Sabtu, 04 Mei 2019

MAKALAH : TAFSIR AYAT-AYAT RISALAH

MAKALAH 

AYAT-AYAT TENTANG RISALAH

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Kelompok Mata Kuliah Tafsir
( Ibadah dan Muamalah )

Dosen Pengampu : Mimin Mintarsih, M.Ag.




SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
DR. KHEZ MUTTAQIEN
PURWAKARTA
2018



KATA PENGANTAR

Assalamu alaikum Wr. Wb.

          Puji Syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah Yang Maha Kuasa karena  atas berkat Rahmat dan hidayah-Nyalah  yang senantiasa dilimpahkan kepada kita, sehingga dalam penyusunan makalah ini kami diberikan  kemudahan untuk mengumpulkan referensi dalam menyusun makalah mengenai Ayat-ayat Tentang Risalah.
Adapun maksud dan tujuan membuat makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Tafsir, Semester III, tahun akademik 2018/2019.
         Kami juga  sadari bahwa didalam isi makalah yang kami buat ini sesungguhnya masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan yang seharusnya itu menjadi suatu hal yang sangat subtansi dalam makalah ini, oleh karena itu kami sebagai penyusun makalah ini  sangat mengharapkan masukan-masukan agar sekiranya makalah ini dapat sempurna sesuai apa yang kita harapkan dan juga dapat bermamfaat untuk kita semua.
          Kami selaku penyusun mengucapkan banyak terima kasih ketika makalah ini begitu banyak memberikan dampak positif bagi rekan-rekan mahasiswa lainnya, Semoga Allah SWT senan tiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Aamiin.

Wassalamu A’laikum Wr.Wb


Purwakarta, 13 Desember 2018


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
B. Rumusan masalah
C. Tujuan penulisan
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Risalah
B. Ayat-ayat Risalah
C. Risalah : Universalitas dan Tujuan risalah
1. Universal Risalah
2. Tujuan Risalah
D. Risalah Terhadap Manusia
E. Macam-macam Risalah
F. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya
G. Jika tidak taat pada Allah dan Rasul-Nya
BAB III PENUTUP
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dengan mempelajari tentang ayat-ayat risalah, kita sebagai seorang muslim bisa mengetahui lebih dalam bahwa risalah itu adalah sebuah kebaikan dan rasul adalah hamba-Nya yang ditugaskan untuk menyampaikan risalah. Dan untuk mengetahui pula balasan serta hukuman bagi yang taat atau menentang risalah Allah.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan Risalah?
2. Apakah tujuan dari Risalah?
3. Bagaimana tafsir dari ayat-ayat Risalah?
4. Apa jadinya manusia tanpa Risalah?
5. Apakah Risalah menjadi beban bagi Rasul?
C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui pengertian risalah.
2. Untuk mengetahui ayat-ayat risalah.
3. Untuk mengetahui tafsir dari ayat-ayat risalah.
4. Untuk mengetahui tujuan dari risalah.
5. Untuk mengetahui pentingnya risalah bagi manusia.


BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN RISALAH

Secara bahasa, risalah berasal dari bahasa Arab yang artinya adalah pesan. Risalah sendiri berasal dari Rabb Yang Maha Esa, Yang  Maha Kuasa, Allah SWT, dan lalu di wahyukan kepada pembawa risalah melalui malaikat Jibril. Dan pembawa risalah itu sendiri yaitu Raslul atau ustusan Allah.
Maka di dalam Islam disebutlah risalah islam yang dibawa oleh junjungan kita Nabi Muhammad SAW sebagai rasul utusan pembawa risalah yang wajib di sampaikan kepada umat manusia. Dam n selama kurang lebihnya 23 tahun Rasulullah mengabdikan diri dalam jalan menyampaikan ayat-ayat Allah pada manusia sebagai risalah dari Allah Tuhan Semesta Alam.

B. AYAT-AYAT RISALAH

               
Artinya : “Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama dan cukuplah Allah sebagai saksi.” ( QS. Al-Fath : 28 )

Ibnu Katsir menafsirkan bahwa yang dibawa Rasul adalah yakni,ilmu yang bermanfaat dan amal sholeh. Karena sesungguhnya syari’at ini mencakup dua hal, yaitu ilmu dan amal. Bahwa ilmu syari’at itu benar, sedangkan amal syar’i itu diterima, dan semua berota yang dibawanya adalah haq, sedangkan keputusannya adalah adil.

Dari ayat diatas Allah memberitakan bahwa Dia-lah yang mengutus Rasul untuk menyampaikan syari’at agama yang haq. Maka sesungguhnya risalah islam ini adalah pesan kebaikan dari Allah kepada seluruh manusia. Karena risalah yang dibawa Nabi Muhammad bukan untuk satu kaum atau satu golongan saja, dan beliau SAW merupakan utusan Allah yang terakhir diantara semua nabi dan rasul-Nya. Diriwayatkan bahwa jumlah rasul adalah 313 atau 314 atau 315. Sedangkan para nabi diriwayatkan berjumlah 124.000.

Allah mengutus Muhammad SAW sebagai hamba dan Rasul-Nya kepada seluruh makhluk, sebagai petunjuk bagi mereka, penyempurna kehidupan dan tempat kembali mereka.
Dan juga risalah yang beliau Muhammad SAW bawa, menyempurnakan seluruh risalah yang telah ada sebelumnya. Sesuai dengan hadits Rasulullah SAW :

“Sesungguhnya perumpamaan diriku dengan nabi-nabi sebelumku adalah sama dengan seseorang yang membuat sebuah rumah, diperindah dang diperbagusnya kecuali tempat untuk sebuah batu bata disudut rumah itu. Maka orang-orangpun mengelilingi rumah itu dan mengaguminya, dan berkata: Mengapa engkau belum memasang batu bata itu? Nabipun berkata: Sayalah batu bata terakhir itu, sayalah penutup para nabi.”


Firman Allah dalam surat Al Ma'idah :
                    ••  •      
Artinya : “Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maa’idah : 67)

Tafsir 'gangguan manusia' maksudnya: tak seorang pun yang dapat membunuh Nabi Muhammad SAW, ayat ini adalah awal permulaan rasul diperintahkan Allah melakukan dakwah secara umum. Adapun sebagian ahli tafsir memandang ini senagai melakukan dakwah khusus kepada ahli kitab. Dan nabi menyampaikan apa yang diturunkan kepadanya tanpa menghiraukan besar kecilnya tantangan dari kalangan orang musyrik dan orang-orang fasik, dan tidak takut menghadapi gangguan.

Apa-apa yang diturunkan Allah pada nabi adalah amanat yang wajib disampaikan seluruhnya kepada manusia. Bahkan menyampaikan sebagian saja pun dianggap sama dengan tidak menyampaikan sama sekali. Dan tidak boleh ditunda dari waktunya, karena termasuk penyembunyian amanat Allah.

Risalah yang pertama disampaikan adalah tauhid, seperti firman Allah dalam Al Qur’an :

    •       ….
Artinya : “Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu…”
( QS. An Nahl : 36 )

Imam Jalaludin dalam tafsir Jalalain menyebutkan yaitu rasul untuk menyerukan pada manusia untuk meng-Esa-kan Allah dan berhala-berhala itu janganlah kalian sembah.

Dan apa yang diturunkan rasul adalah mukjizat, yang dengan diturunkannya Al Qur’an itu sebagai pedoman umat manusia seluruhnya.
Firman Allah SWT :

       ••      
Artinya : “keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan,” ( QS. An Nahl : 44 )

Dalam Tafsir Jalalain maksudnya yakni Al Qur’an yang di dalamnya dibedakan antara halal dan haram tentang hal tersebut, kemudian mereka mengambil pelajaran darinya.

Ayat-ayat lain yang menyebutkan Al Qur’an di turunkan kepada Rasul untuk disampaikan kepada manusia, sepertiterdpat pada surat Yaasiin, bahwa Allah berfirman :

         •                    •     
Artinya : “1) Yaa siin 2) demi Al Quran yang penuh hikmah, 3) Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul, 4) (yang berada) diatas jalan yang lurus, 5) (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, 6)  agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.” ( QS. Yaasiin : 1-6 )

Ibnu Katsir menafsirkan yakni demi Al Qur’an yang tidak di datangi kebathilan dari hadapan dan dari belakangnya. Sesungguhnya engkau (Muhammad) diatas manhaj, agama yang kokoh, dan syari’at yang lurus. Dan yang kau bawa ini diturunkan dari Rabb Maha Perkasa Lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.

Adapun Imam Jalaludin menafsirkan yakni Al Qur’an dengan hikmah-hikmah, dan makna-maknanya sangat indah lagi memukau. Sesungguhnya hai Muhammad, engkau berada diatas jalan para nabi sebelum kamu, yaitu jalan tauhid dan hidayah.


C. RISALAH : UNVERSALITAS dan TUJUAN RISALAH

1. UNIVERSAL RISALAH

Dengan sifat risalah yang universal ini bahwa risalah Muhammad SAW adalah untuk manusia seluruhnya bukan untuk satu kaum atau golongan saja. Tidak sama seperti nabi-nabi terdahulu, sebagai buktinya bahwa Allah berfirman dalam Al Qur’an :

    ••     ••   
Artinya : “dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya  sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” ( QS. Saba’ : 28 )

Tafsir Jalalain, maksud dari berita gembira yaitu Allah  mengutus rasul kepada orang-orang beriman bahwa mereka akan masuk surga. Sedangkan arti dari pemberi peringatan teruntuk orang-orang kafir bawha mereka akan dimasukkan kedalam neraka.

Ibnu Katsir menafsirkan maksud dari pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan yaitu engkau (Muhammad) memberi kabar gembira bagi orang yang menantimu dengan surge dan membri ancaman bagi orang yang bermaksiat kepadamu dengan neraka.

Qatadah berkata tentang ayat ini, “Allah mengutus Nabi Muhammad SAW kepada bangsa Arab dan bangsa ‘Ajma (non Arab). Orang yang paling mulia diantara disisi Allah adalah yang paling taat kepada-Nya.

Maka semakin jelaslah keuniversalan risalah yang dibawa  Nabi Muhammad SAW. Bahkan ada yang menyebut bahwa Rasulullah di utus kepada seluruh jin dan manusia. Dan ayat diatas juga di pertegas oleh ayat lain seperti yang terdapat pada surat Al A’raaf ayat 158 :

  •     •                 •      •   
Artinya : “Katakanlah: "Hai manusia Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” ( QS. Al A’raaf : 158 )

Imam Jalaludin dalam Tafsir Jalalainmenyebutkan bahwa ini pembicaraan yang ditujukkan kepada Nabi Muhammad,  untuk menyeru pada manusia agar beriman pada Allah dan Rasul-Nya agar mendapat bimbingan hidayah.

LANDASAN KEUNIVERSALAN RISALAH ISLAM

Adapun landasan-landasan yang membuat risalah Islam ini bersifat universal antara lain :

a. Tidak mengandung hal yang rumit untuk diyakini manusia sebagai sebuah ibadah dan sebagai amalan.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya….” ( Al Baqarah : 286)

“…. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu….” ( Al Baqarah : 185 )

“…. dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan….” ( Al Hajj : 78 )

Nabi SAW bersabda dalam haditsnya “Sesungghnya  agama ini mudah”.

b. Sesuatu yang mutlak dan tidak berubah seiring perubahan ruang dan masa (contohnya dalam akidah dan ibadah)
c. Ajaran-ajaran yang untuk menjaga kehormatan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

Dan untuk Rasulullah pun Allah menurunkan wahyu tidak untuk membebani nabi. Seperti firman Allah :
                                 •  
Artinya : “1) Alif laam mim shad  2)  ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, Maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. 3) ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” ( QS. Al A’raaf : 1-3 )

Ibnu Katsir menyatakan dalam tafsirnya yakni inilah kitab yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Rabbmu. Janganlah ada kesempitan maksudnya jangan ada keraguan terhadapnya. Ada pula yang menyatakan “jangan merasa keberatan untuk menyampaikan dan memberi peringatan kepada manusia dengannya”.
Ikutilah jejak nabi yang ummi yang membawakan kitab yang diturunkan dari Rabb Pemelihara dan Pemilik Segala Sesuatu. Janganlah menyimpang dari apa yang diajarkan Rasul kepada kalian.



Lalu Allah berfirman dalam surat lain :
     
Artinya : “Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah;” ( QS. Thaahaa : 2 )
Tafsir Jalalain menyebutkan bahwa tidak diturunkan Al Qur’an kepadamu (Muhammad) supaya rasul letih dan payah, disebabkan apa yang kamu kerjakan sesudah ia diturunkan.

2. TUJUAN RISALAH

Sayyid Sabiq dalam Fikih Sunnahnya menyebut bahwa tujuan yang diusung oleh risalah islam adalah untuk penyucian diri (tazkiyatul-anfus) menuju pengetahuan sebenarnya tentang Allah dan beribadah kepada-Nya, sekaligus memperkukuh relasi-relasi kemanusiaan, dan membangunnya berlandaskan cinta, kasih sayang, persaudaraan, persamaan, dan keadilan; serta mewujudkan kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat. Allah SWT  berfirman yang artinya :

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,” ( QS. Al Jumu’ah : 2 )

Ibnu Katsir menafsirkan yang di maksud buta huruf adlalah bangsan Arab. Ayat ini merupakan bukti dikabulkannya permohonan Nabi Ibrahim ketika mendo’akan penduduk Mekkah agar Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri.
Setelah sekian lama Rasul tidak muncul dan tidak adanya bimbingan yang lurus, maka Allah mengutus Rasul-Nya kepada mereka. Karena orang-orang Arab dahulu berpegang teguh kepada ajaran Ibrahim as namun mereka merubah, mengganti, serta menukar tauhid dengan syirik seperti yang dilakukan Ahli Kitab.
Kemudian Allah mengutus Muhammad SAW dengan membawa syari’at yang agung, lengkap lagi mencakup seluruh kebutuhan makhluk. Yang di dalamnya terdapat petunjuk dan penjelasan segala sesuatu yang dibutuhkan, baik yang menyangkut dunia maupun akhirat.

Tafsir Jalalain
Diutusnya Nabi Muhammad di antara bangsa Arab dengan membawakan Al Qur’an untuk membersihkan mereka dari kemusyrikan.

Adapun dalam Tafsir Al Maraghi bahwa tentang buta huruf terdapat dalam hadits yang dikeluarkan dari Al Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan An Nasa’I dari Ibnu Umar dari Nabi Saw, beliau mengatakan “Kami adalah ummiy, kami tidak menulis dan tidak pula menghitung”
Maka rasul termasuk ummi, namun ia membacakan ayat-ayat Al Qur’an untuk menjadikan mereka suci dari kotoran-kotoran akidah, dan untuk mengajari mereka syari’at yang menyempurnakan jiwa.

Allah berfirman dalam ayat lain :
     
Artinya : “dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” ( QS. Al Anbiya : 107 )

Ibnu Katsir menafsirkan yaitu Dia mengutusnya sebagai rahmat untuk kalian semua. Barang siapa yang menerima rahmat dan mensyukuri rahmat ini, niscaya dia akan berbahagia di dunia dan di akhirat. Sedangkan barang siapa yang menolak dan menentangnya, niscaya dia merugi dunia dan akhirat.

Dalam ayat lain Allah menjelaskan diturunkannya Al Qur’an sebagai kitab terakhir yang membawa kebenaran dan membenarkan kitab-kitab sebelumnya.

Firman Allah :

Artinya : “dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,”
( QS. Al Maa’idah : 48 )

Tafsiran Kementrian Agama RI terhadap ayat tersebut bahwa diturunkannya Al Qur’an kitab terakhir yang membawa kebenaran, dan membenarkan kitab-kitab sebelumnya, yang terpelihara dengan baik.Yang menjamin syari’at yang murni, maka pantaslah dan wajib menghukum dan memutuskan perkara sesuai hukum yang diturunkan Allah.

Allah SWT menghendaki manusia sebagai makhluk yang dapat menggunakan akal dan pikirannya, dapat maju dan berkembang. Demikianlah Allah menghendaki dan memberikan tiap-tiap umat syari’at tersebut, untuk menguji sampai dimana manusia itu mampu melaksanakan perintah Allah atau menjauhi larangan-Nya. Maka seharusnya manusia berlomba-lomba berbuat kebaikan dan amal sholehm sesuai dengan syari’at yang dibawa oleh Nabi penutup, Rasul terakhir Muhammad SAW, untuk kepentingan di dunia dan kebahagiaan di akhirat kelak.
Allah berfirman dalam Al Qur’an :
•            •    
Artinya : “Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka  ada pahala yang besar,”
( QS. Al Israa’ :  9 )

Dr. H. Musthafa Umar  menyebut maksudnya,  hanya Al Qur’an lah yang akan membawa manusia kepada kehidupan yang lebih baik dan lebih mulia.


D. RISALAH TERHADAP MANUSIA

Pada dasarnya manusia memerlukan Risalah dalam kehidupannya. Karena dalam hal ini ada penyebab mengapa manusia butuh risalah, antara lain :

1. Tanpa Risalah manusia tidak mungikin mengenal Allah, sifat-sifat-Nya, serta tata cara beribadah kepada-Nya
2. Manusia tidak akan mengenali alam ghaib
3. Manusia tidak mengetahui tujuan hidupnya
4. Tidak bisa menentukan undang-undang, tidak menjamin terealisasinya keadilan dan persamaan hak

E. MACAM-MACAM RISALAH

Ada sedikitnya 4 poin utama risalah yang di sampaikan oleh Rasulullah, antara lain :
1. Aqidah
Untuk bertaqwa dan menyembah Allah ;
“dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu"
( QS. An Nahl : 36 )

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.”
( QS. Ali ‘Imran : 102 )

Seperti yang terdapat hadits arba’in, “Bertaqwalah kepada Allah dimanapun kamu berada, dan iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan akan menghapus keburukan itu, dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik.”
 ( HR. at-Tirmidzi )

2. Perintah dan larangan Allah
“dan berimanlah kamu kepada apa yang telah aku turunkan (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa.”
( QS. Al Baqarah : 41 )

3. Ibadah ( membimbing manusia ke jalan yang lurus )
“ dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
( QS. Adz zariyaat : 56 )

4. Peringatan mengenai tempat kembalinya
“ (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"
( QS. Al Baqarah : 156 )

F. TAAT KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA

Agar senantiasa kita berada di jalan islam dengan mengikuti petunjuk risalah yang telah di sampaikan, maka kita wajib taat kepada Allah dan Rasul-Nya agar mendapatkan kemenangan dan agar bersama dengan Rasul di surga nanti.

Dalam beberapa ayat Allah menerangkan agar bertaqwa kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya :

1. Firman Allah SWT :
“ Katakanlah: "Taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling Maka Sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang".
( QS. An Nuur : 54 )

Pada Tafsir Jalalain menyebut bahwa jangan berpaling dari ketaatan kepada Rasul, karena dia menyampaikan risalah dan wajib untuk manusia taat kepadanya.

2. Firman Allah SWT :
“ dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat.”
( QS. An Nuur : 56 )


3. Firman Allah SWT :
“ Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.”
( QS. An Nisaa’ : 80 )

Menurut Imam Jalaludin artinya tidak mau menaati Rasul, bukan urusan rasul. Karena rasul hanyalah sebagai pemberi peringatan.

4. Firman Allah SWT :
“ ini adalah kehormatan (bagi mereka). dan Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik,”( QS. Shaad : 49 )
Dalam Tafsir Al Azhar oleh Prof. Hamka menyebutkan, dan manusia yang mengikuti Rasul-rasul dan Nabi-nabi itu pun akan menuruti mereka pula. Dan disini bias di kaitkan dengan surat An Nisaa ayat 68 :
“ dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.” ( QS. An Nisaa’ : 68 )

“ (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka;”
( QS. Al Faatihah : 7 )

“ dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, dan orang-orang shaleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.”
( QS. An Nisaa’ : 69 )



G. JIKA TIDAK TAAT PADA ALLAH DAN RASUL-NYA

Adapun jika manusia tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka akan di hapuskan segala amal kebaikannya. Bahkan dimasukkan ke dalam neraka. Sesuai dengan firman Allah :

           
“ Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.”
( QS. Muhammad : 33 )

Ibnu Katsir menyatakan, takutlah kalian akan dosa yang akan menghapus amal perbuatan.

Allah berfirman dalam ayat lain :
“36) Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala keppadamu dan Dia tidak akan memint harta-hartamu. 37) jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan semuanya) niscaya kamu akan kikir dan Dia akan Menampakkan kedengkianmu. 38) Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir Sesungguhnya Dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.” ( QS. Muhammad : 36-38 )
Ibnu Katsir menafsirkan bahwa demikianlah kehidupan dunia, kecuali jika di maksudkan beribadah kepada Allah.
Allah tidak meminta sesuatpun dari kalian. Dan Dia telah mewajibkan zakat dari harta kalian untuk membantu saudara kalian yang fakir dan miskin agar bermanfaat.
Pahala akan berkurang karena sebenarnya kalianlah yang butuh kepada-Nya. Dan jika berpaling dari berbuat taat kepada-Nya dan mengikuti syari’at-Nya, akan diganti dengan mereka yang akan mendengar lagi taat kepada perintah-Nya.

Firman Allah SWT :
          •   •    
“akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. dan Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka Sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”
( QS. Al Jinn : 23 )

Dari ayat di atas, barang siapa bermaksiat kepada Allah, maka di akhirat akan di masukkan kedalam neraka selama-lamanya.

Wallahu a'lam



BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Risalah adalah pesan kebaikan dari Allah Tuhan Semesta Alam, diutusnya para rasul tidak lain hanya untuk menyampaikan risalah Allah yakni risalah islam. Dan Nabi Muhammad sebagai junjungan kita di utus oleh Allah sebagai penutup para nabi dan rasul untuk menyampaikan risalah kepada seluruh umat manusia, tidak untuk satu umat atau golongan saja seperti rasul terdahulu. Bahkan ada yang menyatakan untuk seluruh makhluk jin dan manusia. Itulah risalah islam yang universal.

Adapun tujuan risalah islam adalah untuk penyucian jiwa (tazkiyatun-anfus) agar mengenal Allah dengan beribadah kepada-Nya, untuk membangun persamaan atas dasar cinta dan kasih sayang, dan untuk kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Wajib bagi kita untuk taat pada Allah dan Rasul-Nya, mengikuti perintah-Nya, bertaqwa, serta beribadah kepada-Nya. Seperti firman Allah :
“dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”( QS. Adz zariyaat : 56 )
Karena dengan taat pada Allah dan Rasul-Nya yang akan membawa kita ke surga bersama orang-orang yang di rahmati Allah. Akan tetapi jika tidak taat, maka sia-sia lah amal kita semuanya dan neraka adalah tempat kembali bagi orang yang menentang Allah.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.”

Wallahu a'lam



DAFTAR PUSTAKA

Sabiq, Sayyid. 2013. Fiqih Sunnah. Pena Pundi Aksara, Jakarta-Pusat
An-Nawawi, Imam. 2018. Hadits Arba’in. DARUL HAQ, Jakarta
Alatas, Alwi. Maret 2006. Proud to be Moeslem. Syaamil Cipta Media, Bandung
Al-Habsyi, al-Alamah al-Habib Ahmad bin Zein. 1436 H/2015 M. Ar-Risalah Al-Jamiah. Putera Bumi, Tangerang
Umar, Dr. H. Musthafa. Juli 2017. Mengenal Allah Melalui Sunnatullah. Tafaqquh Media.  Pekanbaru, Riau
PERAN RISALAH. Sumber : Buku Pedoman Mentoring Agama Islam. FIKUM UNPAD ‘98
Al Atsari, Abu Isma’il Muslim. 6 Oktober 2011. www.muslim.or.id

TAFSIR

Tafsir Ibnu Katsir. Sya’ban 1438 H/April 2017 M. Pustaka Imam Asy-Syafi’i
Al Maraghi, Ahmad Mustafa. Tafsir Al Maraghi Juz XXVIII. 1993. PT. Karya Toha Putra Semarang – Semarang
Tafsir Al Azhar Juzu’ ke-23. Prof. Dr. H. Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (HAMKA). 1981. Yayasan Latimojong, Surabaya
AL QUR’AN DAN TAFSIRNYA. Departemen Agama RI. 1983/1984


Tafsir Jalalain. Aplikasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar