Sabtu, 04 Mei 2019

MAKALAH : TAFSIR AYAT-AYAT RISALAH

MAKALAH 

AYAT-AYAT TENTANG RISALAH

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Kelompok Mata Kuliah Tafsir
( Ibadah dan Muamalah )

Dosen Pengampu : Mimin Mintarsih, M.Ag.




SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
DR. KHEZ MUTTAQIEN
PURWAKARTA
2018



KATA PENGANTAR

Assalamu alaikum Wr. Wb.

          Puji Syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah Yang Maha Kuasa karena  atas berkat Rahmat dan hidayah-Nyalah  yang senantiasa dilimpahkan kepada kita, sehingga dalam penyusunan makalah ini kami diberikan  kemudahan untuk mengumpulkan referensi dalam menyusun makalah mengenai Ayat-ayat Tentang Risalah.
Adapun maksud dan tujuan membuat makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Tafsir, Semester III, tahun akademik 2018/2019.
         Kami juga  sadari bahwa didalam isi makalah yang kami buat ini sesungguhnya masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan yang seharusnya itu menjadi suatu hal yang sangat subtansi dalam makalah ini, oleh karena itu kami sebagai penyusun makalah ini  sangat mengharapkan masukan-masukan agar sekiranya makalah ini dapat sempurna sesuai apa yang kita harapkan dan juga dapat bermamfaat untuk kita semua.
          Kami selaku penyusun mengucapkan banyak terima kasih ketika makalah ini begitu banyak memberikan dampak positif bagi rekan-rekan mahasiswa lainnya, Semoga Allah SWT senan tiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Aamiin.

Wassalamu A’laikum Wr.Wb


Purwakarta, 13 Desember 2018


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
B. Rumusan masalah
C. Tujuan penulisan
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Risalah
B. Ayat-ayat Risalah
C. Risalah : Universalitas dan Tujuan risalah
1. Universal Risalah
2. Tujuan Risalah
D. Risalah Terhadap Manusia
E. Macam-macam Risalah
F. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya
G. Jika tidak taat pada Allah dan Rasul-Nya
BAB III PENUTUP
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dengan mempelajari tentang ayat-ayat risalah, kita sebagai seorang muslim bisa mengetahui lebih dalam bahwa risalah itu adalah sebuah kebaikan dan rasul adalah hamba-Nya yang ditugaskan untuk menyampaikan risalah. Dan untuk mengetahui pula balasan serta hukuman bagi yang taat atau menentang risalah Allah.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan Risalah?
2. Apakah tujuan dari Risalah?
3. Bagaimana tafsir dari ayat-ayat Risalah?
4. Apa jadinya manusia tanpa Risalah?
5. Apakah Risalah menjadi beban bagi Rasul?
C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui pengertian risalah.
2. Untuk mengetahui ayat-ayat risalah.
3. Untuk mengetahui tafsir dari ayat-ayat risalah.
4. Untuk mengetahui tujuan dari risalah.
5. Untuk mengetahui pentingnya risalah bagi manusia.


BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN RISALAH

Secara bahasa, risalah berasal dari bahasa Arab yang artinya adalah pesan. Risalah sendiri berasal dari Rabb Yang Maha Esa, Yang  Maha Kuasa, Allah SWT, dan lalu di wahyukan kepada pembawa risalah melalui malaikat Jibril. Dan pembawa risalah itu sendiri yaitu Raslul atau ustusan Allah.
Maka di dalam Islam disebutlah risalah islam yang dibawa oleh junjungan kita Nabi Muhammad SAW sebagai rasul utusan pembawa risalah yang wajib di sampaikan kepada umat manusia. Dam n selama kurang lebihnya 23 tahun Rasulullah mengabdikan diri dalam jalan menyampaikan ayat-ayat Allah pada manusia sebagai risalah dari Allah Tuhan Semesta Alam.

B. AYAT-AYAT RISALAH

               
Artinya : “Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama dan cukuplah Allah sebagai saksi.” ( QS. Al-Fath : 28 )

Ibnu Katsir menafsirkan bahwa yang dibawa Rasul adalah yakni,ilmu yang bermanfaat dan amal sholeh. Karena sesungguhnya syari’at ini mencakup dua hal, yaitu ilmu dan amal. Bahwa ilmu syari’at itu benar, sedangkan amal syar’i itu diterima, dan semua berota yang dibawanya adalah haq, sedangkan keputusannya adalah adil.

Dari ayat diatas Allah memberitakan bahwa Dia-lah yang mengutus Rasul untuk menyampaikan syari’at agama yang haq. Maka sesungguhnya risalah islam ini adalah pesan kebaikan dari Allah kepada seluruh manusia. Karena risalah yang dibawa Nabi Muhammad bukan untuk satu kaum atau satu golongan saja, dan beliau SAW merupakan utusan Allah yang terakhir diantara semua nabi dan rasul-Nya. Diriwayatkan bahwa jumlah rasul adalah 313 atau 314 atau 315. Sedangkan para nabi diriwayatkan berjumlah 124.000.

Allah mengutus Muhammad SAW sebagai hamba dan Rasul-Nya kepada seluruh makhluk, sebagai petunjuk bagi mereka, penyempurna kehidupan dan tempat kembali mereka.
Dan juga risalah yang beliau Muhammad SAW bawa, menyempurnakan seluruh risalah yang telah ada sebelumnya. Sesuai dengan hadits Rasulullah SAW :

“Sesungguhnya perumpamaan diriku dengan nabi-nabi sebelumku adalah sama dengan seseorang yang membuat sebuah rumah, diperindah dang diperbagusnya kecuali tempat untuk sebuah batu bata disudut rumah itu. Maka orang-orangpun mengelilingi rumah itu dan mengaguminya, dan berkata: Mengapa engkau belum memasang batu bata itu? Nabipun berkata: Sayalah batu bata terakhir itu, sayalah penutup para nabi.”


Firman Allah dalam surat Al Ma'idah :
                    ••  •      
Artinya : “Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maa’idah : 67)

Tafsir 'gangguan manusia' maksudnya: tak seorang pun yang dapat membunuh Nabi Muhammad SAW, ayat ini adalah awal permulaan rasul diperintahkan Allah melakukan dakwah secara umum. Adapun sebagian ahli tafsir memandang ini senagai melakukan dakwah khusus kepada ahli kitab. Dan nabi menyampaikan apa yang diturunkan kepadanya tanpa menghiraukan besar kecilnya tantangan dari kalangan orang musyrik dan orang-orang fasik, dan tidak takut menghadapi gangguan.

Apa-apa yang diturunkan Allah pada nabi adalah amanat yang wajib disampaikan seluruhnya kepada manusia. Bahkan menyampaikan sebagian saja pun dianggap sama dengan tidak menyampaikan sama sekali. Dan tidak boleh ditunda dari waktunya, karena termasuk penyembunyian amanat Allah.

Risalah yang pertama disampaikan adalah tauhid, seperti firman Allah dalam Al Qur’an :

    •       ….
Artinya : “Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu…”
( QS. An Nahl : 36 )

Imam Jalaludin dalam tafsir Jalalain menyebutkan yaitu rasul untuk menyerukan pada manusia untuk meng-Esa-kan Allah dan berhala-berhala itu janganlah kalian sembah.

Dan apa yang diturunkan rasul adalah mukjizat, yang dengan diturunkannya Al Qur’an itu sebagai pedoman umat manusia seluruhnya.
Firman Allah SWT :

       ••      
Artinya : “keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan,” ( QS. An Nahl : 44 )

Dalam Tafsir Jalalain maksudnya yakni Al Qur’an yang di dalamnya dibedakan antara halal dan haram tentang hal tersebut, kemudian mereka mengambil pelajaran darinya.

Ayat-ayat lain yang menyebutkan Al Qur’an di turunkan kepada Rasul untuk disampaikan kepada manusia, sepertiterdpat pada surat Yaasiin, bahwa Allah berfirman :

         •                    •     
Artinya : “1) Yaa siin 2) demi Al Quran yang penuh hikmah, 3) Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul, 4) (yang berada) diatas jalan yang lurus, 5) (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, 6)  agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.” ( QS. Yaasiin : 1-6 )

Ibnu Katsir menafsirkan yakni demi Al Qur’an yang tidak di datangi kebathilan dari hadapan dan dari belakangnya. Sesungguhnya engkau (Muhammad) diatas manhaj, agama yang kokoh, dan syari’at yang lurus. Dan yang kau bawa ini diturunkan dari Rabb Maha Perkasa Lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.

Adapun Imam Jalaludin menafsirkan yakni Al Qur’an dengan hikmah-hikmah, dan makna-maknanya sangat indah lagi memukau. Sesungguhnya hai Muhammad, engkau berada diatas jalan para nabi sebelum kamu, yaitu jalan tauhid dan hidayah.


C. RISALAH : UNVERSALITAS dan TUJUAN RISALAH

1. UNIVERSAL RISALAH

Dengan sifat risalah yang universal ini bahwa risalah Muhammad SAW adalah untuk manusia seluruhnya bukan untuk satu kaum atau golongan saja. Tidak sama seperti nabi-nabi terdahulu, sebagai buktinya bahwa Allah berfirman dalam Al Qur’an :

    ••     ••   
Artinya : “dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya  sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” ( QS. Saba’ : 28 )

Tafsir Jalalain, maksud dari berita gembira yaitu Allah  mengutus rasul kepada orang-orang beriman bahwa mereka akan masuk surga. Sedangkan arti dari pemberi peringatan teruntuk orang-orang kafir bawha mereka akan dimasukkan kedalam neraka.

Ibnu Katsir menafsirkan maksud dari pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan yaitu engkau (Muhammad) memberi kabar gembira bagi orang yang menantimu dengan surge dan membri ancaman bagi orang yang bermaksiat kepadamu dengan neraka.

Qatadah berkata tentang ayat ini, “Allah mengutus Nabi Muhammad SAW kepada bangsa Arab dan bangsa ‘Ajma (non Arab). Orang yang paling mulia diantara disisi Allah adalah yang paling taat kepada-Nya.

Maka semakin jelaslah keuniversalan risalah yang dibawa  Nabi Muhammad SAW. Bahkan ada yang menyebut bahwa Rasulullah di utus kepada seluruh jin dan manusia. Dan ayat diatas juga di pertegas oleh ayat lain seperti yang terdapat pada surat Al A’raaf ayat 158 :

  •     •                 •      •   
Artinya : “Katakanlah: "Hai manusia Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” ( QS. Al A’raaf : 158 )

Imam Jalaludin dalam Tafsir Jalalainmenyebutkan bahwa ini pembicaraan yang ditujukkan kepada Nabi Muhammad,  untuk menyeru pada manusia agar beriman pada Allah dan Rasul-Nya agar mendapat bimbingan hidayah.

LANDASAN KEUNIVERSALAN RISALAH ISLAM

Adapun landasan-landasan yang membuat risalah Islam ini bersifat universal antara lain :

a. Tidak mengandung hal yang rumit untuk diyakini manusia sebagai sebuah ibadah dan sebagai amalan.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya….” ( Al Baqarah : 286)

“…. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu….” ( Al Baqarah : 185 )

“…. dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan….” ( Al Hajj : 78 )

Nabi SAW bersabda dalam haditsnya “Sesungghnya  agama ini mudah”.

b. Sesuatu yang mutlak dan tidak berubah seiring perubahan ruang dan masa (contohnya dalam akidah dan ibadah)
c. Ajaran-ajaran yang untuk menjaga kehormatan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

Dan untuk Rasulullah pun Allah menurunkan wahyu tidak untuk membebani nabi. Seperti firman Allah :
                                 •  
Artinya : “1) Alif laam mim shad  2)  ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, Maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. 3) ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” ( QS. Al A’raaf : 1-3 )

Ibnu Katsir menyatakan dalam tafsirnya yakni inilah kitab yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Rabbmu. Janganlah ada kesempitan maksudnya jangan ada keraguan terhadapnya. Ada pula yang menyatakan “jangan merasa keberatan untuk menyampaikan dan memberi peringatan kepada manusia dengannya”.
Ikutilah jejak nabi yang ummi yang membawakan kitab yang diturunkan dari Rabb Pemelihara dan Pemilik Segala Sesuatu. Janganlah menyimpang dari apa yang diajarkan Rasul kepada kalian.



Lalu Allah berfirman dalam surat lain :
     
Artinya : “Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah;” ( QS. Thaahaa : 2 )
Tafsir Jalalain menyebutkan bahwa tidak diturunkan Al Qur’an kepadamu (Muhammad) supaya rasul letih dan payah, disebabkan apa yang kamu kerjakan sesudah ia diturunkan.

2. TUJUAN RISALAH

Sayyid Sabiq dalam Fikih Sunnahnya menyebut bahwa tujuan yang diusung oleh risalah islam adalah untuk penyucian diri (tazkiyatul-anfus) menuju pengetahuan sebenarnya tentang Allah dan beribadah kepada-Nya, sekaligus memperkukuh relasi-relasi kemanusiaan, dan membangunnya berlandaskan cinta, kasih sayang, persaudaraan, persamaan, dan keadilan; serta mewujudkan kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat. Allah SWT  berfirman yang artinya :

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,” ( QS. Al Jumu’ah : 2 )

Ibnu Katsir menafsirkan yang di maksud buta huruf adlalah bangsan Arab. Ayat ini merupakan bukti dikabulkannya permohonan Nabi Ibrahim ketika mendo’akan penduduk Mekkah agar Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri.
Setelah sekian lama Rasul tidak muncul dan tidak adanya bimbingan yang lurus, maka Allah mengutus Rasul-Nya kepada mereka. Karena orang-orang Arab dahulu berpegang teguh kepada ajaran Ibrahim as namun mereka merubah, mengganti, serta menukar tauhid dengan syirik seperti yang dilakukan Ahli Kitab.
Kemudian Allah mengutus Muhammad SAW dengan membawa syari’at yang agung, lengkap lagi mencakup seluruh kebutuhan makhluk. Yang di dalamnya terdapat petunjuk dan penjelasan segala sesuatu yang dibutuhkan, baik yang menyangkut dunia maupun akhirat.

Tafsir Jalalain
Diutusnya Nabi Muhammad di antara bangsa Arab dengan membawakan Al Qur’an untuk membersihkan mereka dari kemusyrikan.

Adapun dalam Tafsir Al Maraghi bahwa tentang buta huruf terdapat dalam hadits yang dikeluarkan dari Al Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan An Nasa’I dari Ibnu Umar dari Nabi Saw, beliau mengatakan “Kami adalah ummiy, kami tidak menulis dan tidak pula menghitung”
Maka rasul termasuk ummi, namun ia membacakan ayat-ayat Al Qur’an untuk menjadikan mereka suci dari kotoran-kotoran akidah, dan untuk mengajari mereka syari’at yang menyempurnakan jiwa.

Allah berfirman dalam ayat lain :
     
Artinya : “dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” ( QS. Al Anbiya : 107 )

Ibnu Katsir menafsirkan yaitu Dia mengutusnya sebagai rahmat untuk kalian semua. Barang siapa yang menerima rahmat dan mensyukuri rahmat ini, niscaya dia akan berbahagia di dunia dan di akhirat. Sedangkan barang siapa yang menolak dan menentangnya, niscaya dia merugi dunia dan akhirat.

Dalam ayat lain Allah menjelaskan diturunkannya Al Qur’an sebagai kitab terakhir yang membawa kebenaran dan membenarkan kitab-kitab sebelumnya.

Firman Allah :

Artinya : “dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,”
( QS. Al Maa’idah : 48 )

Tafsiran Kementrian Agama RI terhadap ayat tersebut bahwa diturunkannya Al Qur’an kitab terakhir yang membawa kebenaran, dan membenarkan kitab-kitab sebelumnya, yang terpelihara dengan baik.Yang menjamin syari’at yang murni, maka pantaslah dan wajib menghukum dan memutuskan perkara sesuai hukum yang diturunkan Allah.

Allah SWT menghendaki manusia sebagai makhluk yang dapat menggunakan akal dan pikirannya, dapat maju dan berkembang. Demikianlah Allah menghendaki dan memberikan tiap-tiap umat syari’at tersebut, untuk menguji sampai dimana manusia itu mampu melaksanakan perintah Allah atau menjauhi larangan-Nya. Maka seharusnya manusia berlomba-lomba berbuat kebaikan dan amal sholehm sesuai dengan syari’at yang dibawa oleh Nabi penutup, Rasul terakhir Muhammad SAW, untuk kepentingan di dunia dan kebahagiaan di akhirat kelak.
Allah berfirman dalam Al Qur’an :
•            •    
Artinya : “Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka  ada pahala yang besar,”
( QS. Al Israa’ :  9 )

Dr. H. Musthafa Umar  menyebut maksudnya,  hanya Al Qur’an lah yang akan membawa manusia kepada kehidupan yang lebih baik dan lebih mulia.


D. RISALAH TERHADAP MANUSIA

Pada dasarnya manusia memerlukan Risalah dalam kehidupannya. Karena dalam hal ini ada penyebab mengapa manusia butuh risalah, antara lain :

1. Tanpa Risalah manusia tidak mungikin mengenal Allah, sifat-sifat-Nya, serta tata cara beribadah kepada-Nya
2. Manusia tidak akan mengenali alam ghaib
3. Manusia tidak mengetahui tujuan hidupnya
4. Tidak bisa menentukan undang-undang, tidak menjamin terealisasinya keadilan dan persamaan hak

E. MACAM-MACAM RISALAH

Ada sedikitnya 4 poin utama risalah yang di sampaikan oleh Rasulullah, antara lain :
1. Aqidah
Untuk bertaqwa dan menyembah Allah ;
“dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu"
( QS. An Nahl : 36 )

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.”
( QS. Ali ‘Imran : 102 )

Seperti yang terdapat hadits arba’in, “Bertaqwalah kepada Allah dimanapun kamu berada, dan iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan akan menghapus keburukan itu, dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik.”
 ( HR. at-Tirmidzi )

2. Perintah dan larangan Allah
“dan berimanlah kamu kepada apa yang telah aku turunkan (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa.”
( QS. Al Baqarah : 41 )

3. Ibadah ( membimbing manusia ke jalan yang lurus )
“ dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
( QS. Adz zariyaat : 56 )

4. Peringatan mengenai tempat kembalinya
“ (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"
( QS. Al Baqarah : 156 )

F. TAAT KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA

Agar senantiasa kita berada di jalan islam dengan mengikuti petunjuk risalah yang telah di sampaikan, maka kita wajib taat kepada Allah dan Rasul-Nya agar mendapatkan kemenangan dan agar bersama dengan Rasul di surga nanti.

Dalam beberapa ayat Allah menerangkan agar bertaqwa kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya :

1. Firman Allah SWT :
“ Katakanlah: "Taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling Maka Sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang".
( QS. An Nuur : 54 )

Pada Tafsir Jalalain menyebut bahwa jangan berpaling dari ketaatan kepada Rasul, karena dia menyampaikan risalah dan wajib untuk manusia taat kepadanya.

2. Firman Allah SWT :
“ dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat.”
( QS. An Nuur : 56 )


3. Firman Allah SWT :
“ Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.”
( QS. An Nisaa’ : 80 )

Menurut Imam Jalaludin artinya tidak mau menaati Rasul, bukan urusan rasul. Karena rasul hanyalah sebagai pemberi peringatan.

4. Firman Allah SWT :
“ ini adalah kehormatan (bagi mereka). dan Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik,”( QS. Shaad : 49 )
Dalam Tafsir Al Azhar oleh Prof. Hamka menyebutkan, dan manusia yang mengikuti Rasul-rasul dan Nabi-nabi itu pun akan menuruti mereka pula. Dan disini bias di kaitkan dengan surat An Nisaa ayat 68 :
“ dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.” ( QS. An Nisaa’ : 68 )

“ (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka;”
( QS. Al Faatihah : 7 )

“ dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, dan orang-orang shaleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.”
( QS. An Nisaa’ : 69 )



G. JIKA TIDAK TAAT PADA ALLAH DAN RASUL-NYA

Adapun jika manusia tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka akan di hapuskan segala amal kebaikannya. Bahkan dimasukkan ke dalam neraka. Sesuai dengan firman Allah :

           
“ Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.”
( QS. Muhammad : 33 )

Ibnu Katsir menyatakan, takutlah kalian akan dosa yang akan menghapus amal perbuatan.

Allah berfirman dalam ayat lain :
“36) Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala keppadamu dan Dia tidak akan memint harta-hartamu. 37) jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan semuanya) niscaya kamu akan kikir dan Dia akan Menampakkan kedengkianmu. 38) Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir Sesungguhnya Dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.” ( QS. Muhammad : 36-38 )
Ibnu Katsir menafsirkan bahwa demikianlah kehidupan dunia, kecuali jika di maksudkan beribadah kepada Allah.
Allah tidak meminta sesuatpun dari kalian. Dan Dia telah mewajibkan zakat dari harta kalian untuk membantu saudara kalian yang fakir dan miskin agar bermanfaat.
Pahala akan berkurang karena sebenarnya kalianlah yang butuh kepada-Nya. Dan jika berpaling dari berbuat taat kepada-Nya dan mengikuti syari’at-Nya, akan diganti dengan mereka yang akan mendengar lagi taat kepada perintah-Nya.

Firman Allah SWT :
          •   •    
“akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. dan Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka Sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”
( QS. Al Jinn : 23 )

Dari ayat di atas, barang siapa bermaksiat kepada Allah, maka di akhirat akan di masukkan kedalam neraka selama-lamanya.

Wallahu a'lam



BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Risalah adalah pesan kebaikan dari Allah Tuhan Semesta Alam, diutusnya para rasul tidak lain hanya untuk menyampaikan risalah Allah yakni risalah islam. Dan Nabi Muhammad sebagai junjungan kita di utus oleh Allah sebagai penutup para nabi dan rasul untuk menyampaikan risalah kepada seluruh umat manusia, tidak untuk satu umat atau golongan saja seperti rasul terdahulu. Bahkan ada yang menyatakan untuk seluruh makhluk jin dan manusia. Itulah risalah islam yang universal.

Adapun tujuan risalah islam adalah untuk penyucian jiwa (tazkiyatun-anfus) agar mengenal Allah dengan beribadah kepada-Nya, untuk membangun persamaan atas dasar cinta dan kasih sayang, dan untuk kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Wajib bagi kita untuk taat pada Allah dan Rasul-Nya, mengikuti perintah-Nya, bertaqwa, serta beribadah kepada-Nya. Seperti firman Allah :
“dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”( QS. Adz zariyaat : 56 )
Karena dengan taat pada Allah dan Rasul-Nya yang akan membawa kita ke surga bersama orang-orang yang di rahmati Allah. Akan tetapi jika tidak taat, maka sia-sia lah amal kita semuanya dan neraka adalah tempat kembali bagi orang yang menentang Allah.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.”

Wallahu a'lam



DAFTAR PUSTAKA

Sabiq, Sayyid. 2013. Fiqih Sunnah. Pena Pundi Aksara, Jakarta-Pusat
An-Nawawi, Imam. 2018. Hadits Arba’in. DARUL HAQ, Jakarta
Alatas, Alwi. Maret 2006. Proud to be Moeslem. Syaamil Cipta Media, Bandung
Al-Habsyi, al-Alamah al-Habib Ahmad bin Zein. 1436 H/2015 M. Ar-Risalah Al-Jamiah. Putera Bumi, Tangerang
Umar, Dr. H. Musthafa. Juli 2017. Mengenal Allah Melalui Sunnatullah. Tafaqquh Media.  Pekanbaru, Riau
PERAN RISALAH. Sumber : Buku Pedoman Mentoring Agama Islam. FIKUM UNPAD ‘98
Al Atsari, Abu Isma’il Muslim. 6 Oktober 2011. www.muslim.or.id

TAFSIR

Tafsir Ibnu Katsir. Sya’ban 1438 H/April 2017 M. Pustaka Imam Asy-Syafi’i
Al Maraghi, Ahmad Mustafa. Tafsir Al Maraghi Juz XXVIII. 1993. PT. Karya Toha Putra Semarang – Semarang
Tafsir Al Azhar Juzu’ ke-23. Prof. Dr. H. Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (HAMKA). 1981. Yayasan Latimojong, Surabaya
AL QUR’AN DAN TAFSIRNYA. Departemen Agama RI. 1983/1984


Tafsir Jalalain. Aplikasi

PENGERTIAN dan MACAM-MACAM QIRA’AT


PENGERTIAN QIRAAT

Secara Bahasa Qiraat adalah jamak dari kata qira’ah yang mashdar dari qara’a yang berarti bacaan. Secara terminology Sya’ban Muhammad Ismail berpendapat bahwa qiraat adalah cara membaca lafadz-lafadz Al-quran serta perbedaan membacanya menurut yang menaqilkannya. Muhammad arwani kudus bahwa qiraat adalah perbedaan-perbedaan bacaan yang disandarkan kepada imam-imam tujuh dari jalur-jalur yang disepakati.

LATAR BELAKANG QIRAAT

Istilah qiraat muncul sejak zaman Utsman bin Affan ketika para sahabat mulai pergi ke berbagai wilayah untuk mengajar al-Qur’an, para sahabat tersebut membawa bacaan yang berbeda-beda. Akan tetapi mereka tetap berpegang pada Mushaf Utsmani. Sedangkan adanya perbedaan qiraat antara lain karena; Pertama, adanya perbedaan qira’at Nabi, artinya dalam mengajarkan al-Qur’an kepada para sahabatnya, nabi memakai beberapa versi qira’at. Kedua, masuknya Qabilah-qabilah dalam Islam sehingga muncul lahjah atau dialek kebahasaan di kalangan bangsa arab pada masa turunnya al-Qur’an. Dengan adanya hal ini turun izin membaca al-Qur’an dengan tujuh huruf. Ketiga, taqrir Nabi terhadap berbagai qira’at yang berlaku di kalangan kaum muslimin waktu itu. Keempat, adanya riwayat dari para sahabat tentang berbagai versi qira’at yang ada. Kelima, adanya mushaf pribadi milik para sahabat yang sebagian di antaranya memberikan penafsiran. Akan tetapi timbul asumsi dari orang-orang yang mempelajarinya yang menganggap bahwa penafsiran tersebut merupkan bagian dari al-Qur’an.
Adapun menurut Orientalis, adanya perbedaan ini disebabkan akibat kekeliruan dalam penulisan bahasa Arab (palaeografi) zaman dulu, tidak ada titik dan tidak ada tanda diakritika.

MACAM-MACAM QIRAAT

1.      Mutawatir
yaitu Qira’at yang dinukil oleh sejumlah orang yang tidak mungkin bersepakat dalam kedustaan dari orang-orang yang seperti mereka hingga ke akhir sanad, dan ini yang dominan di dalam Qira’at.
2.      Masyhur
yaitu yang sanadnya shahih namun tidak sampai ke tingkatan Mutawatir, sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan rasm, terkenal di kalangan para Imam Qurra’, dan mereka tidak menganggapnya keliru atau ganjil. Dan para Ulama menyebutkan bahwa Qira’at jenis ini boleh diamalkan bacaannya.
3.      Ahad
yaitu yang sanadnya shahih, namun menyelisihi rasm atau menyelisihi kaidah bahasa Arab, atau tidak terkenal sebagaimana terkenalnya Qira’at yang telah disebutkan. Dan yang ini tidak diamalkan bacaannya. Dan di antara contohnya adalah yang diriwayatkan oleh Imam al-Hakim rahimahullah dari Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membaca:

متكئين على رفارف خضر وعباقري حسان
Qira’at di atas dalam mushaf dibaca:

مُتَّكِئِينَ عَلَى رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍ (76)
”Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani yang indah.” (QS. Ar-Rahman: 76)
Dan juga yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwasanya beliau membaca: (surat At-Taubah ayat 128)

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنْفَسِكُمْ… {128}
Dengan menfathahkan huruf Fa’ dalam مِّنْ أَنْفَسِكُمْ (padahal di Qira’at yang lain dengan menkasrahkan Fa’)
4.      Syadz, yaitu yang tidak shahih sanadnya. Seperti Qira’at:

مَلَكَ يَوْمَ الدِّينِ {4}
Dengan kata kerja bentuk lampau, yaitu مَلَكَ (malaka) dan mem-fathah-kan kata يَوْمَ (di Qira’at yang benar dengan meng-kasrah-kannya).
5.      Maudhu’, atau palsu yaitu yang tidak ada asal-usulnya.
6.      Mudraj, atau yang disisipi, yaitu ucapan yang ditambahkan dalam Qira’at (yang shahih) sebagai bentuk penafsiran. Seperti Qira’at Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma:

{ لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلا مِنْ رَبِّكُمْ في مواسم الحج . فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ… }
Dan ucapan في مواسم الحج adalah tafsir yang disisipkan dalam ayat.
Maka keempat Qira’at yang terakhir (dari no 3-5) tidak diamalkan (tidak boleh membaca al-Qur’an dengan Qira’at tersebut)
Jumhur ulama berpendapat bahwa Qira’at Sab’ah adalah Mutawatir, dan selain yang Mutawatir dan Masyhur maka tidak boleh membaca dengannya, baik dalam shalat maupun di luar shalat.
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata dalam Syarh al-Muhadzadzab:
”Tidak boleh membaca dengan Qira’at Syadz di dalam shalat maupun di luar shalat, karena ia bukan al-Qur’an. Karena al-Qur’an tidak ditetapkan kecuali dengan nukilan yang Mutawatir, dan Qira’at Syadz tidak Mutawatir. Dan barangsiapa yang berkata dengan selain ini maka ia adalah orang yang keliru dan bodoh. Maka jika seseorang menyelisihi dan membaca dengan Qira’at Syadz, maka Qira’atnya diingkari, baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Dan para ulama Baghdad telah sepakat bahwa barangsiapa yang membaca dengan Qira’at Syadz maka ia diminta bertaubat. Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah menukil Ijma’ (kesepakatan) seluruh kaum Muslimin tentang tidak diperbolehkannya membaca dengan Qira’at Syadz, dan juga tidak diperbolehkannya shalat di belakang imam yang membaca Qira’at ini (Syadz).”

IMAM QIRAAT (AMBIL POINTNYA SAJA)

Pertama: Abu ‘Amr bin Al ‘Alaa’, gurunya para perawi.
Dia adalah Ziyad bin Al ‘Alaa’ bin ‘Ammar Al Mazini Al Bashri rahimahullah. Ada yang mengatakan bahwa namanya adalah Yahya, ada lagi yang mengatakan bahwa namannya adalah kunyahnya (Kunyah: nama yang didahului dengan kata Abu atau Ibnu). Dia wafat di Kufah pada tahun 154 H. Dan dua orang yang meriwayatkan Qira’at darinya adalah: Ad Duuriyy dan As Suusiyy. Adapun Ad Duuriyy dia adalah Abu ‘Umar Hafsh bin ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz Ad Duuriyy An Nahwi rahimahullah. Ad Duur adalah nama sebuah tempat di Baghdad. Dia wafat pada tahun 246 H. Sedangkan As Suusiyy adalah Abu Syu’aib Shalih bin Ziyad bin ‘Abdillah As Suusiyy rahimahullah, wafat tahun 261 H.

Kedua: Ibnu Katsir (bukan Ibnu Katsir ahli tafsir).
Beliau adalah ‘Abdullah bin Katsir Al Makkiy. Dia adalah salah seorang Tabi’in, dan wafat di Makkah tahun 120 H. Dua orang yang meriwayatkan Qira’at darinya adalah:  Al Bazzi dan Qunbul. Adapun Al Bazziyy dia adalah Ahmad bin Muhammad bin ‘Abdillah bin Abi Bazzah Al Muadzin Al Makkiyrahimahullah, dan memiliki nama kunyah Abul Hasan, wafat du Makkah tahun 250 H.
Adapun Qunbul dia adalah Muhammad bin ‘Abdirrahman bin Muhammad bin Khalid bin Sa’id Al Makki Al Makhzumi rahimahullah, dan memiliki nama kunyah Abu ‘Amr, dan dijuluki Qunbul. Ada yang mengatakan:”Mereka adalah Ahlul Bait di Makkah yang dikenal dengan Al Qanabilah.”. Dia (Qunbul) wafat di Mekah tahun 291H.

Ketiga: Nafi’ Al Madani rahimahullah,
Dia adalah Abu Ruwaim Nafi’ bin ‘Abdirrhaman bin Abi Nu’aim Al Laitsiy, berasal dari Ashfahan, dan wafat di Madinah tahun 169 H. Dua orang yang meriwayatkan Qira’at darinya adalah: Qaaluun dan Warasy. Adapun Qaaluun dia adalah ‘Isa bin Mainaa Al Madani rahimahullah seorang pengajar bahasa Arab, dan memiliki nama kunyah Abu Musa, dan Qaaluun adalah julukannya. Dan diriwayatkan bahwa Nafi’ menjulukinya dengan julukan tersebut karena bagusnya bacaannya. Karena kata “Qaaluun” dalam bahasa Romawi berarti bagus. Dia wafat di Madinah tahun 220 H.
Sedangkan Warasy dia adalah ‘Utsman bin Sa’id bin Al Mishri rahimahullah, memiliki nama kunyah Abu Sa’id, dan Warasy adalah nama julukannya. Dia dijuluki dengan julukan tersebut ada yang mengatakan karena kulitnya yang sangat putih. Dia wafat di Mesir tahun 197 H.

Kempat: Ibnu ‘Amir Asy Syaami
Dia adalah ‘Abdullah bin ‘Amir Al Yahshubiy, seorang hakim di Dimasyq (Damaskus) pada masa kekhalifahan Al Walid bin ‘Abdil Malik. Dia diberi nama kunyah Abu ‘Imraan, dan dia termasuk salah seorang Tabi’in. Dia wafat di Dimasyq tahun 118 H. Dua orang yang meriwayatkan Qira’at darinya adalah: Hisyamdan Ibnu Dzakwan. Adapun Hisyam dia adalah Hisyam bin ‘Ammaar bin Nashir Al Qaadhi Ad Dimasyqi rahimahullah diberi nama kunyah Abul Walid, dan dia wafat di sana pada tahun 240 H.
Sedangkan Ibnu Dzakwan dia adalah ‘Abdullah bin Ahmad bin Basyir bin Zakwan Al Qurasi Ad Dimasyqi rahimahullah, dan diberi nama kunyah Abu ‘Amr. Dia lahir tahun 173 dan wafat di Dimasyq (Damaskus) tahun 242 H.

Kelima: ‘Ashim Al Kuufi
Dia adalah ‘Ashim bin Abi An Najuud, ada yang menamainya Ibnu Bahdalah, Abu Bakr dan dia adalah salah seorang Tabi’in. Wafat di Kufah tahun 128 H. Dua orang yang meriwayatkan Qira’at darinya adalah: Syu’bah dan Hafsh. Adapun Syu’bah dia adalah Abu Bakr bin Syu’bah bin ‘Abbas bin Salim Al Kuufiyrahimahullah, wafat di Kufah pada tahun 193 H.
Sedangkan Hafsh dia adalah Hafsh Sulaiman bin Al Mughirah Al Bazzaz Al Kuufiyrahimahullah, diberi nama kunyah Abu ‘Amr, dan dia adalah orang yang tsiqah (kredibel). Ibnu Ma’in rahimahullah berkata:”Dia lebih menguasai qira’at dibandingkan dengan Abu Bakr”. Dia wafat tahun 180 H.

Keenam: Hamzah Al Kuufi
Dia adalah Hamzah bin Habib bin ‘Imarah az-Zayyat Al Faradhi at-Taimiy, diberi nama kunyah Abu ‘Imarah. Dia wafat di Bahlawan pada masa kekhilafahan Abu Ja’far Al Manshur tahun 156 H. Dua orang yang meriwayatkan Qira’at darinya adalah: Khalaf dan Khalad. Adapun Khalaf dia adalah Khalaf bin Hisyam Al Bazzaz rahimahullah, diberi nama kunyah Abu Muhammad, wafat di Baghdad pada tahun 229 H.
Sedangkan Khallad dia adalah Khallad bin Khalid ash-Shairafi Al Kuufi rahimahullah, diberi nama kunyah Abu ‘Isa, dan wafat di sana tahun 220 H.

Ketujuh: Al Kisaa’i Al Kuufi
Dia adalah ‘Ali bin Hamzah, Imam ahli Nahwu (tata bahasa Arab) kalangan Kufiyun, diberi nama kunyah Abul Hasan. Dinamakan Al Kissaa’i karena dia ihram memakai Kisaa’ (kain penutup Ka’bah). Dia wafat di Ranbawaih salah satu daerah di perkampungan ar-Ray, ketika hendak menuju ke Khurasan bersama ar-Rasyid tahun 189 H. Dua orang yang meriwayatkan Qira’at darinya adalah:Abul Harits dan Hafsh Ad Duuriy. Adapun Abul Harits dia adalah Al Laits bin Khalid Al Baghdadi rahimahullah, wafat pada tahun 240 H.
Sedangkan Hafsh Ad Duuri dia adalah perawi (yang meriwayatkan Qira’at) dari Abi ‘Amr dan telah berlalu penjelasannya.

Adapun tiga imam Qira’at sebagai pelengkap (yang menggenapkan) Qira’at sepuluh adalah:

Kedelapan: Abu Ja’far Al Madaniy
Dia adalah Yazid bin Al Qa’qa’, wafat di Madinah pada tahun 128, dan ada yang mengatakan tahun 132 H. Dua orang yang meriwayatkan Qira’at darinya adalah:Wardan dan Ibnu Jammaaz. Adapun Wardan dia adalah Abul Harits ‘Isa bin Wardan Al Madanirahimahullah, wafat di Madinah sekitar tahun 160 H.
Sedangkan Ibnu Jammaaz dia adalah Abu ar-Rabi’ Sulaiman bin Muslim bin Jammaaz Al Madaniy, wafat di sana (Madinah) tidak lama setelah tahun 170 H.

Kesembilan: Ya’qub Al Bashriy
Dia adalah Abu Muhammad Ya’qub bin Ishaq bin Zaid Al Hadrami, wafat di Bashrah pada tahun 205 H, dan ada yang mengatakan tahun 185. Dua orang yang meriwayatkan Qira’at darinya adalah:Ruwais dan Rauh. Adapun Ruwais dia adalah Abul ‘Abdillah Muhammad bin Al Mutawakkil Al Lu’lu Al Bashri rahimahullah, dan Ruwais adalah julukannya. Dia wafat di Bashrah pada tahun 238 H.
Sedangkan Rauh dia adalah Abul Hasan Rauh bin ‘Abdil Mu’min Al Bashri An Nahwiy, wafat tahun 234 H atau 235 H.

Kesepuluh: Khalaf
Dia adalah Abu Muhammad Khalaf bin Hisyam bin Tsa’lab Al Bazzaar Al Baghdadiy, wafat tahun 229 H, dan ada yang mengatakan bahwa tahun kematiannya tidak diketahui. Dua orang yang meriwayatkan Qira’at darinya adalah:  Ishaq dan Idris. Adapun Ishaq dia adalah Abu Ya’qub Ishaq bin Ibrahim bin’Utsman Al Warraq Al Marwazi Al Baghdadiy, wafat pada tahun 286 H.
Sedangkan Idris dia adalah Abul Hasan Idris bin ‘Abdil Karim Al Baghdadi Al Haddaad. Dia wafat pada hari ‘Idul Adha tahun 292 H.

Dan sebagian mereka (para Ulama) menambahkan empat Qira’at lagi di samping kesepuluh Qira’at di atas, yaitu:
  • Pertama: Qira’at Al Hasan Al Bashriy, mantan budak kaum Anshar, salah seorang Tabi’in senior yang terkenal dengan kezuhudannya. Dia wafat tahun 110 H.
  • Kedua: Qira’at Muhammad bin ‘Abdirrahman yang dikenal dengan nama Ibnu Muhaishin wafat tahun 123 H. Dan dia adalah salah satu guru dari Abi ‘Amr.
  • Ketiga: Qira’at Yahya bin Al Mubarak Al Yazidi An Nahwiy, dari Baghdad, dan ia mengambil (belajar Qira’at) dari Abi ‘Amr dan Hamzah. Ia adalah salah satu guru dari Ad Duuri dan As Suusiy. Ia wafat tahun 202 H.
  • Keempat: Qira’at Abil Farj Muhammad bin Ahmad Asy Syanbuudzi wafat tahun 388 H.


Urgensi Pengetahuan dan Pengaruh Terhadap Istimbath Hukum

Adanya perbedaan Qira’at menimbulkan beberapa pengaruh baik terhadap lafal, rasm, dan juga penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.  Mengetahui tentang perbedaan qira’at dan pengaruhnya sangatlah penting dalam hal pengambilan (Istinbath) hukum, karena: a) dapat menguatkan ketentuan-ketentuan hukum yang telah disepakati para ulama; b) dapat mentarjih hukum yang diperselisihkan para ulama; c) dapat menggabungkan dua ketentuan hukum yang berbeda; d) dapat menunjukkan dua ketentuan hukum yang berbeda dalam kondisi berbeda pula; e) dapat memberikan penjelasan terhadap suatu kata di dalam al-Qur’an yang mungkin sulit dipahami maknanya.

Pengertian ASBABUN NUZUL : Sebab Turunnya Al-qur'an



ULUMUL QUR'AN : ASBABUN NUZUL

A.   PENGERTIAN

Asbabun Nuzul  didefinisikan “sebagai suatu hal atau sebab yang karenanya Al-Qur’an diturunkan untuk menerangkan status hukumnya, pada masa hal itu terjadi, baik berupa peristiwa maupun pertanyaan”, asbabun nuzul membahas kasus-kasus yang menjadi turunnya beberapa ayat Al-Qur’an, macam-macamnya, sight (redaksi-redaksinya), tarjih riwayat-riwayatnya dan faedah dalam mempelajarinya.

Ungkapan asbab an-nuzul terdiri dari dua kata, yaitu asbab dan an-nuzul.
maka kata asbab berarti sebab-sebab atau beberapa sebab atau beberapa latar belakang. Sedangkan an-nuzul berarti turun.

Menurut Az-Zarqani, asbab an-nuzul adalah peristiwa yang terjadi sebab turunnya suatu ayat atau beberapa ayat, di mana ayat tersebut bercerita atau menjelaskan hukum mengenai peristiwa tersebut pada waktu terjadinya. Atau suatu pertanyaan yang ditujukan kepada nabi, di mana pertanyaan itu menjadi sebab turunnya suatu ayat sebagai jawaban atas pertanyaan itu.

Maka bentuk-bentuk peristiwa yang melatar belakangi turunnya Al Qur’an itu sangat beragam, diantaranya berupa konflik sosial seperti ketegangan anatara suku aus dan suku khazraj, kesalahan besar seperti kasus seorang sahabat yang mengimani shalat dalam keadaan mabuk, dan pertanyaan pertannyaan yang diajukan para sahabat kepada Nabi, baik berkaitan dengan sesuatu yang telah lewat sedang atau yang akan terjadi.

Persoalan tentang apakah semua ayat Al Qur’an diturunkan berdasarkan Asbab An-Nuzul ternyata telah menjadi bahan kntroversi dikalangan para ulama. Sebagian ulama berpendapat bahwa tidak semua ayat Al Qur’an diturunkan dengan asbabun nuzul, sehingga diturunkan tanpa ada yang melatar belakanginya (ibtida’) dan ada pula Al-Qur’an yang diturunkan dengan dilatarbelakangi oleh sesuatu peristiwa (ghairu ibtida’).
Maka turunnya Al-Qur'an terbagi kepada dua bagian: Pertama diturunkan tanpa sebab atau pertanyaan sebelumnya. Kedua, diturunkan setelah adanya kasus (sebab) atau pertanyaan. Adapun yang pertama ada yang menyebutkan sebagai permulaan.

     B.   URGENSI DAN FUNGSI

Mengingat betapa pentingnya “Asbabun Nuzul”, maka bisa kita katakan bahwa sebagian ayat tidak mungkin bisa diketahui makna-makna atau diambil hukum darinya, sebelum mengetahui secara pasti tentang asbabun nuzul-nya

Asbab al-Nuzul merupakan salah satu bagian terpenting dalam ulum al-Qur’an dan ilmu tafsir,karena ia bisa membantu mufassir dalam mengungkap makna yang sebenarnya , hikmah di balik penetapan sebuah hukum serta upaya memahami pesan al-Qur’an secara komprehensif dan proporsional.


Adapun Fungsi Asbabun Nuzul  dalam memahami Al-Qur’an, antara lain :

1.  Penegasan bahwa al-Qur’an benar-benar dari Allah Swt. bukan buatan manusia.
2. Penegasan bahwa Allah benar-benar memberikan perhatian penuh pada Rasulullah SAW. dalam menjalankan misi risalahnya.
3. Penegasan bahwa Allah selalu bersama para hambanya (khususnya Muhammad SAW. dengan menghilangkan duka cita mereka.
4. Sarana memahami ayat secara tepat, tepat sesuai peruntukannya, walau harus diketahui bahwa bukan berati ayat tersebut tidak dijadikan dasar untuk perkara yang lain, yang punya persoalan yang sama.
5. Mengatasi keraguan pada ayat yang diduga mengandung pengertian umum.
6. Mengkhususkan hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an sesuai dengan sebabnya.
7. Mengidentifikasikan pelaku yang menyebabkan turunnya ayat ayat Al-Qur’an.
8. Memudahkan untuk menghafal dan memahami ayat serta untuk memantapkan wahyu di hati orang yang mendengarnya.
9. Mengetahui makna serta rahasia-rahasia yang terkandung dalam ayat Al-Qur’an.
10. Seorang dapat menentukan apakah ayat mengandung pesan khusus atau umum dan dalam  keadaan bagaimana ayat itu mesti diterapkan.
11. Terakhir bahwa harus dipahami juga bahwa tidak semua ayat dalam Al Qur’an ditemukan asbabun nuzulnya.



    C.   CARA MENGETAHUI RIWAYAT

Asbabun Nuzul tidak bisa diketahui semata-mata dengan akal (rasio), tidak lain mengetahuinya harus berdasarkan riwayat yang shahih dan didengar langsung dari orang-orang yang mengetahui turunnya Al-Qur'an, atau dari orang-orang yang memahami Asbabun Nuzul, lalu mereka menelitinya dengan cermat, baik dari kalangan sahabat, tabi'in atau lainnya. dengan catatan pengetahuan mereka diperoleh dari ulama-ulama yang dapat dipercaya.  

Keabsahan asbab an-nuzul melalui riwayat yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi tidak semua riwayat shahih. Riwayat yang shahih adalah riwayat yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang telah ditetapkan para ahli hadits. Lebih spesifik lagi ialah riwayat dari orang yang terlibat dan mengalami peristiwa pada saat wahyu diturunkan. Riwayat dari tabi’in yang tidak merujuk kepada Rasulullah dan para sahabat dianggap dhaif (lemah).

Oleh karena itu,tidak boleh tidak ada jalan lain untuk mengetahuinya selain berdasarkan periwayatan (pentransmisian) yang benar (Naql As-Shalih) dari orang-orang yang melihat dan mendengar langsung turunnya ayat Al-Qur’an.

Al-Wahidi berkata : “Tidak boleh memperkatakan tentang sebab-sebab turun al-Qur’an melainkan dengan dasar riwayat dan mendengar dari orang-orang yang menyaksikan ayat ituditurunkan dengan mengetahui sebab-sebab serta membahas pengertiannya”.

Biasanya para ulama menggunakan lafadz-lafadz yang tegas dalam penyampaiannya, seperti: “sebab turun ayat ini begini”, atau dikatakan dibelakang suatu riwayat “maka turunlah ayat ini”.

 Contoh : “beberapa orang dari golongan Bani Tamim mengolok-olok Bilal, maka turunlah ayat:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang di tertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pulasekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengangelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruksesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al Hujrat (49) : 11).

Jangan mencela dirimu sendiri Maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin seperti satu tubuh. Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya.

Ada susunan atau bentuk redaksi dalam pengungkapan riwayat “asbab al-nuzul”, yang secara garis besar di bagi tiga macam, yaitu :
1.      Bentuk susunan redaksi yang di sepakati ulama menunjukkan kepada “asbab al-nuzul” ( al-muttafaq ‘ala al-i’tidad bihi ).
Bentuk ini mengandung tiga unsur utama, yaitu : pertama, sahabat yang mengemukakan riwayat harus menyebutkan suatu kisah atau peristiwa yang menyebabkan turunnya ayat; sahabat yang mengemukakan riwayat harus dengan redaksi yang jelas ( bi al-lafzhi al-sharih ) menunjukkan kepada pengertian “turunnya ayat”; dan ketiga, sahabat yang mengemukakan riwayat harus mengemukakan riwayatnya dengan pola bhasa yang pasti.
2.      Bentuk susunan redaksi yang masih diperselisihkan di kalangan ulama untuk menunjukkan kepada “asbab al-nuzul” ( al-mukhtalaf fi al-i’tidad bihi wa ‘adamihi ), karena redaksi pengungkapannya masih bersifat muhtamilah (mengandung kemungkinan).
Dalam redaksi ini terdapat perbedaan pandangan ulama dalam memahaminya, di antaranya adalah :

a) Imam Al-Bukhari dan Ibn Al-Shalah memandang redaksi tersebut merupakan selaku riwayat yang menunjukkan kepada “asbab al-nuzul” suatu ayat.

b) Ibnu Taimiyah memandang redaksi tersebut mengandung dua kemungkinan : pertama, sebagai riwayat yang menunjukkan kepada sebab turunnya ayat; kedua, sebagai keterangan tentang maksud ayat dan bukan sebagai riwayat tentang sebab turunnya.

c) Al-Qasimi menilai redaksi tersebut selaku pernyataan yang diungkapkan oleh para sahabat dan tabi’in yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang apa yang dibenarkan oleh ayat.
3. Bentuk susunan redaksi yang disepakati oleh ulama tidak menunjukkan kepada “asbab al-nuzul” (al-muttafaq ‘ala ‘adami al-I’tidad bihi).


D. MACAM-MACAM ASBABUN NUZUL

Macam-macam Asbabun Nuzul ada 2 macam yaitu :

1. Dalam bentuk peristiwa 
Asbabun Nuzul dalam bentuk peristiwa ada 3 yaitu:
1) Peristiwa berupa pertengkaran, seperti perselisihan antara segolongan dari suku Aus dan segolongan dari suku Khazraj. Peristiwa itu timbul dari intik-intik yang ditiupkan orang-orang yahudi sehingga mereka bertetiak-teriak “senjata-senjata”. Peristiwa tersebut menyebabkan turunnya ayat Al-Qur’an surah ‘Ali-‘Imran ayat 100 :
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orng yang diberi Al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman".(QS.Ali'Imran: 100)
2) Peristiwa berupa kesalahan yang serius, seperti: peristiwa seseorang yang mengimami sholat sedang dalam keadaan mabuk sehingga salah membaca surah Al-Kafirun. dari peristiwa tersebut maka menyebabkan turunnya ayat Al-Qur’an surah An-Nisa’ ayat 43:
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, janganlahkamu menghampiri sholat sedang kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan...." (QS.An-nisa’: 43)  
3) Peristiwa berupa cita-cita dan keinginan, seperti persesuaian-persesuaian Umar Bin Khattab dengan ketentuan ayat Al-Qur'an. Seperti beberapa harapan umar bin khatab yang dikemukakan kepada Nabi Muhammad SAW. Kemudian turun ayat yang dikandungnya sesuai dengan harapan-harapan Umar tersebut. Seperti yang diriwayatkan oleh Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Umar berkata : "Aku sepakat dengan Tuhanku dalam 3 hal: Aku katakan kepada Rasul, bagaimana sekiranya kalau kita jadikan makam Ibrahim sebagai tempat sholat". Maka turunlah ayat Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 125: Artinya: "Dan jadikanlah maqam Ibrahim sebagai tempat sholat".(QS.Al-Baqarah:125)

2. Dalam Bentuk Pertanyaan
Asbabun Nuzul dalam bentuk pertanyaan ada 3 yaitu:
1) Pertanyaan yang berhubungan dengan sesuatu yang telah berlalu, seperti pertanyaan tentang Zulkarnain, maka turunlah ayat Al-Qur’an surah Al-Kahfi ayat 82:
Artinya: "Mereka akan bertanya kepadamu Muhammad  tentang Zulkarnain, Katakanlah :"Aku akan bacakan cerita tentangnya".(QS. Al-Kahfi:82)
2) Pertanyaan yang berhubungan dengan sesuatu yang sedang berlangsung pada saat itu, seperti pertanyaan tentang ruh maka turunlah ayat al-Qur’an surah Al-Isra' ayat 85: 
Artinya: "Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh, Katakanlah "Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberikan pengetahuan melainkan sedikit". (QS. Al-Isra’:85)
3) Pertanyaan yang berhubungan dengan masa yang akan datang, seperti pertanyaan tentang hari kiamat maka turunlah ayat Al-Qur’an surah An-Nazi'aat ayat 42: 
Artinya: "Mereka bertanya tentang hari kiamat, bila terjadinya..."(QS. An-Nazi’at:42).


E. KAIDAH

Dalam memahami kaidah disini dibagi menjadi dua yaitu :
1.      Kaidah اْلعِبْرَةُ بِعُمُوْمِ اللَّفْظِ لَا بِخُصُوْصِ السَّبَبِ
Yang berarti : “ungkapan itu didasarkan pada keumuman teksnya, bukan didasarkan atas kekhususan penyebabnya”.
Pengertiannya adalah jawaban lebih umum dari pertanyaan atau sebab–nya. Dan sebab lebih khusus dari pada lafadz jawabnya. Ini secara logis mungkin terjadi, dan kenyataannya juga benar-benar terjadi. Karena bentuk seperti ini tidak mengandung kekurangan, justru keumuman lafadz dengan kekhususan sebabnya akan menyampaikan kepada tujuan secara lebih sempurna dan efektif.

2.      Kaidah kedua menyatakan sebaliknya :اْلعِبْرَةُ بِخُصُوْصِ السَّبَبِ لَا بِعُ اللَّفْظِ
(yang menjadi patokan adalah sebab khusus, bukan keumuman lafal).
Kaidah ini berkaitan dengan permasalahan apakah ayat yang diturunkan Allah SWT berdasarkan sebab khusus yang harus dipahami sesuai dengan lafal keumuman ayat tersebut atau hanya terbatas pada sebab khusus yang melatar belakangi turunnya ayat itu. Dalam masalah tersebut, terdapat perbedaan pendapat dikalangan mufasir dan ahli ushul fiqh, kaidah yang dipakai adalah kaidah pertama, yaitu memahami ayat sesuai dengan keumuman lafalnya, bukan karena sebab khususnya.


F. IBROH 

Dan jawabnya bahwa menurut pendapat yang mafhum dan shahih, sesunguhnya Ibroh itu di ambil dengan keungulan lafadz maka hukum itu berlaku selain sebab yang turun di sebabkan kejadian tersebut. 

Imam Asyuti berkata dengan diantara dalil-dalil yang menguatkan bahwa ibroh (pelajaran) ini diambil dari keumuman lafadz, perbuatan para sahabat yang banyak berdalil dengan ayat-ayat yang umum yang turun karena sebab khusus pada setiap peristiwa atau kejadian yang berlangsung di antara mereka.

Demikian kurang lebihnya tulisan mengenai pengertian, dan pembahasan mengenai Asbabun Nuzul, semoga bermanfaat.

Sukirman, Asep. 4 mei 2019. Ulumul Qur'an : Asbabun Nuzul