
1966-1985.
Menurut Bin Baz, ”Telah
tersebar pada zaman ini di kalangan para penulis dan pengajar bahwasanya bumi
itu berputar sedangkan matahari itu tetap, dan pendapat ini diikuti oleh banyak
orang, maka banyak sekali pertanyaan. Seputar masalah ini. Maka saya katakan: "Al-Quran
dan as-Sunnah
serta kesepakatan para ulama
dan realita yang ada menunjukan bahwa matahari
itu beredar di garis edarnya sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala
sedangkan bumi tetap tidak bergerak, yang mana Allah menyiapkan sebagai tempat
tinggal dan Allah memantapkan dengan gunung-gunung agar tidak bergerak bersama
mereka.”
Dari pengambilan pendapat
itu tentu ada rujukan yang mendukung bahwa bumi sebagai pusat alam semesta, dalil-dalil dari Al-Qur’an dan as-Sunnah yang
menunjukkan akan tetapnya bumi dan berjalannya matahari mengelilingi bumi
antara lain :
1. Allah –ta’ala- berfirman :
“…dan matahari berjalan
ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha
Mengetahui” (Yasin : 38)
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin –rahimahullah–
mengatakan ketika menafsirkan ayat ini “Sebagian faedah dari ayat ini adalah
bahwasanya matahari itu berjalan dan ini adalah suatu kenyataan serta zhahir
dari Al-Qur’an dan bahwa berjalannya adalah secara dzatnya, bukanlah yang
dimaksud dengan berputar itu adalah bumi. Merupakan suatu kewajiban untuk
membiarkan Al-Quran sesuai zhahirnya sampai tegak sebuah dalil yang jelas serta
bisa dijadikan hujjah bagi kita di hadapan Allah -‘azza wa jalla- untuk keluar
dari zhahirnya, sebab yang berbicara dengan Al-Qur’an adalah Allah Al-Khaliq
(sang pencipta). Dialah yang mengetahui keadaan makhluk-Nya. Apabila Dia
mengatakan bahwa matahari berjalan, maka wajib bagi kita untuk mengatakan bahwa
matahari berjalan dan tidak boleh bagi kita untuk mengatakan kita yang
berjalan”. (At-Tafsir Ats-Tsamin).
2. Allah -ta’ala- berfirman :

“Dan Dia telah menundukkan
(pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya)
dan telah menundukkan bagimu malam dan siang” (Ibrahim : 33)
Ibnu Katsir -rahimahullah-
berkata “Yakni keduanya berjalan dan tidak tetap, baik di waktu siang maupun
malam”.
BAB
III
PENUTUP
1.
KESIMPULAN
Perkembangan pola pikir
manusia terhadap penelitian atau dengan mengamati suatu objek supaya mendapat
sebuah jawaban yang di harapkan menjadi sebuah pengetahuan luas untuk
dikembangkan. Dengan berkembangnya pola pikir maka untuk mendapat suatu
pengetahuan menjadi lebih sistematis. Mencari jawaban dari suatu yang di amati
dan terus mengamati dalam skala lebih dalam lagi, mulai dari apa yang di amati,
lalu mencari jawaban ke arah bagaimana , sampai kepada mengapa dari suatu objek
yang di amati.
Masih menjadi sebuah teori
untuk menentukan tentang pusat dari alam semesta ini, antara matahari sebagai
pusatnya atau bumi sebagai pusatnya. Dari segi teori Heliosentris dan teori
Geosetris yang sangat bertentangan, ada pemisah yaitu teori Asentris yang
menganggap tidak ada pusat alam semesta.
Namun tentunya dengan adanya
kajian ilmu Islam yang ada dalil-dali menjelaskan tetntang alam semesta, ada
pencerahan tentang jawaban dari pusat tata surya ini. Yang menyebutkan bahwa
matahari berputar di garis edarnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Dari
Wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar